Cari

Sunday, December 7

Kembali?

akankah
kita akan kembali,
ke
dalam ruang waktu yang sama?

Mungkin. Karena waktu tidak bisa diulang, tetapi berubah.

atau, kembali pada kejadian yang sama?
hati terpaut yang sama?

Entah.

***

Pada akhirnya, kita tidak mengetahui siapa pendamping yang akan setia menemani hingga meninggal dunia nanti. Memang, dalam menjalani kejadian setiap waktu, pasti ada detik-detik pertemuan dengan orang baru dan masuk dalam hati atau kehidupan. Tapi itu insidental.

Belum tentu milik kita.

Nyeseknya, orang yang dahulu pernah masuk dalam hidup dan saling bercengkrama di tengah hiruk-pikuk, mungkin akan kembali lagi.

Jadi, apakah kita akan kembali seperti semula? Sebelum Tuhan mengembalikan kita pada harumnya bau tanah?

Sunday, November 23

Interstellar-Misteri-Probabilitas

Akhirnya aku menemukan orang yang sama dengan kota yang sama, sama-sama membuatku trauma meskipun itu adalah tempat lahirku sendiri.

Tetap akan terus bertemu dengan orang-orang yang senang menulis, membaca, berdiskusi sampai teler pusing sendiri, konseptor, orator, fotografer, programmer, saintis, bahkan apa lah sebutannya. Akan tetap sama, tetap pada jalur yang telah kuteguhkan dalam hati ini.

Namun, yang membuatku kembali bernostalgia adalah masa genting seleksi penerimaan mahasiswa baru 2013, sangat genting. Ibarat, perintah komando untuk belajar keras dan multitasking bidang, IPA dan IPS. Barulah terasa, aku tidak terlalu berminat ke jurusan IPA meskipun menggebu keinginan untuk masuk jurusan teknik geologi, agronomi, bahkan teknik informatika. Nurani kecil berkata, sebelumnya telah berkata, aku ingin sastra Indonesia ataupun ilmu-ilmu tentang politik. Meskipun akhirnya aku nyasar di sastra Cina, yang berhubungan dengan suku Uighur di sebuah majalah Islam Sabili sejak kelas 6 SD lalu. Semua terjadi, seperti ruang waktu dalam film Interstellar.

Ah iya, barusan menangis kenapa ada teman yang harus berani pindah jurusan sementara aku tidak.

Akhirnya, aku menemukan orang yang sama. Kini aku menjadi kakak di dua alam, kuliah dan rumah. Semoga nggak nangis lagi, cengeng banget ah -_- Hanya terharu aja sebenernya, mengapa kuat sekali rasa ingin tahu yang tak pernah padam semenjak awal-awal masuk sekolah sampai sekarang.

Aku makin menghayati ajaran Albert Camus yang dijelaskan ala Bung James, aku memang bodoh dan sakit karena belajar untuk masuk perguruan tinggi negeri, ngototku (karena didesak juga oleh Kak Riris). Tapi, yang kupegang adalah ajaran Martin Bubber dan Gabriel Marcel:

"Aku ada karena ada kamu, kita saling berinteraksi dan aku melihatmu secara utuh, apapun keadaanmu. Makanya, aku ingin tetap hidup karena masih memiliki harapan dan kesetiaan, yang akhirnya akan memberontak dengan mengandalkan harapan dan kesetiaan (menerobos tembok monotonnya rutinitas)."

***

Jum'at lalu, kelas pengganti Eksistensialisme, aku menjawab pertanyaan Bung James.

"Camus mengatakan bahwa bunuh diri itu bodoh, lari dari kenyataan. Lantas, kenapa nih kita-kita masih pada pengen hidup?"
"Hope, Bung," sambil senyum (seperti biasa tiap di kelas beliau, karena sedang menyaring informasi).
"Jawabannya Marcel banget!"

:3

"Nikmati sakitnya terus-terusan belajar dan menatap huruf Han atau segala ilmu Cina. Segera selesaikan kuliah, barulah beraksi melanjutkan pendidikan yang diminati."

Sayangnya, aku jatuh dan terjerembab ke dalam segala organisasi, dengan alasan bertahan dan sekarang tak sengaja bertemu orang yang sama hobinya (lagi). Hidup benar-benar menyelami misteri yang penuh probabilitas (Marcel). Kalau Chairil Anwar mengatakan, "... aku ingin hidup seribu tahun lagi..." maka "aku ingin menyelesaikan kuliah prodi Cina dengan harmonis".

Sampai jumpa di 2,5 tahun lagi kawanku! ^0^

Sore Pasca Demotivasi

tangan dingin,
euforia berlebihan,
pertanda apa?
bagus!
hati telah terbuka
akhirnya.

selamat menikmati hal baru.

***

Terima kasih kalian, akhirnya sore sehabis hujan dan mendekam di kamar dingin menjadi hangat. Pipi merona dengan senyum riang. Jantung berdebar. Tapi otak berhenti. Apakah ada yang datang untuk membawaku bunga pengobat hati dan rindu? Sang pembawa senyum kala pagi dan sore hari?

Setelah berhari-hari mengalami demotivasi. Di sisi lain, mengalami manipulasi jatuh cinta yang berlebihan. Bukan pada satu orang, tapi semua orang yang seolah-olah membuka kesempatan untuk menikmati hal baru.

Ah iya, akhirnya terbuka dan sedikit terobati.

Terima kasih kalian, yang tak ingin kusebutkan nama satu persatu. Kalian telah membuatku menggemari kutipan kata-kata filsuf dan mengagumi mereka; Martin Bubber, Gabriel Marcel dan Albert Camus (ganteng sih). Kutipan mereka terlalu manis-manis enek, begitu kira-kira kata dosen kelas Eksistensialisme tiap Selasa pagi. Serta, kalian telah membuatku optimis secara perlahan.

Segelas cokelat panas, pun turut membantu. Aku terpancing untuk mengepo kalian satu per satu, bagaimana dan apa yang kalian pikirkan dari tulisan-tulisan, hahaha :D

***

Kadang, ada kelegaan untuk mengungkapkan hal di atas. Kadang, ada ketakutan tersendiri ketika mengungkapkan sebuah perasaan sebagaimana yang telah kulakukan di posting kemarin. Ketakutan itu adalah jika ada orang yang melacak dengan kata kunci tertentu, lalu menyerangku untuk menjatuhkan diriku. Salahkah aku untuk memposting sebuah tulisan? Kejamnya ya dunia internet :') banyak bully dimana-mana rupanya.

Ketakutan tersendiri itu pun juga bisa membuatku menyelami misteri, apa yang membuat takut dan siapa yang membuat takut. Bahkan, ketakutan terbesar adalah bertanggung jawab setelah membuat tulisan dan menunjukkan bahwa diri ini kurang baca atau tidak. Oh tidak, makin kuselami misteri ketakutan-ketakutan. Mungkin saja, akan berbuah optimis seperti sore ini :) 

Saturday, November 22

Pengabadi Momen Kamis Sore

Kebaikan mereka apa ya?

Apa ya? Susah sih menghitung kebaikan seseorang atau sekelompok orang. Karena, kebaikan sendiri pun memiliki tujuan dan niatan masing-masing. Lalu, cara memandang kebaikan pun juga berbeda-beda.

***

Perpaduan sempurna, seperti yang pernah di-posting beberapa hari yang lalu telah terjadi. Saya benar-benar turun ke jalan bersama BEM UI dan BEM SI, tapi nggak masuk lingkaran border wkwk. Jadi tukang foto yang tingkat kewaspadaannya sangat tinggi, takut dirampas oleh polisi, massa aksi yang "mabok" atau amarah tinggi bahkan intel menyamar mahasiswa. Masih nggak berani untuk berada di dalam lingkaran inti; lingkaran perempuan yang berbaris melingkar sambil memasang border serta dilindungi oleh laki-laki di lingkaran pelapis. Ya, sampai nggak seberani itu karena di tengah lingkaran lagi ada mobil bak yang di dalamnya terdapat 4 buah sound speaker.

