Selasa, Juli 30

Oh How Come, Monday? :)

Senin, yuk pikirkan betapa hebatnya kalimat "I Hate Monday".

Tapi itu tidak terlalu berpengaruh bagi saya. Karena, saya sempat takjub dengan betapa dekatnya gedung FKM dan perpustakaan. Ternyata perpustakaan di kampus saya, sangatlah besar dan luas, kawanku.

Hari Senin adalah puncak kelelahan dimana pada saat itu -- pelajaran mencari harta karun informasi, mencocokkan kode dengan QR Code, serta bolak-balik ke suatu ruangan tertentu untuk mencari judul tesis. Hingga saatnya tiba, kami mencari nomor seri CD-ROM agar misi kelompok selesai.

Sebenarnya saya hampir rubuh. Maksudnya, mau pingsan tapi.... Nggak, saya kuat kok :3 Memang saat mencari harta karun informasi itu, dibutuhkan jiwa traveler dan feeling yang kuat supaya bisa menemukan kode-kode dan memecahkan kode misterius selanjutnya. Supaya misi selesai. Namun, yang dicari bukanlah itu saja.

Kekuatan fisik.

Seberapa kuatkah kita untuk tahan lama berjalan kaki, naik turun ramp (tangga berbentuk bidang miring), naik turun tangga, dan keluar masuk ruangan perpus tertentu. Lagi puasa sih, tapi itu kan, tantangan. Seberapa kuat fisik kita bila digabungkan dengan rasa penasaran sama isi kode itu.

Yang kedua... Kebersamaan.

Ceritanya, kami harus bareng-bareng mencari dan memecahkan kode misterius itu. Dengan jalan kaki. Harus ada yang mau berkorban. Capek dan pusing bareng. Dan ada pula yang baik banget mau menjaga tas teman kelompok sendiri-yang sedang mencari judul tesis.

Terkadang, kebersamaan itu membuat cerita perjalanan panjang memecahkan kode misterius menjadi hidup. Ada aja, teman kelompok yang ngerasa bersalah banget karena kurang memperhatikan gimana caranya menggunakan search engine khusus perpustakaan tersebut. Sehingga, saat ada teman kelompok yang memegang komputer, dia memberitahu bahwa tertera langsung webpage kode nomor panggil CD-ROM yang nyaris sama.

Jreng jreenggg!!!!!

Kode nomor panggil CD-ROM hampir sama nomor depannya tapi sedikit berbeda pada nomor belakang. Nih, misalnya kode 100700158 kami temukan di monitor. Tetapi kode yang kami butuhkan adalah 100700159. Kan, agak nyesek. Kami semua garuk-garuk kepala dan hidung. Saya dan beberapa teman sekelompok hampir aja menemukan nomor angka belakang 159. Tapi depannya malah 1001. Ya nyesek juga. T_T

Karena sudah hampir satu jam lebih mencari kode dan memecahkannya, maka kami balik ke gedung FKM. Kepepet juga, hampir jam satu siang, kami semua belum sholat zuhur. Panik mah iya. Karena pelajaran dimulai jam satu siang. Dhina rah, epatennang sopaje selamet. Santaiagi, gi' bennya' bakto. (Biarin, tenang aja supaya selamat. Santai, masih banyak waktu. bahasa Madura).

Itu mah di kampus saya, hehe :D Belum lagi naik kereta. Seru juga.

Namun kali ini agak gimana gitu. Masih mending sih, dari Stasiun Pondok Cina ke Stasiun Manggarai, penumpang tidak terlalu penuh dan bisa duduk dengan nyaman bersama teman saya. Setelah itu, saya turun lalu pindah ke jalur 4. Mulai ada tanda-tanda kiamat. Eh, bukan. Tanda-tanda bahwa kereta akan penuh.

Ya, meskipun di gerbong khusus wanita. Intinya kalau kereta berbelok sedikit saja dan ada suara gesekan antara rel kereta dengan roda, maka akan ada riuh suara ibu-ibu dan wanita-wanita disana. Cukup heboh. Tapi bikin ketawa. Ga kerasa juga kalau badan ini sudah lengket karena berdesakan dengan badan lain. Berdiri pula.

Sampai di stasiun Bekasi. Dengan penuh percaya diri, saya nekat jalan kaki dari stasiun sampai Proyek (pasar) untuk nyari angkot atau ojek yang murah. Lumayan, 1 km ada lah.

Ya mahasiswa sih. Anak sekolahan juga... Harus semangat dan memperjuangkan hak-hak (naik kendaraan berongkos murah), hehe.

Saat jalan itulah energi saya sudah mencapai tingkat dasar. Hampir rubuh, mata berkunang-kunang. Butuh sandaran, kedinginan, kesepian. Ibuuukk. Haduh apa ini. Ya gitu deh -__- Beruntung masih dilindungi Allah. Jadi tak apa, dengan penuh percaya diri, saya tetap melanjutkan jalan kaki sampai perempatan Proyek yang macet untuk mendapatkan ongkos ojek yang murah. Hehehe.

Poin ketiga membutuhkan jiwa traveler dan feeling adalah keberanian. Keberanian. Seberapa beranikah kita menghadapi dan melawan ketakutan, kesendirian, kantuk bahkan kemalasan. Walaupun hal kecil kayak jalan kaki yang cuma 1 km dengan energi hampir habis dan pegal-pegal. Termasuk pula berani menawar harga ongkos ojek.

Keempat adalah ketenangan dan tetap santai. Ya, kalo nggak. Pikiran jadi mumet di jalan. Nggak konsentrasi. Bahayanya adalah, saat jalan kaki, kita ngelamun. Dan di kereta misalnya. Pas lagi ngerem, ga sadar udah tersungkur ke lantai. Agak miris sih....

That's it, kegiatan orientasi kemarin sangat membekas. Apalagi di bagian jalan kaki seharian penuh. Siapa tahu, ini latihan awal untuk selanjutnya. Bisa saja kan, nanti akan jalan kaki puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer menuju suatu tempat, terutama mendaki gunung di daerah Xinjiang Uygur. Amiin :D

Semangat jalan kaki! :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.