Cari

Friday, July 26

Ada Fisika di Komuter Line

Gimana sih rasanya kalau....

Sains berupa fisika, teori relativitas dijadikan cerita berupa kejadian di kereta api? Kayaknya seru. Apalagi dibumbui dengan kisah perjalanan mahasiswa baru alias freshman. Ya, fresh sih. Padahal umurnya juga udah tua.

Pertamanya begini. Aku dan temanku pergi bareng-bareng ke stasiun kereta api di kota kami menuju Universitas Indonesia. Kami kesana karena ada kumpul bareng se-angkatan jurusan. Awalnya sih, temanku bilang, dia gak biasa naik kereta api. Dan aku baru dua kali ini naik kereta. Karena sama-sama masih baru dan kepepet, akhirnya terpaksa kami lawan segala rasa takut dan ketidaktahuan ini, kayaknya seru juga sih, hehe.

Mumpung masih segar (dalam hal mengingat jalur rel kereta api gak serumit di Jepang) dan kuat, jadi aku dan temanku berani dan nekat memilih komuter line yang isinya bukan penumpang wanita. Kami berdua kaget sih. Harus berdesak-desakan dengan bapak-bapak, pegawai kantoran, sebagian mbak-mbak pegawai kantoran, dan rebutan meraih pegangan supaya tidak terjatuh ketika kereta mengerem. Kami berdua tetap berdiri hingga turun ke stasiun Manggarai lalu naik lagi menuju Depok. Rasanya kayak naik kereta api di Jepang. Karena komuter line yang kami naiki ini memang dari Jepang.

Suasana desak-desakan jam 7 pagi sampai jam setengah 8 itu cukup menyiksaku. Disinilah aku merasakan dan melihat mereka betapa antusiasnya mereka bekerja dan hanya naik kereta. Nggak naik mobil yang mungkin lebih nyaman dan bebas. Mungkin karena murah, kereta (komuter line) ber-AC, aman pula. Nggak seperti kereta api zaman dulu, kereta api ekonomi yang panas, dan kadang suka berbuat aneh-aneh.

kereta = komuter line.

Disini pula, aku memperhatikan bagaimana pertemuan antara kereta yang kami naiki dengan kereta lain yang tetap melaju dengan kecepatan sama. Mataku melihat bahwa kereta di luar sana bergerak. Sedangkan kalau dilihat dan dirasakan, aku merasa diam. Padahal mah, kereta tetap bergerak juga setelah melihat kereta itu sampai habis. Gak kerasa.

Sama dong kayak gini:

"Bayangkan ini seperti saat Anda berada di dalam sebuah kapal selam yang bergerak dengan kecepatan tetap Anda tidak akan dapat mengatakan apakah kapal selam tengah bergerak atau diam."

Einstein, 1905. Tentang Elektrodinamika Benda Bergerak.
(Relativitas khusus, Albert Einstein. Sumber: Wikipedia, Teori Relativitas).

Atau lebih mumetnya:

"Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam." 

Einstein, 1905. Tentang Elektrodinamika Benda Bergerak.
(Relativitas khusus, Albert Einstein. Sumber: Wikipedia, Teori Relativitas)

Secara, perasaan ini lebih kuat saat melihat pertemuan dua kereta. Perasaan apa ya?

Meskipun pada akhirnya, kami pulang dari Depok dan duduk dengan tenang dan nyaman. Aku tetap memperhatikan kejadian simpel ini yang masuk dalam teori Fisika. Seru sih. Mungkin, orang-orang menganggap remeh. Kebanyakan sibuk dengan gadget sendiri atau bengong-lah, minimal. Tapi kejadian teori Fisika di kereta ini seru banget ternyata dan membuat hari ini seru banget. Entah kenapa, jadi kangen belajar Fisika lagi, hehe.

Akan selalu terjadi pembuktian teori relativitas ini. Karena kami akan selalu naik kereta api. Selamat ya :)

No comments:

Post a Comment

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.