Semua diabadikan dengan baik, saya menjadi pengabadi momen waktu itu. Saya memotret ekspresi wajah ketika orator mengatakan "Hati-hati, provokasi... Hati-hati, provokasi...." Bahkan yang saya dengar adalah "Kalau ada yang provokasi kita apain teman-teman? Kita patahin lehernya, setuju??" Semua mahasiswa yang menjadi border saat itu menjawab setuju sampai suara mereka membuatku merinding. Bagaimana jika aku menyusup ke dalam barisan dengan jaket kuning waktu itu? Benar-benar dipatahkan leherku -___-

Takut, sampai seseram itu.

Maka cukuplah aku menjadi pengabadi momen. Karena aku bahagia bisa melihat ekspresi serius mereka bahkan lingkaran luar berputar-putar seolah mengiringi nyanyian sang orator di atas mobil bak. Hingga ada pesona yang memancar dari wajah mereka, mengalihkan dunia *ceilah*

Baik? Aku melihat itu baik. Hanya menantang bapak presiden utama untuk keluar dari istana megahnya untuk berbicara langsung, mengobrol, atau hanya melihat dari jendela pun. Pasti nggak akan dibabak belur massa, tidak mungkin. Mereka hanya memanggil bersahabat dengan cara yang garang, karena saya dan teman-teman hanyalah butiran ciptaan Tuhan yang kebetulan bisa menikmati indahnya pendidikan tinggi seperti sekarang. Meskipun ada adik kelasku yang bercerita bahwa bapak wakil presiden sempat keluar dan entah, temanku tidak melanjutkan ceritanya.

Baiklah, cukuplah aku menjadi pendengar dan pengabadi momen. Suatu saat, pasti akan bergabung dalam lingkaran border beserta teman-teman perempuan lainnya dengan resiko terkena gas air mata atau menyusupnya polisi ke dalam barisan. Perempuan, benar-benar dilindungi oleh laki-laki meskipun tak semua saling mengenal.

***

Sang orator kerap kali mengatakan, harga minyak dunia turun. Di Asia Tenggara pun, Malaysia menurunkan harga bahan bakar minyak sekian sekian. Lantas, mengapa bapak presiden utama bersuara bahwa harga harus dinaikkan?

"Nggak punya duit, buat ngejalanin proker-prokernya" - kata temanku saat curhat kemarin sore.

Inilah yang membuat rombongan massa mahasiswa perempuan lari ke sebuah tempat yang aman, takut-takut massa mahasiswa laki-laki mengamuk dan ricuh. Kami melepaskan jaket almamater masing-masing agar terhindar dari kejaran agresif media. Lalu meminta Tuhan agar melindungi kami. Tapi, saya tetaplah mengabadikan momen-momen tersebut, dalam.....

Memori otak saya.

Sementara teman-teman Pandu Budaya, pastinya cowok lah ya, mereka tetap dalam barisan. Ada yang ditendang polisi T_T ada yang terkena water canon. Nggak tahu deh, gimana jadinya ketika lingkaran itu renggang, sama seperti ikatan teman-teman yang renggang karena sudah merasa pintar dan nyaman dalam tempurung :') Yang jelas, polisi saat itu suka yang ricuh-ricuh. Media pun begitu, karena itu akan menjadi bahan berita hangat, makin memojokkan kuning-kuning yang turun ke jalan bersama lainnya.


***

Penutup:

Bu Chusnul Mar'iyah, beliau seorang guru besar di FISIP UI mengatakan bahwa, seorang aktivis haruslah cerdas. Beliau juga pernah ikut aksi ketika reformasi. Mungkin itulah yang membuat beliau bahagia melakukan hal tersebut seumur hidup (masa remaja beliau) dan mengenal bahwa hidup bersama masyarakat.

Tapi, apakah ada yang menjadi pengabadi momen atau setidaknya, penulis yang menceritakan semua itu dengan detil dan membangkitkan daya khayal? Saya mah apa atuh, biarlah otak yang berhubungan langsung dengan hati tertumpah ke dalam tulisan.

Tak hanya itu, setiap raut wajah yang terpotret dalam kamera adalah bayangan indah yang mempesona, sampai-sampai tak lepas dari ingatan. Ingin foto tersebut bercerita sendiri, tapi apa daya. Foto-foto tersebut terlalu sensitif. Sama seperti ketika ada berita bahwa Ahmadinejad pernah ikut aksi saat menjadi mahasiswa dan tersebar luas di internet. Atau, aksi mahasiswa di Lapangan Merah (Tiananmen Square) di Beijing? Sama pula.

Terakhir. Entah, ada saatnya kebaikan itu relatif, kebaikan yang sesuai dengan kenyataan bahwa itu adalah baik. Hingga akhirnya seorang pemimpin terguling dari kekuasaannya, mungkin bisa dikatakan baik pula. Toh, mahasiswa juga berhak keluar dari zona nyamannya untuk bersuara. Yang penting, kebaikan tak menjadi standar ganda; hal baik jadi hal buruk, hal buruk jadi hal baik.

Semoga nggak ngawur :') 

Tuesday, November 18

Perpaduan Sempurna

Hei, bukankah apa yang terjadi hari ini adalah perpaduan sempurna? Antara media dan pergerakan ala mahasiswa?

Mengapa aku baru menyadarinya.......


***

Kebanyakan, aksi atau demonstrasi mahasiswa UI sering disalahpahami oleh publik. Media membentuk opini publik secara bersamaan, sehingga media benar-benar membentuk stigma, entah itu negatif atau positif. Beberapa media, baik tulis maupun televisi, ada kemungkinan untuk meliput aksi atau demonstrasi mahasiswa UI sepotong saja. Padahal, aksi atau demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dilakukan secara keseluruhan, dari awal sampai akhir, akhir akan berhadapan dengan polisi.

Ya, polisi.

Entah kapan itu akan terjadi. Sejauh ini masih damai-damai saja. Kemana ya teman-temanku? Padahal dua hari berikutnya adalah aksi mahasiswa se-UI ke Istana Negara untuk menentang kenaikan BBM yang beritanya tidak sepopuler berita presiden yang baru diangkat hampir sebulan lalu. Namun sebenarnya, harga minyak dunia turun. Lantas, mengapa harga BBM naik?

Kata anak FE, anggaran bocor, suatu saat pun negara akan rugi (?). Sehingga negara menaikkan harga BBM? Beberapa fakultas lain pun ada yang mendukung kenaikan harga BBM, sebagian fakultas pun juga menentang (dan ikut aksi bersama BEM).

***

Katanya, anak gerakan harus jago nulis (dan cerdas). Seberapa hebatpun mereka berorasi saat turun ke jalan, nama mereka takkan abadi jika tak ada tulisan ataupun tulisan-tulisan kritis mereka.

Semoga nggak sok kritis ya :')

Selamat menikmati pengalaman turun ke jalan :D 

Sunday, November 9

Arti dari Umur?

"One day you'll feel eighteen, look sixty, and wonder what 
happened."










"I'm afraid of everything. I've been reading psychology books to try to figure out why. Logically, I know everything is fine. I know that I'm only twenty, and I have so many blessings and advantages. Yet I'm afraid I haven't accomplished enough yet. I'm afraid of the future. Afraid of getting older. Afraid of being alone. Afraid of having a child. And afraid of the dark. I'm really, really afraid of the dark." (Kyiv, Ukraine)





***

Apa arti hidup, jika batas yang diberikan sangat terbatas dan waktu berjalan cepat? 
Masihkah mau berbicara dengan robot tersistem? 
Masihkah ada arti pertemuan sebelum perpisahan?
Masihkah ada arti reunian? 
Masihkah ada arti ketakutan terhadap akhirat? 

Monday, November 3

Someone said that, 

"Kaderisasi itu bicara secara tak langsung, bicara lewat hati dan obrolan-obrolan santai agar baju besar kita bisa pas kepada mereka. Maka, kita tanamkan akar sampai kuat, sampai benar-benar tidak tercerabut. It means that, you make the first foundation in the building, base on values."

***

I don't know. Gak tau sih. Kegiatan macam apa ini? Semacam berusaha mencintai orang lain apa adanya dengan segala cara. Begitu orang-orang melihatnya, ya begitu orang lain melihatnya. 

