Senin, Juni 30

Perempuan Melawan Arus

Sebenarnya, perempuan itu indah dan mempesona. Lama-kelamaan ia berubah menjadi seorang ibu yang lembut dan saling menyayangi. Ya, dibalik kelembutannya, tubuhnya pun memang dirancang kuat untuk menghadapi dunia luar yang ternyata kejam dan eksploitatif. Tapi, yuk lihat. Bagaimana masa muda seorang ibu tersebut di masa depan.

Awalnya, ia seorang gadis kecil yang mulai mekar dan wanginya merebak bila tak dilindungi. Perlahan, mulai terbentuk lekukan tubuh yang menunjukkan tanda-tanda baligh, lekukan sebagai seorang gadis, tonjolan, bahkan rambut yang tergerai lebih dari seorang model rambut. Mulailah ia dilirik oleh lelaki ketika ia berjalan sendirian. Ia, melindungi dirinya dengan baju kurung panjang dan kerudung paris tebal.

Ia melindungi dirinya, dari lirikan dan tatapan yang kadang melecehkan, meremehkan, atau sembarangan menikmati keindahan tubuhnya. Ya, lelaki memang begitu, pertama melihat tubuh lalu mendekatinya. Mengenal sifat hingga semuanya. Namun perempuan itu masih belum mendekati apalagi terbayang. Yang ada di pikirannya hanyalah sekolah, dan sekolah, sampai tak ada perempuan yang dianggap objek semata.

Kini, ia beranjak dewasa. 18 atau 19 tahun hidup dan mulai dilepas orang tua. Merantau jauh untuk kuliah. Sedikit berontak terhadap pemikiran-pemikiran Barat nan sekuler yang berkaca pada sejarah abad pertengahan; renaisans. Anggapan bahwa perempuan adalah sumber dosa, kotor, membuat gairah laki-laki bangkit dan terjadilah. Ya! Terjadilah! Ia tak setuju amat dengan semua itu.

Dunia nyata memantulkan bayangan pada matanya. Perempuan masih dijadikan objek. Sekali lagi, lekuk tubuh indah dan sempurna, kelembutan, kasih sayang, bahkan sikap pasrah perempuan dimanfaatkan sembarangan. Ia menganggap, perenpuan masih menjadi korban eksploitasi dan kekerasan. Sampai-sampai, diperlukan khusus gerbong kereta perempuan. Gadis yang beranjak dewasa itu, yang telah membaca sejarah gelapnya dunia Barat dan terangnya sejarah keemasan Islam, mulai membandingkan. Ingin rasanya ia kembali pada masa lalu kemenangan, dimana perempuan dihargai dan tinggi derajatnya. Sampai-sampai pada zaman Rasulullah SAW, perempuan boleh memimpin perang dan ikut berperang.

Namun tidak pada zaman globalisasi. Semua berubah ketika Khalifah Turki Utsmaini runtuh oleh kawan sebangsa sendiri. Berakhirlah semua, Masuklah semua.

Dan efeknya dirasakan oleh gadis beranjak dewasa tersebut. Perempuan kini seolah-olah menuntut kesetaraan gender. Padahal ia sendiri akan tersiksa dan lelah mengejar semua itu. Do'a ibu dari anaknya atau sebaliknya? Entahlah. Mungkin mana ada partai-partai haus kekuasaan memperjuangkan hak perempuan; cuti hamil, cuti haid, bekerja kurang dari 8 jam, ruang menyusui, kendaraan umum khusus perempuan, sekolah menjahit, menyulam, memasak, dan kewirausahaan, pendidikan bagi seluruh perempuan. Bahkan, pendidikan Islam dan sejarah perjuangan perempuan? Entahlah, entah. Mana ada penguasa yang mau melanggengkan undang-undang anti cabul? Hahaha. Laki-laki :)

Kini gadis beranjak dewasa alias perempuan yang sedang bersekolah tersebut masih menyulam mimpi dan ingin mencapainya. Ingin menjadi peradaban di masa depan. Perempuan itu, berjalan ringkih sambil melawan arus. Ia adalah perempuan Melayu yang hidupnya selalu bersahabat dengan Islam.

Perempuan tersebut, akan terus bergerak. 

4 komentar:

  1. Ungkapan kegelisahan terhadap apa kah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sistem yang mengatur perempuan zaman sekarang

      Hapus
  2. Muslimah sejati adalah seorang muslimah yang tetap berpegang teguh pada al-Quran dan as-sunnah walaupun berbagai gempuran paham asing menyerang dan ajaran Islam belum termanifestasikan dengan baik dalam masyarakat. Semoga menjadi muslimah sejati :)

    luqman-online.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru perempuan seperti itu yang jarang ditemukan dan jarang dicari. kalaupun ada, paling pada "orang-orang itu aja".

      selama dalam pikiran perempuan tersebut berisi duniawi dan materi, nggak bakal kepikiran jadi muslimah sejati. pun terpikir, mereka menyayangkan pendidikan yang mereka tempuh amat lama dan membuang biaya serta lain-lainnya.

      suatu saat, akan ada perempuan-perempuan yang nggak hanya muslimah, tapi kuat di pemerintahan, keilmuan, politik, dan sains.

      Hapus

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.