Cari

Tuesday, May 27

Hai, Mahasiswa Baru (Lolos SNMPTN) :)

Dan pada akhirnya, hari ini, Allah masih Maha Baik dan Maha Mendengar. Apa yang adik-adik kelasku ucapkan dan rapalkan ketika setiap ibadah 5 waktu mereka, untuk mencapai satu keinginan mereka.

Itu membuatku nostalgia setahun yang lalu. Bahkan sampai mengorbankan blog ini, rela tidak posting. Pasti kalo udah nostalgia, rasanya akan ingin balik ke masa yang penuh perjuangan masuk PTN atau tidak ingin mengulangnya, cukup sekali seumur hidup saja setelah dimaknai setahun ini. Banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu, tetapi (dan semoga) tidak terulang di masa ini. Banyak sekali. Sampai saya duduk di meja belajar ini dengan utang-utang tugas dan ancaman UAS. Hehe :))

Nostalgia setahun yang lalu, terulang kembalil; SNMPTN. Lalu akan terulang lagi; SBMPTN, sampai saya benar-benar diterima di Telkom Bandung, UIN Jakarta dan UI. Antara, malu dan benar-benar merasa bersalah. Mengapa saya harus bernostalgia dengan hal yang sama, yang ada sangkut-pautnya dengan minat seseorang serta keinginan tak tercapai. Ada rasa salah ingin ikut SBMPTN, tapi tidak tega karena mengambil jatah orang. Saya juga sudah terjerat arus betapa keras dan nyamannya kehidupan kampus, membuat saya ditampar. Bahwa saya malu kepada adik kelas yang diterima atau belum diterima di SNMPTN. MALU. Malu, mengapa susah payah berteori dan penerapan tentang bersyukur? ya, BERSYUKUR!

Ancaman UAS dan utang tugas masih menghantui saya sampai sekarang. Beruntung saya punya rasa muak terhadap tumpukan pikiran yang tak sempat ditumpahkan ke tulisan, sehingga ada saja "ngeles" buat nulis. Saya ingin sehat, tidak ingin terbebani oleh mereka-mereka itu; selalu ada sampai tiba waktu wisuda *ciee.

Kini berasa tua, mulai ada panggilan "Kak" ketika penyambutan mahasiswa baru. Entah menjadi mentor, panitia, ataupun kakak kelas yang main-main ke sekolah bersama teman seangkatannya. Ya, tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Disini, aku berharap, mereka yang mahasiswa baru (masuk SNMPTN) itu punya pola pikir bebas dan memegang aturan teguh supaya nggak kebablasan.

Semangat ya adik-adik; yang akan jadi teman dan sahabat nanti! :D 

Monday, May 19

Belum Siap? Yakin, hah?

Teh hijau memang pahit, tapi menyenangkan bila terus dinikmati. 

Mungkin seperti masa lalu yang dimiliki seseorang. Pahitnya masa  lalu membuat dia selalu bergerak dan tak ingin diam. Seolah-olah melupakan masa lalunya dan hatinya yang sakit. 

Kini ia meringkuk bingung. Ia berhadapan dengan orang tersebut, yang pernah menyakiti hatinya. Apa daya, hanya tulisan dan menarikan jari-jari di atas keyboard untuk membuang sampah pikiran semua itu. Memang galau. Logika selalu menang daripada perasaan. Tapi, ia ingin logika dan hati beriringan, bahkan memenangkan hati daripada logika, agar logika menjadi pembelajaran dan kausalitas yang sudah dialami olehnya. Ya, iya meringkuk bingung. Lagi. Sama seperti 4 bulan yang lalu.

Kini ia berhadapan dengan seabrek kegiatan, hingga ia sakit. Darah rendah membuatnya malas berpikir keras mengenai pergerakan politik nasional dan kampus, atau kajian strategis yang sering dibahas dalam lingkaran ketika senja mulai menyambut dirinya. Di setiap lesehan, di setiap waktu. Meski ia terus menggurat pensilnya, menulis ratusan atau ribuan karakter Han. Memasang headset, mendengar rekaman untuk dihapal. Kurang apa lagi ia?

Mengapa ia tidak siap? Liburan sebentar lagi tiba. Ia tinggal belajar hal-hal baru, programming, menulis, berlari kesana kemari mengejar bola basket, memutar komplek perumahan sejauh 3 km dengan sepeda bututnya. Kurang apa lagi? Kurang siap apa lagi? Kurang siapkah hatinya untuk selalu bergerak tanpa memikirkan apapun karena umur. UMUR!

Mengapa pula orang yang pernah bersama dengannya belum siap akan hal-hal yang berkaitan dengan hati ataupun cinta? Cinta tidak nyata? Cinta abstrak dan absurd? Cinta mengganggu... di setiap kegiatan? Cinta hanya berbatas antara kisah kasih laki-laki dan perempuan? Lalu cinta itu apa? 

Ia dan orang tersebut adalah salah satu kisah dari segala kisah. Mereka yang tanggung umurnya, ngotot dengan idealisme masing-masing. Kemudian berbentur dan bertemu dalam jaringan dunia maya. Bercerita bahwa, "belum siap". 

Lantas, mengapa orang tersebut datang dan memainkan hati perempuan itu? 

Dan mengapa perempuan harus menanggapinya dengan penuh suka cita?

Salah. Bisa dibilang. Orang yang melihat dari sisi lain, tidak salah. Atau, narator dalam tulisan ini juga tidak tahu siapa yang salah? Cinta tidak sesempit ini men. Tapi bisa berbuah petaka ketika janji-janji datang seperti calon presiden yang bergerak memasuki kampus-kampus. 

Mana ada reformasi cinta? Bohong. Haha. 

Saturday, May 10

Surat untuk Mahkota

Ih!

Kalaulah siang ini tidak mencekam hati dan pikiran kita, mungkin akan aku hancurkan siang ini, dengan beberapa kekuatan yang kita satukan.

Ih!

Lalu? Kita harus apa?
Berlindung di bawah rindangnya pohon yang rimbun,
Berdua sambil menikmati langit biru awan yang peduli pada kita,
Hati yang tak akan pernah bersatu,
Awan-awan bergerak merekam kegiatan kita,
yang sedang menghisap sari-sari terindah dari mahkota.

Ih!

Lalu kita sedang melakukan apa, sih?
Aku mengisap sari-sari itu dengan kepuasan tersendiri,
Tak tertahankan,
Menyenangkan,
Lalu aku terlena, seperti berada di surga dunia.
Sari-sari itu begitu indah....

Namun,

Siang mulai kabur, mentari mulai menurun.
Apa kabar kerja-kerja kita? Apakah sari-sari masih ada dalam mahkota?
Tidak, mereka menutup diri dengan lapisan terluarnya
Sakit, perih, bila terkena,

Namun, apalah gunanya jarum suntik kami yang kuat dan tajam ini.
Mahkota, kamu terlalu berharga untuk dihisap.


Tertanda, 
Lebah-lebah bejat.