Anehnya, kehadiran kami malah membuat eksistensi mereka ada, mereka menjadi kuat secara tak langsung, hanya dengan obrolan santai dan dekat-dekat pada diri mereka dengan dalam. Aku sedih sih, di satu sisi, aku harus benar-benar mencintai adek-adek unyu yang masih belum diracuni apapun. 

Apalagi membawa nama organisasi, Oh my God, help me please

Apakah, seperti ini lah aku harus mencintai mereka? 

Anehnya aku nyaman dengan mereka. Apakah mereka akan menjadi sahabat baru kami? 

***

Well, what does it mean?

to be continued

Friday, October 31

Rumi and Marcel (?)

Jalaluddin Rumi said

"It's your road and yours alone. Others may walk it with you, but no one can walk it for you." 

That's true, for me. 

***

Kalau jalan yang saya pilih adalah jalan terbaik, jauh, susah, ngerepotin, dan bahkan, ga nyenengin abis. Ya, terus kenapa saya milih jalan tersebut? I don't know how to answer it, but, I just go with it. We can surfing the mystery of life and find another possibilities. 

Sounds like Gabriel Marcel, as philospher said. 

Yang jelas, pasti ada jaminan harapan berupa cinta, takdir, dan.... aduh, lupa deh satu lagi... Oh ya, apakah Tuhan memberi opsi-opsi untuk memilih jalan-jalan tersebut? Di filsafat, ngebahas Tuhan ga sih?

?

Monday, October 20

Selamat, Ya!

Senin, 20 Oktober 2014.

"Sesungguhnya bersabar yang hakiki adalah sabar pada hantaman pertama."

- Muttafaq 'alaih. 


***

Maksudnya? Hantaman pertama di semester 3, UTS?

Waw, selamat ya :D

Anda sangat beruntung.

Monday, October 6

也许,再 2 个月吧!

Hai, hampir satu semester lebih 2 bulan kita bersama ya, kawan. Telah banyak kudapat pelajaran dari kalian, tentang hal apapun. Tentang... menghargai kerja keras dan membalas respon - yang menurutku amat sederhana dan biasa aja momennya - tetapi sangat berarti sampai bertahan sekarang ini. 

Kedekatan? Bahkan dianggap teman sedekat kayak apa tau pun tetep ngerasa cuek aja, loh.

Beberapa kawan-kawan seiman dan satu organisasi kerohanian Islam fakultas, mereka mengubah pandangan sempit dan polosku. Sempat hiatus dari blog ini karena menulis hal-hal lain, yang menurutku dipaksa tapi asyik. Memang, tempat tempa pertamaku di organ gerakan sospol yang dulunya dinaungi BEM fakultas,  sebagai awal segala awal dari organisasi yang kujalani 2 semester ini. Kemudian, organisasi kerohanian Islam tingkat universitas,  yang pelan-pelan sedikit mengenalkanku tentang "sekre seberang" dan isi dalam Masjid UI itu sendiri, ya misalnya ada perpustakaan yang baru kutahu buku-bukunya keren parah. Dan "sekre sebelah", yang membuatku mabuk sama pemikiran-pemikiran Islam. Asyik sih, mereka membawaku pada pengetahuan baru yang membangkitkan rasa ingin tahu sampai kehausan. 

Entah,  aku masih terlalu banyak menimbang-nimbang mengapa terlalu cepat dan terlalu polos untuk menghadapi kehidupan luar. Aaaa, nggak kuat :') Masuk organisasi kerohanian Islam ternyata tak seindah dan se-menyenangkan di rohis sekolah, yang kata orang menyenangkan. Meskipun sebenenarnya baru kali ini ikut organisasi kerohanian Islam beneran :') 

***

Kadang, aku hanya butuh menulis dan menulis untuk menuangkan ini semua. Nggak ingin semuanya terpendam dalam kepala, lalu meledak tiba-tiba, sampai bela-belain bolos kuliah.... 

Kadang juga, ngerasa, belajar ga cuma di kelas.

***

Tanggal 27 September, acara Kajian Rutin ke-FIB-an (KARIBIAN) IV lah yang membuatku merenung dan bahagia menikmati kesendirian. Berdiri di atas balkon PSJ, menikmati video peserta penghapal Al-Qur'an seluruh dunia yang masih belia banget umurnya :') Pesan-pesan sederhana, ga pake rumit ala filsuf Barat, ternyata ngena parah. Selama ini, aku kemana ajaaaaaaaaa~~~~~  Ilmu mudah diserap saat terharu ternyata :D

Dan akhirnya, aku nyambung-nyambungin ini semua sama teori filsuf Barat, Martin Bubber. Ini keren banget, karena lagi berbunga gitu sih. Aku ngerasa ada, karena ada keberadaan orang lain. Karena ngerasa ada bareng mereka, maka terjadilah konflik-konflik dan hubungan baik selama ini, yang bikin semua berubah dan itu semua berlangsung, sehingga ngerasa punya jati diri gitu. Dengan pengetahuan dikit banget ini, hanya terpesona sama quotes Bubber: 

"what, then, do we experience of Thou? just nothing, for we do not experience it."
"what, then, do we know of Thou? just everything, for we know nothing isolated about it anymore." 

- Kelas eksternal non-filsafat di FIB, yang sebenernya keren banget dan bikin cengok. Namun, beberapa bahasan materi sempat bikin terguncang saking kontrasnya sama pemikiran Al-Attas dan pemikir Islam lainnya. 

***

It's odd. 

Ketika hiatus kayak gini, tiba-tiba datang dan bercerita banyak dalam satu posting blog dalam waktu beberapa menit. 

It's odd. 

Ketika kamu ngerasa kehilangan begini, tapi semua itu pernah dipertemukan dan disatukan karena sama-sama seiman dan pengen belajar, sebenernya. 

Ga cuma di kerohanian Islam dan sebagainya, tapi tempat lain, ada tempat awal banget ditempa, organ gerakan sospol di fakultas (bahkan aku bukan anak sospol banget) yang sesungguhnya memunculkan semua ini. Sampai-sampai, Allah dan semesta mengamini, seolah-olah dunia yang sempit menjadi luas karena bertemu ragam manusia meski mereka punya niatan sama: seiman dan pengen belajar. 

Mungkin, tinggal 2 bulan lagi ya! 

:') 

Sunday, August 24

People Today

Butuh waktu untuk ingat bagaimana caranya bisa selamat dari keegoisan diri dan terlalu banyaknya pembenaran untuk menguatkan diri. 

Butuh waktu pula untuk belajar bersyukur, ya walaupun gampang banget sih diucapkan. 

Dan, kebanyakan orang mencari kebahagiaan sendiri dengan orang lain yang sama-sama menjauh dan pergi dari rumah, tapi ternyata, di rumah sendiri saja sudah bahagia. Is it true? Kesenangan-kesenangan semu dan pikiran jangka pendek membuat kenangan-kenangan setiap aktivitas bagaikan omong kosong bagi orang-orang tertentu. 

***

People are the best commentators ever. Mereka terus berkicau, sampai-sampai kebenaran adalah standar ganda. 

Termasuk orang paling dekat, itu sendiri. Give their best silent and self introspection. 

Monday, August 11

"Hahaha, imajinasiku nggak sampai, Nad. Aku butuh loading buat mencerna semua itu," kata salah satu temanku ketika disuguhkan kata-kata bersastra.
"Oh gitu ya."
Kemudian aku melanjutkan membaca. Sedangkan ia sibuk menggunting-gunting kertas untuk award saat buka bersama.

***

Lain dengan temanku satu lagi, dia suka sastra dan pandai menulis puisi.
Awalnya pun aku pernah merasakan hal yang sama, butuh loading untuk mencerna kata-kata ketinggian dan butuh imajinasi yg tinggi. Hah, kini aku juga ingin seperti teman-teman yang bisa menulis atau menulis puisi.

***

Namun, aku merasa haus untuk membaca buku, mungkin entah kapan aku akan memulai menulis :')





Soetta dan menyendiri. 

Monday, July 28

Choose What You Feel

Which one do you feel? This one, or that one?

