Cari

Sunday, November 23

Interstellar-Misteri-Probabilitas

Akhirnya aku menemukan orang yang sama dengan kota yang sama, sama-sama membuatku trauma meskipun itu adalah tempat lahirku sendiri.

Tetap akan terus bertemu dengan orang-orang yang senang menulis, membaca, berdiskusi sampai teler pusing sendiri, konseptor, orator, fotografer, programmer, saintis, bahkan apa lah sebutannya. Akan tetap sama, tetap pada jalur yang telah kuteguhkan dalam hati ini.

Namun, yang membuatku kembali bernostalgia adalah masa genting seleksi penerimaan mahasiswa baru 2013, sangat genting. Ibarat, perintah komando untuk belajar keras dan multitasking bidang, IPA dan IPS. Barulah terasa, aku tidak terlalu berminat ke jurusan IPA meskipun menggebu keinginan untuk masuk jurusan teknik geologi, agronomi, bahkan teknik informatika. Nurani kecil berkata, sebelumnya telah berkata, aku ingin sastra Indonesia ataupun ilmu-ilmu tentang politik. Meskipun akhirnya aku nyasar di sastra Cina, yang berhubungan dengan suku Uighur di sebuah majalah Islam Sabili sejak kelas 6 SD lalu. Semua terjadi, seperti ruang waktu dalam film Interstellar.

Ah iya, barusan menangis kenapa ada teman yang harus berani pindah jurusan sementara aku tidak.

Akhirnya, aku menemukan orang yang sama. Kini aku menjadi kakak di dua alam, kuliah dan rumah. Semoga nggak nangis lagi, cengeng banget ah -_- Hanya terharu aja sebenernya, mengapa kuat sekali rasa ingin tahu yang tak pernah padam semenjak awal-awal masuk sekolah sampai sekarang.

Aku makin menghayati ajaran Albert Camus yang dijelaskan ala Bung James, aku memang bodoh dan sakit karena belajar untuk masuk perguruan tinggi negeri, ngototku (karena didesak juga oleh Kak Riris). Tapi, yang kupegang adalah ajaran Martin Bubber dan Gabriel Marcel:

"Aku ada karena ada kamu, kita saling berinteraksi dan aku melihatmu secara utuh, apapun keadaanmu. Makanya, aku ingin tetap hidup karena masih memiliki harapan dan kesetiaan, yang akhirnya akan memberontak dengan mengandalkan harapan dan kesetiaan (menerobos tembok monotonnya rutinitas)."

***

Jum'at lalu, kelas pengganti Eksistensialisme, aku menjawab pertanyaan Bung James.

"Camus mengatakan bahwa bunuh diri itu bodoh, lari dari kenyataan. Lantas, kenapa nih kita-kita masih pada pengen hidup?"
"Hope, Bung," sambil senyum (seperti biasa tiap di kelas beliau, karena sedang menyaring informasi).
"Jawabannya Marcel banget!"

:3

"Nikmati sakitnya terus-terusan belajar dan menatap huruf Han atau segala ilmu Cina. Segera selesaikan kuliah, barulah beraksi melanjutkan pendidikan yang diminati."

Sayangnya, aku jatuh dan terjerembab ke dalam segala organisasi, dengan alasan bertahan dan sekarang tak sengaja bertemu orang yang sama hobinya (lagi). Hidup benar-benar menyelami misteri yang penuh probabilitas (Marcel). Kalau Chairil Anwar mengatakan, "... aku ingin hidup seribu tahun lagi..." maka "aku ingin menyelesaikan kuliah prodi Cina dengan harmonis".

Sampai jumpa di 2,5 tahun lagi kawanku! ^0^

2 comments:

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.