Senin, Mei 19

Belum Siap? Yakin, hah?

Teh hijau memang pahit, tapi menyenangkan bila terus dinikmati. 

Mungkin seperti masa lalu yang dimiliki seseorang. Pahitnya masa  lalu membuat dia selalu bergerak dan tak ingin diam. Seolah-olah melupakan masa lalunya dan hatinya yang sakit. 

Kini ia meringkuk bingung. Ia berhadapan dengan orang tersebut, yang pernah menyakiti hatinya. Apa daya, hanya tulisan dan menarikan jari-jari di atas keyboard untuk membuang sampah pikiran semua itu. Memang galau. Logika selalu menang daripada perasaan. Tapi, ia ingin logika dan hati beriringan, bahkan memenangkan hati daripada logika, agar logika menjadi pembelajaran dan kausalitas yang sudah dialami olehnya. Ya, iya meringkuk bingung. Lagi. Sama seperti 4 bulan yang lalu.

Kini ia berhadapan dengan seabrek kegiatan, hingga ia sakit. Darah rendah membuatnya malas berpikir keras mengenai pergerakan politik nasional dan kampus, atau kajian strategis yang sering dibahas dalam lingkaran ketika senja mulai menyambut dirinya. Di setiap lesehan, di setiap waktu. Meski ia terus menggurat pensilnya, menulis ratusan atau ribuan karakter Han. Memasang headset, mendengar rekaman untuk dihapal. Kurang apa lagi ia?

Mengapa ia tidak siap? Liburan sebentar lagi tiba. Ia tinggal belajar hal-hal baru, programming, menulis, berlari kesana kemari mengejar bola basket, memutar komplek perumahan sejauh 3 km dengan sepeda bututnya. Kurang apa lagi? Kurang siap apa lagi? Kurang siapkah hatinya untuk selalu bergerak tanpa memikirkan apapun karena umur. UMUR!

Mengapa pula orang yang pernah bersama dengannya belum siap akan hal-hal yang berkaitan dengan hati ataupun cinta? Cinta tidak nyata? Cinta abstrak dan absurd? Cinta mengganggu... di setiap kegiatan? Cinta hanya berbatas antara kisah kasih laki-laki dan perempuan? Lalu cinta itu apa? 

Ia dan orang tersebut adalah salah satu kisah dari segala kisah. Mereka yang tanggung umurnya, ngotot dengan idealisme masing-masing. Kemudian berbentur dan bertemu dalam jaringan dunia maya. Bercerita bahwa, "belum siap". 

Lantas, mengapa orang tersebut datang dan memainkan hati perempuan itu? 

Dan mengapa perempuan harus menanggapinya dengan penuh suka cita?

Salah. Bisa dibilang. Orang yang melihat dari sisi lain, tidak salah. Atau, narator dalam tulisan ini juga tidak tahu siapa yang salah? Cinta tidak sesempit ini men. Tapi bisa berbuah petaka ketika janji-janji datang seperti calon presiden yang bergerak memasuki kampus-kampus. 

Mana ada reformasi cinta? Bohong. Haha. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.