Semoga masih tetep ketemu ya, wahai bulan suci Ramadhan :)

Saturday, July 26

Fifty Shades of Grey & Beberapa Keanehan

Akhir-akhir ini, khalayak ramai membicarakan film adaptasi novel "Fifty Shades of Grey", kalau nggak salah. Sebenernya, itu novel apa ya? *evil laugh*

Setelah kucari sinopsis novel itu tadi malam, emm..... dan juga lihat trailer film-mya di 9gag (emang ada?!!!), ternyata film ini malah menunjukkan kuasa laki-laki yang berlebihan dan perempuan yang terlalu dipermainkan oleh cinta dan hawa nafsu. Dapatlah aku sedikit ilmu dan istilah yakni BSDM yang membahas tentang perbudakan dkk. Memang sih, di trailer film itu ga romantis amat, tapi malah panas. Dan di akhir trailer film, perempuan yang bernama Ana - diikat, diborgol, dan ditutup matanya di sebuah ruangan bernama room red pain oleh Christian Grey. Mau diapakan? Tebak sendiri, ............ kalau bukan disiksa, apa lagi?

Kalau aku kasih link, malah merusak penghujung bulan Ramadhan ini, ah yasudah cari sendiri :p. Semoga tidak tersesat. *lanjut*

Btw, novelnya pun berasal dari novel erotis dari kumpulan fanfiction Twilight yang ditulis oleh E. L. James. Pastinya aku nggak pernah baca kedua novel ini dan nggak perlu baca novelnya pun, aku menebak bahwa novel tersebut pasti ada hal-hal aneh. Sayangnya, di trailer film resmi, sinopsis beberapa versi, bahkan trailer versi fans menunjukkan bahwa kalau sudah ditutupi oleh cinta dan nafsu, penyiksaan akan dimulai. Bahkan di Inggris yang diberitakan oleh sebuah situs berita ehem, novel ini malah membuat kenaikan kasus pelecehan dan penyiksaan terhadap perempuan.

Kebayang ga tuh, pemadam kebakaran dipanggil buat ngelepasin borgol atau rantai-rantai di kamar........

Makin terlihat, perempuan masih dijadikan dan dipandang objek dan pemuas hawa nafsu. Jadi? Ya sih, sesuatu yang berlebihan pun juga nggak baik. Makin terlihat pula bahwa, pola pikir Barat dalam memandang perempuan sangat berbeda dengan pola pikir Islam. Guess what, Islam juga ga bakalan nyiksa perempuan, kecuali orangnya sih.

Serem aja sih.

Sempat terpikir pengen baca novelnya. Tapi, aku bakal makin ga ngerti kenapa semuanya dilampiaskan dan disambut secara berlebihan. Kalau ada ysng sederhana, baik dan manis, kenapa nggak? Ini masalah orang dan jiwanya, mungkin itu yang kutangkap dalam trailer tersebut.

Filmnya resmi keluar ke bioskop pada  tanggal 13 Februari 2015, sehari sebelum hari Valentine. Nah loh, apa lagi ini? :|

Monday, July 21

"When I do, I won't do that bad things again."

Selamat hari menjelang akhir Ramadhan :)

Sunday, July 20

Life's Hard, Allah More Than It!

Assalamu'alaikum guys, 好久 不见 了!

Memang udah lama aku nggak buka blog ini lagi, lama nggak blogwalking pula, dan lama nggak membaca postingan dari blog-blog yang pernah aku kunjungi. Time past so fast, mereka menuntut produktivitas. Tak jarang, hiatus sering kepikiran, apa aku berhenti sebentar lalu balik lagi?

Tapi, berhenti dari menulis itu salah besar, eh maksudnya, berhenti blogging itu salah besar. Blog, mau nggak mau, sebagai tempat latihan nulis dan mencurahkan ide dadakan atau tulisan yang pengen di-share di internet. Ibaratnya, sebagai latihan kecil-kecilan menulis karya ilmiah atau yang lain deh -__-

But, in real life, apakah orang-orang menuntut kita menulis? Kayaknya nggak, lebih banyak pekerjaan "kasar dan keras" dan menuntut skill selain menulis, yang kata orang ga terlalu "menghasilkan" dibandingkan pekerjaan "besar menurut mereka". I don't think so, I don't think menulis membuat miskin. Yang aku nggak ngerti, mengapa orang-orang mau menuruti tuntutan industri pesat yang tidak masuk akal (bagi sebagian dari mereka yang idealis)?

Padahal rezeki udah diatur sama Allah SWT, cara menjemputnya berbeda, cara mendapatkan ide kreatif, produktivitas, dan inspirasi masing-masing juga berbeda.

Dan, pikiran kasarku bilang begini:

"How come people nowadays become a study oriented student with sh*t industrial pressure? So, where is the mind idealism?" 


Terlalu keras :')

Terlalu banyak pula pertanyaan-pertanyaan untuk apa hidup di dunia, sementara di akhirat menunggu - termasuk 3 pertanyaan besar manusia dalam hidup (duh lupa apaan --___--)

Monday, June 30

Perempuan Melawan Arus

Sebenarnya, perempuan itu indah dan mempesona. Lama-kelamaan ia berubah menjadi seorang ibu yang lembut dan saling menyayangi. Ya, dibalik kelembutannya, tubuhnya pun memang dirancang kuat untuk menghadapi dunia luar yang ternyata kejam dan eksploitatif. Tapi, yuk lihat. Bagaimana masa muda seorang ibu tersebut di masa depan.

Awalnya, ia seorang gadis kecil yang mulai mekar dan wanginya merebak bila tak dilindungi. Perlahan, mulai terbentuk lekukan tubuh yang menunjukkan tanda-tanda baligh, lekukan sebagai seorang gadis, tonjolan, bahkan rambut yang tergerai lebih dari seorang model rambut. Mulailah ia dilirik oleh lelaki ketika ia berjalan sendirian. Ia, melindungi dirinya dengan baju kurung panjang dan kerudung paris tebal.

Ia melindungi dirinya, dari lirikan dan tatapan yang kadang melecehkan, meremehkan, atau sembarangan menikmati keindahan tubuhnya. Ya, lelaki memang begitu, pertama melihat tubuh lalu mendekatinya. Mengenal sifat hingga semuanya. Namun perempuan itu masih belum mendekati apalagi terbayang. Yang ada di pikirannya hanyalah sekolah, dan sekolah, sampai tak ada perempuan yang dianggap objek semata.

Kini, ia beranjak dewasa. 18 atau 19 tahun hidup dan mulai dilepas orang tua. Merantau jauh untuk kuliah. Sedikit berontak terhadap pemikiran-pemikiran Barat nan sekuler yang berkaca pada sejarah abad pertengahan; renaisans. Anggapan bahwa perempuan adalah sumber dosa, kotor, membuat gairah laki-laki bangkit dan terjadilah. Ya! Terjadilah! Ia tak setuju amat dengan semua itu.

Dunia nyata memantulkan bayangan pada matanya. Perempuan masih dijadikan objek. Sekali lagi, lekuk tubuh indah dan sempurna, kelembutan, kasih sayang, bahkan sikap pasrah perempuan dimanfaatkan sembarangan. Ia menganggap, perenpuan masih menjadi korban eksploitasi dan kekerasan. Sampai-sampai, diperlukan khusus gerbong kereta perempuan. Gadis yang beranjak dewasa itu, yang telah membaca sejarah gelapnya dunia Barat dan terangnya sejarah keemasan Islam, mulai membandingkan. Ingin rasanya ia kembali pada masa lalu kemenangan, dimana perempuan dihargai dan tinggi derajatnya. Sampai-sampai pada zaman Rasulullah SAW, perempuan boleh memimpin perang dan ikut berperang.

Namun tidak pada zaman globalisasi. Semua berubah ketika Khalifah Turki Utsmaini runtuh oleh kawan sebangsa sendiri. Berakhirlah semua, Masuklah semua.

