Jumat, September 27

"Apa gunanya banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu."

Wiji Thukul (Aktivis Reformasi 1998)

Kamis, September 26

kepala. ku.

kepala.
ku.
isinya semua kepulan pikiran tak terbuang
tertahan karena rasa,
lingkungan,
tekanan,
dan hambatan.


suara.
ku.
tertahan.
aku tak bisa bicara
aku tak bisa teriak.
ketika semua mengutamakan generalisasi
ketika semua mengutamakan gengsi

katanya berjuang,
tapi masih ada gengsi?
untuk apa?
susah susah masuk sini tapi tetap mengutamakan itu?
masih adakah jalan lain?

karena, tujuanku bukan ini.

tapi jauh disana.

Kamis, September 12

Dua Minggu Ini

Hai malam. Akhirnya kita ketemu lagi ya.

Dua minggu ini, aku belajar bagaimana mengatur semuanya serba sendiri. Sendiri bukan dimaksud bahwa tanpa Tuhan.

Prioritas memang ada di tangan sendiri. Hanya diri sendiri yang benar-benar bisa memegang kendali supaya tidak terperosok. Jauh dari tujuan. Atau mungkin, melakukan hal menyimpang lainnya.

Oh ya, dan jadi mahasiswa tak hanya sekedar mendapat "jaket". Tapi lebih ya ternyata. Kuliah cuma terjadi sekali seumur hidup. Kecuali tetap ngelanjut S2 dan S3. Tetap mahasiswa kok. Tapi sensasinya beda.

Karena cuma dikasih waktu 3,5, 4, dan 5 tahun. Seperti itulah rentang waktu yang terlihat lama namun sebentar untuk membentuk pola pikir dan sikap kalo kuliah lebih dari angan-angan yang dimiliki saat SMA.

You know the reality. You live with another people, with civil people.

(bersambung)

Minggu, September 8

Kepastian

Aku hanya butuh kepastian. Bukan digantung.

Tapi siapa yang memberi itu?

Tuhan kah? yang memiliki kuasa lebih besar dan menguasai seluruh jagat raya.

Atau kamu kah? seonggok ciptaan Tuhan yang punya kekuasaan untuk memutuskan dan menghasilkan keputusan yang tak sehebat Tuhan?

Kecewa? Mungkin.

Bukankah setiap yang berharap kepada manusia terkadang diberi kekecewaan?

Lalu dimana kepastian yang sebenarnya?