Selasa, Desember 24

Engineer and Programmer or Translator and Writer?

Apakah setiap orang punya jalannya masing-masing? Meski ia merasa salah langkah namun ia sangat menikmati dan mencintai apa yang membuat ia salah langkah.

Apakah setiap orang punya keahlian eksak? Kenapa hanya itu yang dipandang orang? Bagaimana dengan kemampuan bahasa dan sastra, yang sebenarnya mendukung semua orang untuk berkomunikasi?

Jadi, bagaimana?

Ada rasa iri ternyata. Menjadi programmer, teknisi, dan peneliti ternyata sangat menggiurkan dan menggoyahkan keyakinan saya untuk tetap bertahan di jurusan yang saya pilih. Ah, memang sih. Kemampuan analitis dan logika seseorang tidak bisa dipaksa. Namun bisa dilatih. Tapi, bagaimana jika kemampuan bahasa, menulis, membaca, dan menyukai sastra lebih dominan daripada apa yang saya inginkan?

Semua orang pernah mengalami ini. Saya yakin sekali.

Jadi? Jika kita menggabungkan semua itu, akan menjadi apa? Super? Hebat? Atau tertekan? Lihat saja nanti. 

2 komentar:

  1. kadang aku juga ngiri sama orang sastra, terutama mereka2 yg pinter nulis..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang aku juga ngiri sama programmer bisa nulis. mereka kayak perpaduan langit dan tanah. sama -sama jauh tapi sejalan

      Hapus

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.