Sabtu, November 22

Pengabadi Momen Kamis Sore

Kebaikan mereka apa ya?

Apa ya? Susah sih menghitung kebaikan seseorang atau sekelompok orang. Karena, kebaikan sendiri pun memiliki tujuan dan niatan masing-masing. Lalu, cara memandang kebaikan pun juga berbeda-beda.

***

Perpaduan sempurna, seperti yang pernah di-posting beberapa hari yang lalu telah terjadi. Saya benar-benar turun ke jalan bersama BEM UI dan BEM SI, tapi nggak masuk lingkaran border wkwk. Jadi tukang foto yang tingkat kewaspadaannya sangat tinggi, takut dirampas oleh polisi, massa aksi yang "mabok" atau amarah tinggi bahkan intel menyamar mahasiswa. Masih nggak berani untuk berada di dalam lingkaran inti; lingkaran perempuan yang berbaris melingkar sambil memasang border serta dilindungi oleh laki-laki di lingkaran pelapis. Ya, sampai nggak seberani itu karena di tengah lingkaran lagi ada mobil bak yang di dalamnya terdapat 4 buah sound speaker.

Semua diabadikan dengan baik, saya menjadi pengabadi momen waktu itu. Saya memotret ekspresi wajah ketika orator mengatakan "Hati-hati, provokasi... Hati-hati, provokasi...." Bahkan yang saya dengar adalah "Kalau ada yang provokasi kita apain teman-teman? Kita patahin lehernya, setuju??" Semua mahasiswa yang menjadi border saat itu menjawab setuju sampai suara mereka membuatku merinding. Bagaimana jika aku menyusup ke dalam barisan dengan jaket kuning waktu itu? Benar-benar dipatahkan leherku -___-

Takut, sampai seseram itu.

Maka cukuplah aku menjadi pengabadi momen. Karena aku bahagia bisa melihat ekspresi serius mereka bahkan lingkaran luar berputar-putar seolah mengiringi nyanyian sang orator di atas mobil bak. Hingga ada pesona yang memancar dari wajah mereka, mengalihkan dunia *ceilah*

Baik? Aku melihat itu baik. Hanya menantang bapak presiden utama untuk keluar dari istana megahnya untuk berbicara langsung, mengobrol, atau hanya melihat dari jendela pun. Pasti nggak akan dibabak belur massa, tidak mungkin. Mereka hanya memanggil bersahabat dengan cara yang garang, karena saya dan teman-teman hanyalah butiran ciptaan Tuhan yang kebetulan bisa menikmati indahnya pendidikan tinggi seperti sekarang. Meskipun ada adik kelasku yang bercerita bahwa bapak wakil presiden sempat keluar dan entah, temanku tidak melanjutkan ceritanya.

Baiklah, cukuplah aku menjadi pendengar dan pengabadi momen. Suatu saat, pasti akan bergabung dalam lingkaran border beserta teman-teman perempuan lainnya dengan resiko terkena gas air mata atau menyusupnya polisi ke dalam barisan. Perempuan, benar-benar dilindungi oleh laki-laki meskipun tak semua saling mengenal.

***

Sang orator kerap kali mengatakan, harga minyak dunia turun. Di Asia Tenggara pun, Malaysia menurunkan harga bahan bakar minyak sekian sekian. Lantas, mengapa bapak presiden utama bersuara bahwa harga harus dinaikkan?

"Nggak punya duit, buat ngejalanin proker-prokernya" - kata temanku saat curhat kemarin sore.

Inilah yang membuat rombongan massa mahasiswa perempuan lari ke sebuah tempat yang aman, takut-takut massa mahasiswa laki-laki mengamuk dan ricuh. Kami melepaskan jaket almamater masing-masing agar terhindar dari kejaran agresif media. Lalu meminta Tuhan agar melindungi kami. Tapi, saya tetaplah mengabadikan momen-momen tersebut, dalam.....

Memori otak saya.

Sementara teman-teman Pandu Budaya, pastinya cowok lah ya, mereka tetap dalam barisan. Ada yang ditendang polisi T_T ada yang terkena water canon. Nggak tahu deh, gimana jadinya ketika lingkaran itu renggang, sama seperti ikatan teman-teman yang renggang karena sudah merasa pintar dan nyaman dalam tempurung :') Yang jelas, polisi saat itu suka yang ricuh-ricuh. Media pun begitu, karena itu akan menjadi bahan berita hangat, makin memojokkan kuning-kuning yang turun ke jalan bersama lainnya.


***

Penutup:

Bu Chusnul Mar'iyah, beliau seorang guru besar di FISIP UI mengatakan bahwa, seorang aktivis haruslah cerdas. Beliau juga pernah ikut aksi ketika reformasi. Mungkin itulah yang membuat beliau bahagia melakukan hal tersebut seumur hidup (masa remaja beliau) dan mengenal bahwa hidup bersama masyarakat.

Tapi, apakah ada yang menjadi pengabadi momen atau setidaknya, penulis yang menceritakan semua itu dengan detil dan membangkitkan daya khayal? Saya mah apa atuh, biarlah otak yang berhubungan langsung dengan hati tertumpah ke dalam tulisan.

Tak hanya itu, setiap raut wajah yang terpotret dalam kamera adalah bayangan indah yang mempesona, sampai-sampai tak lepas dari ingatan. Ingin foto tersebut bercerita sendiri, tapi apa daya. Foto-foto tersebut terlalu sensitif. Sama seperti ketika ada berita bahwa Ahmadinejad pernah ikut aksi saat menjadi mahasiswa dan tersebar luas di internet. Atau, aksi mahasiswa di Lapangan Merah (Tiananmen Square) di Beijing? Sama pula.

Terakhir. Entah, ada saatnya kebaikan itu relatif, kebaikan yang sesuai dengan kenyataan bahwa itu adalah baik. Hingga akhirnya seorang pemimpin terguling dari kekuasaannya, mungkin bisa dikatakan baik pula. Toh, mahasiswa juga berhak keluar dari zona nyamannya untuk bersuara. Yang penting, kebaikan tak menjadi standar ganda; hal baik jadi hal buruk, hal buruk jadi hal baik.

Semoga nggak ngawur :') 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.