Dan efeknya dirasakan oleh gadis beranjak dewasa tersebut. Perempuan kini seolah-olah menuntut kesetaraan gender. Padahal ia sendiri akan tersiksa dan lelah mengejar semua itu. Do'a ibu dari anaknya atau sebaliknya? Entahlah. Mungkin mana ada partai-partai haus kekuasaan memperjuangkan hak perempuan; cuti hamil, cuti haid, bekerja kurang dari 8 jam, ruang menyusui, kendaraan umum khusus perempuan, sekolah menjahit, menyulam, memasak, dan kewirausahaan, pendidikan bagi seluruh perempuan. Bahkan, pendidikan Islam dan sejarah perjuangan perempuan? Entahlah, entah. Mana ada penguasa yang mau melanggengkan undang-undang anti cabul? Hahaha. Laki-laki :)

Kini gadis beranjak dewasa alias perempuan yang sedang bersekolah tersebut masih menyulam mimpi dan ingin mencapainya. Ingin menjadi peradaban di masa depan. Perempuan itu, berjalan ringkih sambil melawan arus. Ia adalah perempuan Melayu yang hidupnya selalu bersahabat dengan Islam.

Perempuan tersebut, akan terus bergerak. 

Sunday, June 29

Assalamu'alaikum Ramadhan

Ramadhan, hai selamat datang :)

Ternyata aku sudah lama merindukanmu, namun masih sedikit saja terganjal hati dengan urusan-urusan duniawi dan imbalan tertentu nanti. Kenapa ya? Mungkin aku masih menganggapmu sebagai bulan penuh agenda buka bersama, reuni bareng, pesantren kilat, baca Al-Qur'an dengan targetan, (sekedar) menahan lapar dan haus, dan hingar-bingar pesta demokrasi. Oh ya, apakah semua itu membuat Ramadhan kurang semarak?

Setidaknya tidak terlalu terasa seperti tahun lalu, aku jungkir balik dan tidak peduli dengan sekitar. Hanya satu tujuan, tanpa rasa bersalah menghilangkan momen Ramadhan sebenarnya; belajar dan merapal do'a seperti teman-temanku yang ingin ikut tes lagi tahun ini.

Selamat bulan puasa :)

Selamat pula teman-teman yang ikut tes masuk perguruan tinggi (lagi) :D 

Friday, June 20

Cinta, Belum Pantes Sih :/

Well done, I come back :)

Mungkin belum pantas-pantas amat sih membicarakan ini. Perkara umur yang masih terlalu belia dan waktu untuk belajar, mengeksplorasi, bergerak, dan berkomunikasi sangat panjang waktunya. Ya, meskipun nggak tahu apakah masih diberikan kesempatan umur dan nafas. Inilah, saat mengalami perjalanan belajar Islam dengan pengalaman dan logika, aku merasa dekat walaupun sederhana. Namanya....

Cinta.

Oke jadi gini. Aku menyimpulkan bahwa setiap pertemuan akan ada kontak mata dan frekuensi bertemu bisa jadi sering terjadi apabila satu kelas, satu kepanitiaan, satu jurusan, satu dan lain-lain atau satu apa deh terserah. So, pasti ada perbauran dong antara laki-laki dan perempuan. Kalo temen saya mah bilang, kalo nggak pake hijab alias papan kayu atau kain, ya bakalan terjadi.

Pandangan pertama. Hap! Ini parah, logika aku masuk banget disini. Cinta bisa terjadi bukan karena hati, tapi ada rangsangan dan hormon oleh otak serta persepsi seseorang. Cuma ini sih, Islam udah mewanti-wanti. Makanya ada pembatasan dalam bergaul antara laki-laki dan perempuan.

Terus cinta? Nah ini dia.

Kemaren aku mendengar sebuah lagu nasyid yang berjudul "Jangan Jatuh Cinta". Looks so contradictive. Ketika massa lebih memilih jatuh cinta, namun ada beberapa atau satu untuk memilih tidak jatuh cinta. Lebih baik memendam dan berdo'a supaya dikuatkan bahwa jatuh cinta yang terjadi bukanlah termasuk pandangan pertama yang telah bercampur dengan mengagumi, menginginkan orang itu atau posesif, dan mungkin, pengen ah ....don't mention it, you know that actually. Awalnya sih nggak ada hijab, pembatasan dan frekuensi bertemu nih. Awalnya biasa aja nih, tapi ngerasa beda. That's the function of syaithan. Canggih yak?

Terus terus? Umurku belum pantas sih.

Jadi logikanya disini aja dulu. Kalau lebih jauh, bisa jadi ada beberapa orang untuk memilih nikah muda dan tetap melanjutkan sekolah daripada pacaran atau jatuh bergelimpangan karena undercontrol love. Widih, serem. Pasti banyak terjadi seperti ini. Pasti, karena aku berada dalam lingkaran teman-teman yang insya allah baik-baik.

Bukan gimana-gimana, setiap helaan nafas, ternyata pikiran ini belum sampai karena masih banyak kekurangan.

Ya oke, cewek nggak bisa atau nggak berani mengungkapkan isi hati sebenarnya, makanya dipendam atau lemah-lemahnya, berdo'a dan ngarep deh. Masa iya Allah ngasih jodoh yang salah? Bukannya, udah ditentuin? Cinta-cinta beginian, ternyata, ada di masa remaja. Bahkan sebenernya masa remaja ga ada dalam Islam, yang ada masa BALIGH alias dewasa. Jadi, masa yang penuh tantangan dan jembatan buat "menjadi apa", "untuk siapa", "mau kemana" dan "senengnya apa".

Memang belum pantas sih. Tapi, aku ngerasa Islam canggih aja, masuk ke logikaku yang masih mencari-cari kebenaran. Memang aku ngerasa ini terlalu digeneralisir dan disederhanakan banget. Justru kalau sadar dikit, banyak pengaruh yang membuat "cinta" terungkap. Simbol-simbol "jomblo","single" dan "udah ada yang punya" jadi faktor dari beberapa faktor yang bisa membuatnya terungkap? Zaman sekarang? Yak, keras. Hahaha.

Ohiya, ini konteks sempit.

Makasih jemari yang mau sedikit bekerja sama dengan otak, kemudian menari bebas secara gamblang di atas keyboard :D Nggak tahu lagi harus mengetik apa :)) Malu banget -_-

Saturday, June 14

Ternyesek adalah, ketika udah mati-matian dan nahan kesel belajar desain grafis tetapi malah nggak bisa disimpan, eror, tidak bisa di-export ke .psd dan parahnya bikin kesabaran makin menipis.

Pantesan aja desainer banyak yang sabar. Wong capeknya kayak gitu :')

Mungkin mendingan disuruh nulis cerita/artikel atau iseng-iseng ngetik tag html di notepad daripada ini. Emang sih, buat meningkatkan skill dan menantang diri sendiri. Tapi ya, yaudah lah ya, udah tau rasanya meskipun di awal.

Seenggaknya bisa menghargai kerja keras desainer grafis :)

Mungkin harus belajar lagi sampai bisa, sampai bingung ngejelasinnya gimana :P 

Saturday, June 7

Kami Tunggu Ya Kedatanganmu :)

Hai adik-adik mahasiswa baru dan calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri, kami tunggu ya kedatangannya :D

Kami tunggu kedatanganmu di 14 fakultas, himpunan mahasiswa jurusan, gerakan mahasiswa di beberapa fakultas, lembaga dakwah fakultas, kepanitiaan-kepanitiaan, lembaga dakwah kampus, badan eksekutif mahasiswa, dewan perwakilan mahasiswa, bahkan calon-calon "lain-lainnya".

Kami tunggu ya kedatanganmu di kampus kuning dengan sejarah pergerakan mahasiswa yang panjang dan mengesankan. Kami tunggu ya wajah-wajah cerahmu dan semangatmu. Sedikit perlawanan pada suatu hal yang akan kamu rasa seperti kerbau dicucuk hidung, peraturan-peraturan yang menyusahkan, dan kerasnya pergaulan, jalan panjang gerakan pembumian isu kajian di fakultas dan universitas, jam tengah malam, kriminalitas, hedonisme semu, dan sebagainya :))

Kami tunggu ya kedatanganmu, karena keingintahuan pada orang-orang keren pada masanya yang mungkin kusebut akan banyak sekali. Siapa tahu, kamu akan menjadi penerus seperti mereka :)

Kami tunggu ya kedatanganmu.. Harapanmu, semangatmu, doa-doamu, bahkan setiap langkahmu adalah bagian dari restu dan doa orang tua terbaik untukmu. Tak ada nikmat yang indah bila semua itu direstui orang tua dan Allah, serta semesta mendukung langkah-langkah dan harapanmu.

