Cari

Tuesday, August 15

Efek Hiatus dan Instagram

Setelah hiatus beberapa bulan....

Jika awal membuat blog ini bertujuan untuk menulis dan berbagi pengalaman, maka selanjutnya akan mengalami kebosanan-kebosanan. Entah itu berhenti menulis, atau merasa insecure, atau bahkan mencari kesibukan lain.

Kesibukan lain, namanya fotografi pun ditekuni. Hingga kini, menjadi fotografer sungguh mudah, tapi pakai tanda petik ya. Coba deh browsing sebentar aja, ada banyak wadah untuk menampung karya dan berkumpul dengan sesama fotografer. Satu di antara yang tenar adalah Instagram, sisanya adalah khusus bagi fotografer yang serius dan benar-benar profesional.

Awal masuk kuliah tahun 2013 lalu saya mendaftar di Instagram. Cukup menarik. Aplikasi foto yang dahulunya dirancang untuk pengguna iOS, kemudian mencari pasar pengguna Android. Ya, di smartphone Android-lah saya menggunakan Instagram. Tentunya, harus edit dan convert foto dari kamera lalu ke smartphone yang bersistem operasi user-friendly itu. Dari nol sampai pro, saya istiqomah menggunakan aplikasi cetar itu. Sampai sekarang.

Tapi sekarang, hm, beberapa hari ini ada yang berbeda. Mulai dari memberatkan memori pengguna. Mungkin, si pengguna harus upgrade OS dan smartphone supaya fitur-fitur aplikasi ini mendukung. Lalu, konten-konten dalam fitur pencarian benar-benar disrupt, mulai dari foto dengan konten positif sampai ke yang provokatif. Foto dan konten yang provokatif ini membuat saya gerah, dan merasa Instagram udah ga asik lagi, yang dulunya fokus untuk fotografer sekarang malah untuk yang abal-abal. Yah, sedih sih. You know lah, mas dan mbak pembaca bisa cek konten di fitur pencarian dalam akun masing-masing.

Beruntungnya, beberapa wadah untuk fotografer tetap eksis loh! Bisa dibilang, bersih dari konten provokatif yang bersifat opini parsial. Sebut saja:











Kreavi (wah ada fotografinya loh, serius, selain desain juga), 

dan masih banyak lagi! Atau, wadah yang sangat-sangat profesional seperti:

Dribble atau 



Niice.co pun juga benar-benar keren untuk unjuk karya. 

Di sanalah para kreator, khususnya fotografer berkumpul. Memang sih, tetap perlu juga media sosial seperti Instagram ini untuk promosi.

Sampai sekarang, saya terus berusaha mengurangi intensitas membuka Instagram. Bukan karena ingin merugikan pihak aplikasi itu, bukan. Tapi untuk meningkatkan fokus latihan dan berkarya. Bisa saja konsentrasi kreator, termasuk mbak dan mas pembaca, buyar karena membuka hal-hal lain. Misal, seharusnya karya sudah launched, malah postponed karena multitasks ini dan itu.

Kalau disimpulkan, semua media sosial, apapun itu, ternyata tergantung pengguna. Apakah mau mengendalikan, atau dikendalikan. Kalau mau ekstrim, report saja konten-konten yang membuat gerah atau menggelitik daya kritis pengguna. Asal objektif ya, hihi. Sebagai penutup, saya akan lanjut belajar nge-blog seperti waktu SMP lagi. Mengingat nge-blog juga melatih daya konsentrasi dan mengasah kemampuan menulis esai on the spot.

Tetap semangat! 

Sunday, January 15

Final Result is Not The End - Sebuah Tes Perguruan Tinggi

Mari bernostalgia!

Tulisan ini saya tulis ketika diterima di sebuah universitas swasta di Bandung. Saya memilih jurusan Teknik Informatika ketika mengikuti sebuah tes universitas tersebut di sekolah. Tidak disangka, ternyata saya lulus. Meskipun dalam hati, kurang sreg dengan jurusan ini. Mungkin karena tidak terlalu suka Kalkulus, Fisika, dan atau Elektronika sebagai mata kuliah sepanjang 4-6 tahun perkuliahan kelak. Tapi, inilah. Semoga, dengan link dari tulisan-tulisan Kak Riris bisa membantu teman-teman untuk tetap semangat mengejar mimpi di SBMPTN nanti.