Kami tunggu ya cintamu, dengan hati yang baru. Telah berpindah bagai revolusi Prancis dan reformasi 1998 sebagai tameng untuk menghadapi teror-teror rindu kembali masa SMA dan masa kanak-kanak.

Kami tunggu ya, caramu berproses :)

Bukan karena kuningnya jaket seperti apabila salah satu mahasiswa ditembak berdarah-darah atau melempar spanduk ke istana negara akan kentara saking terangnya.

Dan kami tunggu ya, semuanya.. Kami tunggu di kampus kuning dan rumah Teletubbies ini.

加油!がんばってね!

Tuesday, May 27

Hai, Mahasiswa Baru (Lolos SNMPTN) :)

Dan pada akhirnya, hari ini, Allah masih Maha Baik dan Maha Mendengar. Apa yang adik-adik kelasku ucapkan dan rapalkan ketika setiap ibadah 5 waktu mereka, untuk mencapai satu keinginan mereka.

Itu membuatku nostalgia setahun yang lalu. Bahkan sampai mengorbankan blog ini, rela tidak posting. Pasti kalo udah nostalgia, rasanya akan ingin balik ke masa yang penuh perjuangan masuk PTN atau tidak ingin mengulangnya, cukup sekali seumur hidup saja setelah dimaknai setahun ini. Banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu, tetapi (dan semoga) tidak terulang di masa ini. Banyak sekali. Sampai saya duduk di meja belajar ini dengan utang-utang tugas dan ancaman UAS. Hehe :))

Nostalgia setahun yang lalu, terulang kembalil; SNMPTN. Lalu akan terulang lagi; SBMPTN, sampai saya benar-benar diterima di Telkom Bandung, UIN Jakarta dan UI. Antara, malu dan benar-benar merasa bersalah. Mengapa saya harus bernostalgia dengan hal yang sama, yang ada sangkut-pautnya dengan minat seseorang serta keinginan tak tercapai. Ada rasa salah ingin ikut SBMPTN, tapi tidak tega karena mengambil jatah orang. Saya juga sudah terjerat arus betapa keras dan nyamannya kehidupan kampus, membuat saya ditampar. Bahwa saya malu kepada adik kelas yang diterima atau belum diterima di SNMPTN. MALU. Malu, mengapa susah payah berteori dan penerapan tentang bersyukur? ya, BERSYUKUR!

Ancaman UAS dan utang tugas masih menghantui saya sampai sekarang. Beruntung saya punya rasa muak terhadap tumpukan pikiran yang tak sempat ditumpahkan ke tulisan, sehingga ada saja "ngeles" buat nulis. Saya ingin sehat, tidak ingin terbebani oleh mereka-mereka itu; selalu ada sampai tiba waktu wisuda *ciee.

Kini berasa tua, mulai ada panggilan "Kak" ketika penyambutan mahasiswa baru. Entah menjadi mentor, panitia, ataupun kakak kelas yang main-main ke sekolah bersama teman seangkatannya. Ya, tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Disini, aku berharap, mereka yang mahasiswa baru (masuk SNMPTN) itu punya pola pikir bebas dan memegang aturan teguh supaya nggak kebablasan.

Semangat ya adik-adik; yang akan jadi teman dan sahabat nanti! :D 

Monday, May 19

Belum Siap? Yakin, hah?

Teh hijau memang pahit, tapi menyenangkan bila terus dinikmati. 

Mungkin seperti masa lalu yang dimiliki seseorang. Pahitnya masa  lalu membuat dia selalu bergerak dan tak ingin diam. Seolah-olah melupakan masa lalunya dan hatinya yang sakit. 

Kini ia meringkuk bingung. Ia berhadapan dengan orang tersebut, yang pernah menyakiti hatinya. Apa daya, hanya tulisan dan menarikan jari-jari di atas keyboard untuk membuang sampah pikiran semua itu. Memang galau. Logika selalu menang daripada perasaan. Tapi, ia ingin logika dan hati beriringan, bahkan memenangkan hati daripada logika, agar logika menjadi pembelajaran dan kausalitas yang sudah dialami olehnya. Ya, iya meringkuk bingung. Lagi. Sama seperti 4 bulan yang lalu.

Kini ia berhadapan dengan seabrek kegiatan, hingga ia sakit. Darah rendah membuatnya malas berpikir keras mengenai pergerakan politik nasional dan kampus, atau kajian strategis yang sering dibahas dalam lingkaran ketika senja mulai menyambut dirinya. Di setiap lesehan, di setiap waktu. Meski ia terus menggurat pensilnya, menulis ratusan atau ribuan karakter Han. Memasang headset, mendengar rekaman untuk dihapal. Kurang apa lagi ia?

Mengapa ia tidak siap? Liburan sebentar lagi tiba. Ia tinggal belajar hal-hal baru, programming, menulis, berlari kesana kemari mengejar bola basket, memutar komplek perumahan sejauh 3 km dengan sepeda bututnya. Kurang apa lagi? Kurang siap apa lagi? Kurang siapkah hatinya untuk selalu bergerak tanpa memikirkan apapun karena umur. UMUR!

Mengapa pula orang yang pernah bersama dengannya belum siap akan hal-hal yang berkaitan dengan hati ataupun cinta? Cinta tidak nyata? Cinta abstrak dan absurd? Cinta mengganggu... di setiap kegiatan? Cinta hanya berbatas antara kisah kasih laki-laki dan perempuan? Lalu cinta itu apa? 

Ia dan orang tersebut adalah salah satu kisah dari segala kisah. Mereka yang tanggung umurnya, ngotot dengan idealisme masing-masing. Kemudian berbentur dan bertemu dalam jaringan dunia maya. Bercerita bahwa, "belum siap". 

Lantas, mengapa orang tersebut datang dan memainkan hati perempuan itu? 

Dan mengapa perempuan harus menanggapinya dengan penuh suka cita?

Salah. Bisa dibilang. Orang yang melihat dari sisi lain, tidak salah. Atau, narator dalam tulisan ini juga tidak tahu siapa yang salah? Cinta tidak sesempit ini men. Tapi bisa berbuah petaka ketika janji-janji datang seperti calon presiden yang bergerak memasuki kampus-kampus. 

Mana ada reformasi cinta? Bohong. Haha. 

Saturday, May 10

Surat untuk Mahkota

Ih!

Kalaulah siang ini tidak mencekam hati dan pikiran kita, mungkin akan aku hancurkan siang ini, dengan beberapa kekuatan yang kita satukan.

Ih!

Lalu? Kita harus apa?
Berlindung di bawah rindangnya pohon yang rimbun,
Berdua sambil menikmati langit biru awan yang peduli pada kita,
Hati yang tak akan pernah bersatu,
Awan-awan bergerak merekam kegiatan kita,
yang sedang menghisap sari-sari terindah dari mahkota.

Ih!

Lalu kita sedang melakukan apa, sih?
Aku mengisap sari-sari itu dengan kepuasan tersendiri,
Tak tertahankan,
Menyenangkan,
Lalu aku terlena, seperti berada di surga dunia.
Sari-sari itu begitu indah....

Namun,

Siang mulai kabur, mentari mulai menurun.
Apa kabar kerja-kerja kita? Apakah sari-sari masih ada dalam mahkota?
Tidak, mereka menutup diri dengan lapisan terluarnya
Sakit, perih, bila terkena,

Namun, apalah gunanya jarum suntik kami yang kuat dan tajam ini.
Mahkota, kamu terlalu berharga untuk dihisap.


Tertanda, 
Lebah-lebah bejat. 

Wednesday, April 23

Finally, aku baru paham bahwa nggak ada kebebasan yang kekal. Tapi, orang-orang berhak memilih, apakah dia mau bebas tanpa batas atau sebaliknya.