Psst, kuota SBMPTN diperbanyak loh! Maksimalkan!

----

Membaca semua postingan Kak Riris, yang ditampilkan pula di beranda akun Twitter-nya. Membuatku tersenyum. Entah hati yang berkeping-keping ini, bisa berkumpul kembali. Entah ilmu ikhlas baru ku kuasai 0,000000000001% dari 17 setengah tahun ini.

Meskipun Teknik Informatika sempat membuatku bahagia dengan rayuan temanku -- yang mengatakan bahwa, cewek bisa jadi hacker. Tetapi juga PTN adalah pulau utama. Teknik Informatika adalah sekoci, mungkin jeritan nurani yang tak pernah kudengar. Aku tak tahu ini sebuah passion atau bukan. Tapi aku buta pemrograman. Aku tak tahu bagaimana memulai dan mengakhiri sebuah koding.

Karena yang kutahu hanyalah Kimia, Biologi, dan Bahasa.

Tak apa, aku menunggu setia pengumuman-pengumuman Ujian Mandiri itu. Aku setia, aku tak ingin menyalahkan Allah. Mungkin human error lebih banyak dan belajar bersyukur.

Dan, sebuah postingan dari Kak Riris berjudul "Bangkit dan Pilih Suksesmu". Semoga bermanfaat semuanya :) Marhaban Yaa Ramadhan, bulan puasa ini pasti akan penuh perjuangan! 

Saturday, January 14

Bagaimana Menulis Diary? - Repost Blog

Menulis buku harian, susah-susah gampang. Loh kenapa?

Menulis buku harian pada dasarnya menulis segala aktivitas, perasaan, dan kejadian yang kita lihat hari ini. Sebagian besar orang-orang menuliskan perasaan dan kejadian dalam buku harian untuk mengingat momen yang pernah dialami. Dalam buku diary, banyak tumpahan perasaan dan kata-kata, kadang juga bekas tetesan air mata yang mengering. Loh loh, hehe.

Lalu, bagaimana menulis buku harian yang mudah?

1. Beli buku harian
Boleh dari buku catatan, kumpulan kertas binder, buku catatan kecil, atau media menulis apapun yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain.

2. Catat!
Apapun, bisa perasaan, kejadian, pandangan hidup, pendapat, kritik, dan sebagainya. Bebas. Ini berguna untuk melatih kepekaan kamu di lingkungan sekitar. Juga, melatih menulis dengan berbahasa yang baik dan benar. Tapi, perlahan-lahan loh.

3. Buku harian mobile
Bukan berarti buku harian ditulis di gadget atau smartphone kamu ya. Maksudnya, bawa buku harian yang kecil atau mudah dibawa tadi kemanapun. Selipkan dalam saku kemeja, kantung celana, maupun ranselmu. Bisa juga loh ditulis dalam gadget atau smartphone. Tetapi, bukankah lebih menyenangkan menyeimbangkan otak dan tangan agar lebih sehat tanpa radiasi?

4. Baca buku
Baca buku berguna untuk menambah perbendaharaan kata. Misalnya, ketika kamu stuck atau kehilangan ide menulis, kamu tidak perlu panik menggunakan kata apa yang paling bisa mewakili isi hatimu. Tidak perlu membolak-balik kamus besar bahasa, kalau kamu sering membaca buku apapun.

5. Tetap menulis!
Menulislah selalu! Meskipun kamu sibuk, tetapi menulis buku harian dalam 100, 200, atau berapa katapun akan membuatmu terbiasa menulis efektif dengan bahasa kritis. Nantinya, akan berefek pada menulis esai.

6. Semangat!
Menulis banyak manfaatnya loh!



Tulisan ini di-posting ulang dari Between Girl and Woman. Yuk kunjungi! Jangan komentar dan follow yaa :)

Terima kasih :D