Mungkin, ini agak sok tahu dan sok paham. Padahal, aku sendiri merasa belum bebas, karena kita masih diatur oleh suatu aturan. Aturan itu mengikat dan gak membiarkan kita terjatuh, terjerembab, menjadi ceroboh, hancur berantakan, atau sembarangan. Entah apa nama aturan ini. Yang pasti, dia menyatu dengan diri kita.

Dan dari situlah aku yakin lagi, ini soal pilihan. Bebas untuk memilih apa, siapa, dimana, dan kapan. Kalau nggak bebas memilih, bisa jadi uring-uringan karena haknya nggak tercapai. Mau memilih untuk melakukan kebaikan atau tidak?

This morning is the most random story, after long time not writing anything in this blog. 

:')

Thursday, April 17

Kembali di Sini

Setelah sekian lama aku pergi meninggalkanmu. Kau berdebu, hanya garis garis panjang statistik entah terlacak darimana, menjadi fakta nyata betapa sepinya tempat ini.

Aku meninggalkanmu, kemudian aku (kan) pasti kembali. Tak seperti dia, datang untuk beberapa lama, kemudian pergi tanpa jejak. Sedangkan aku? Aku punya jejak kan? Sebuah tulisan. Ya, tulisan-tulisan inilah yang menjadi jejak setelah berminggu-minggu ku tinggalkan kamu. Beribu pengalaman dan kejadian (yang sebenarnya monoton, surprisingly moments, dan itu-itu saja) yang membuatku, oh, ternyata begini ya hidup.

Ya, hidup. Kok tiba-tiba mendadak menjadi philosopher?

Aku meninggalkanmu, kemudian aku kembali ke sini dengan ribuan cerita dan ragamnya cinta. Cinta ini, berubah menjadi baru dan tumbuh. Aku tak ingin dia berkembang, melebar, hingga mengakar kuat seperti akarnya pohon yang menusuk bumi. Cinta ini, biarlah seperti akar bunga teratai muda yang tergenang di air. Biarlah, biarlah menyebar di atas permukaan, bukan mengakar ke bawah.

Cinta ini, membuatku betah berlama-lama di kampus. Seolah ada panggilan, bahwa kampus ini tak pernah mati dengan hal-hal lama namun terbungkus dengan hal-hal baru.

Selamat malam ^0^

Monday, March 10

Life and life, always!

Lama sudah, tak membuat jari-jari ini menari di atas keyboard. Sambil menumpahkan beberapa pikiran dan sampah-sampah pikiran terpendam dan tak tersampaikan.

Namun, beberapa bulan semester 2 ini, membuatku terus mengejar apa yang aku kejar disini. Dengan siapa aku bergabung, untuk apa bergabung, dan bertemu dengan siapa saja nanti. Maksudnya, bersama siapa saja aku bersinergi dan mendapatkan ilmu apa. Dan akhirnya, 2 minggu yang lalu dan hari ini, aku mulai mendapatkan pencerahan.

Cukup sulit membagi waktu antara belajar Hanzi, diri sendiri, dan organisasi di fakultas ataupun di universitas. Namun, aku merasa ada yang dekat dan membuatku ramai, riuh, dan bahagia. Berkumpul dengan orang-orang yang berbasis keilmuan, bergerak karena ilmu, lalu unjuk gigi karena ilmu. Mereka bergerak karena ilmu, menanggapi isu secara responsif dan reaktif dengan ilmu. They keep calm. Seolah-olah, aku seperti anak bayi yang nggak tau apa-apa soal "gerakan" dan "pergerakan". Ah, what does it mean.. Justru mereka yang membuatku hidup, aku hidup di kampus. Tidak seperti robot yang hanya berkutat pada itu-itu saja. Lalu menjadi budak-budak Hanzi, yang takut dengan Hanzi, dan kadang enggan membuka diri.

Hei ternyata pula, belajar tentang Islam itu menyenangkan dan seru banget. Banyak yang tidak aku ketahui ternyata. Menghubungkan masalah di zaman (post)modern sekarang dengan Islam, budaya Asia Timur (Cina) dengan Islam, dan segala hal yang aku pelajari dikaitkan dengan Islam. Pasti seru. Dari sini pula, mengapa aku merasa hidup dan mengakui adanya kehidupan. Tak sekedar Hanzi dan kuliah.

Kemudian, mencoba melawan rasa takut. Caranya? Nekat nyebur ke sungai (curug) yang dalamnya 3 meter hanya menggunakan pelampung. Sialnya, aku pakai rok -_-. Benar-benar, melawan ketakutan itu berasal dari kesabaran menghadapi ketakutan dan tantangan. Kepeleset di tanah becek dan licin, tertusuk duri-duri, dan menahan lelah, menahan benci kepada medan daki bukit yang mengesalkan.

TAPI SERU MEN, ah! Aku dapatkan semua.. Kini, analogi itu nyata banget. Lalu aku menghadapi ini semua, persis saat hiking. Persis.

So, is it life? 

Tuesday, February 11

Say this!

says...

加 油!

がんばってね!

when you are tired, very very tired.

:)

Thursday, February 6

Bandung Kini


14 Alasan Kenapa Ridwan Kamil adalah Walikota Paling Keren Saat Ini

Setelah membuka link diatas, saya makin yakin. Bahwa Bandung itu kota Paris van Java dan kota terkeren kalau walikotanya seperti itu.

Dan membuat saya ingin kesana (sendirian atau bareng temen) hanya dengan naik kereta api :)) 

Friday, January 24

Banyak, Orang Gila!

Terlalu banyak orang gila di sini. Ya, disini. Kamu yakin nggak dengan pernyataan itu? Pastilah yakin. Buktinya, kamu bisa lihat sendiri. Di kehidupan sehari-hari atau dimanapun

Mau kasih bukti?

Ternyata.. karena mereka mencapai sesuatu dengan cara yang instan. Mungkin ingin cepat mahsyur dan kaya. Namun, entah bagaimana konsekuensi di masa depan seperti apa.

Instan, instan dan instan. Itulah yang terjadi sekarang. Baik itu pemikiran-pemikiran instan, maupun tindakan-tindakan instan untuk memenuhi tujuan hidup mereka.

Pemikiran pertama itu sangaatlah sederhana. Namun rumit aplikasinya. Hidup serba sulit dan materialistis. Harga sembako mahal, pendidikan mahal dan dikomersialisasi, untuk keamanan dan kesehatan saja sulitnya minta ampun. Lantas, orang-orang yang dapat nikmat pendidikan malah (mungkin) dididik untuk menjadi robot dan apatis. Diajarkan seperti itu. Lalu, ketika sudah mendapat apa yang sudah didapat, mereka akan mempunyai kebanggaan sendiri karena menjadi.... pekerja... tanpa... hati.... dan minat..... Karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tadi yang serba mahal.

Kita saja sudah dicekcoki oleh pemikiran "UANG", "GAJI", "PROSPEK BAGUS" dan lain-lain untuk bisa mendapatkan sesuatu secara instan. Cepat kaya lah, kasarannya. Sungguh sayang. Jangka hidup, insya allah masih panjang. Hidup tak hanya pekerjaan dengan uang gaji yang besar serta prospek bagus (untuk memenuhi kebutuhan materialis industri).

Itu gila menurutku. Terlalu banyak orang gila disini... Plus plus gengsi, ah, tambah gila.

Pemikiran kedua yakni pemikiran instan yang sengaja sudah dipaket untuk mendidik manusia menjadi robot yang penurut. Maaf ya, pendidikan.

Ah, ini kan.. guessing but the fact, I watched the reality in our school life. Pendidikan yang sudah dibentuk sedemikian rupa, mungkin sudah bercampur aduk dengan bisnis pendidikan, keuntungan, kerugian, prospek, materi, bahkan, ah entahlah... politis? Mungkin.. Sehingga menjadikan kami sebagai manusia robot yang nurut. Nurut gimana yah? Nurutnya itu... ketika hasil tambang dan hasil sumber daya alam, diambil begitu saja. Sudah ada kok, ahli tambang dan ahli kelola sumber daya alam asli Indonesia. Namun, mereka menjadi robot untuk bekerja di sebuah perusahaan tersohor. Tak lain dan tak bukan, perusahaan yang secara halus mengambil hasil-hasil alam keren di negeri ini.

"Kamu ngomongin negeri? Guessing what? World is crazy, bro! Ngapain kamu mikirin negeri! Jikalau sekolahmu, nilai mata kuliah kamu, nilai ujian kamu, nilai dan lain-lain, bahkan untuk memberi makan anak-istiri, ataupun ngurusin diri sendiri saja tidak becus?!"

So what? See, people come and they are crazy. This is what I mean. 

Tindakan instan? Guess it guys, you know all than me :P

Then, I'm not so idealist since study humanities in my university. I'm still love to study and read science and technology :) When you know that knowledge is a power. Someday, knowledge will be a blur fusion. There is no barrier between science-technology and social-humanities.

Aneh kan, dunia ini? Aneh kan dengan orang-orang yang punya obsesi namun caranya instan? Dan, aneh kan bila kita putus asa karena mengejar dunia. Not balancing between world and here after?

***

Bukannya ingin bagaimana. Bolehlah berobsesi. Boleh aja kok, instan. Tapi, instan itu kan nggak enak. Dan yang terjadi sekarang malah mencetak untuk menjadi manusia unggul dalam segala hal. Namun, kesempurnaan itu malah menjadikan kita robot yang penurut. Akan tersiksa jika sudah mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara tersebut. Kesempurnaan itu membuat buta lalu hampa. Mau lari kemana, nak?

Closing:
" Mi instan aja nggak enak dan nggak sehat buat anak kos. Masa anda tidak? ^.^ "

Thursday, January 16

Tentang Koma, Katanya~

Suatu hari, aku pernah mampir di blog teman waktu SMA. Lalu menemukan sebuah tulisan yang judulnya abstrak. Cukup menarik. Mengimajinasikan manusia sebagai titik dan titik itu kecil. Nggak pantas untuk menyombongkan diri, katanya. Aku senang membaca blog itu, karena menjawab pertanyaan-pertanyaan sunyiku yang tak ada jawabannya.

Aku mengomentari tulisan itu. Untuk sekedar membuat jejak.

"Apakah manusia termasuk bagian dari koma?"

Nggak tahunya, temanku menjawab. Baik banget :))

"Mungkin aja sih, beberapa orang tercipta sebagai sebuah koma buat orang lain. Koma, yang jadi tempat buat istirahat setelah lelah membaca. Koma, yang memperjelas maksud dari setiap perjalanan membaca. Koma itu berguna banget. Tapi ya gitu, namanya juga koma, dia bukan pemberhentian terakhir."

Penasaran. Aku tanya lagi.

"Kalo manusia jadi koma, berarti setelah koma masih ada pemberhentian yang lain?"

Temanku dengan pede menjawab, "Exactly."

Seriously. Ada kepuasan tersendiri.

***

2012 berlalu. Sekarang tahun 2014. Aku membuka blog teman SMA itu dan iseng-iseng membaca tulisannya yang mungkin tak kunjung update. Tiba-tiba, mataku berhenti pada satu tulisan. Memaksa ingatanku dibongkar oleh tulisan itu. Kayaknya pernah baca.

Ternyata benar, setelah kubaca lagi dan membaca komentar-komentar, ada yang salah dalam memahami komentar-komentar itu.

Hmm..

Jadi gini, aku pernah baca buku karya Ust. Felix Siauw. Kalo nggak salah sih, judulnya "Udah Putusin Aja". Dia mengatakan bahwa, orang yang serius gak akan pernah membuat orang lain menunggu. Atau gini dah, ibaratkan orang yang serius, gak akan numpang di suatu pemberhentian sementara. Dia akan fokus ke jalan lurus, ga nengok kemana-mana. Mirip tulisan tanpa koma. Karena jika menumpang di suatu pemberhentian sementara, dia akan melakukan tindakan sewenang-wenang, sok-sokan, dan menghancurkan semuanya.

Salah satunya, orang yang punya tempat pemberhentian bakal nanya gini. "Kapan nih orang pergi? Ganggu aja. Bayar kagak, gratis tok. Kayak rumah dia aja". Atau ngusir. "Pergi lu! Sono cari tempat yang enak! Emang ini rumah lu". Mungkin begitu.

Beda halnya jika dia terus fokus tanpa berhenti di tempat yang tepat, titik namanya. Pasti tidak akan terjadi seperti cuma numpang doang di tempat pemberhentian sementara.

Eh, waiiittt!!!! Berarti.... Jika ada orang yang dijadikan tempat pemberhentian (yang belum berakhir) dan hal itu sama artinya dengan... koma? Oh my God... Kenapa baru paham sekarang (-_-")/*

Seperti itukah maksud dari tulisan blog teman lamaku? Semoga tidak salah paham.

Apakah saya dan mbak/mas pembaca termasuk dari.. koma? Yang mungkin menjadi tempat singgah?

Entah kenapa, ngerasa nyesek. 

Wednesday, January 15

2013-2014: Holiday in Lense


Start from here.


Senja dan Monas dari kejauhan. 

Hai Pekalongan! ^,^

Kamu suka kucing, kan? Here it is! 

Entah ini mural atau coretan dari berandal di pinggir jalan pecinan Pekalongan.

Kecap dari segala kecap

 Sekolah menengah pertama yang kuno. Berdiri sejak tahun 1924.

 Paling sering dikunjungi dan paling ramai. Guci, Tegal. 

Eksperimen sendiri.

 Ada yang berminat? :)

 Kesan setelah menginjakkan kaki ke daerah ini, merinding dan takut. Hawa panas dingin. Kemungkinan lagi "disambut".


 Sayang, sudah tidak ada lagi.


Kapal-kapal sedang istirahat sejenak.

Hai, sore. Aku akan pergi. 
再见!:

Tuesday, January 14

i found something wrong between long distance friendship (relationship? LOL)

can you find it?

brace yourself! \m/

Friday, January 10

Janji. Promises.

Pantas bila ada orang yang memasang tampang menghakimi seseorag untuk menagih janji yang pernah diucapkan. Kecewa? Tentu. Namanya juga berharap kepada manusia.

Belum lagi, jika ada (lagi) orang yang sangat sabar bila janji itu belum ditagih oleh orang yang mengucap janji. Dengan jaminan, waktu masih lama dan pasti akan menjawab semua. Suatu saat akan terjadi :) See? How abstract. Sebenarnya, kita sendiri nggak tahu sih. Umur orang kapan bertahan dan entah apa yang terjadi hari esok juga belum tahu pasti.

Entahlah, apa jaminan janji? Banyak orang kecewa dengan janji-janji. Contoh kecil saja, orang yang punya otoritas atau kewenangan untuk memberikan sesuatu, pasti punya janji tertentu untuk melunasi dan memenuhi keinginan orang yang berhadapan dengannya. Pasti. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, orang yang punya otoritas itu lupa janjinya. Sehingga bila "orang kecil" ini menagih janji dan menuntut, si "orang kecil" ini dianggap tidak ada apa-apanya. Tidak didengar. Bahkan dilupakan. Betapa kesalnya "orang kecil" ini bila terus disogoki oleh janji-janji.

Janji, jadi bagaimana? Janji sebenarnya nggak bisa main-main dan dimainin. Orang akan berharap bahkan menggantungkan diri pada harapan yang diberikan oleh si pembuat janji. Kemungkinan besar akan terjadi kekecewaan, keresahan, kegalauan, merasa diperlakukan tidak adil, dilupakan, diremehkan, bahkan menghabiskan waktu yang sangat singkat ini.

Dan itulah yang terjadi sekarang. Kan bentar lagi Pemilu. Dan nggak hanya Pemilu, banyak orang yang mengumbar janji di kehidupan sehari-hari untuk kehidupan lebih baik. Banyak, contoh kecil saja sudah bertebaran dimana-dimana :)

Selamat (bermain dengan) berjanji! Hati-hati! ^,^

Sunday, January 5

So Romantic!


These couple celebrates their 61st anniversary with "Up" inspired photoshoot.