Cari

Wednesday, July 31

Continual Learner

"Kita adalah pemelajar seumur hidup. Maka, kadang pemelajar seumur hidup tidak hanya menekankan pada hasil atau output. Tetapi lebih kepada proses atau langkah bagaimana menuju kesuksesan dan tujuan yang diinginkan pemelajar tersebut.
Berpikir kritis. Melihat peluang bagaimana masalah itu dapat dipecahkan."

Hasil inspirasi selama 4 hari orientasi belajar mahasiswa.

Continual learner, actually needed for our life. 

Tuesday, July 30

Oh How Come, Monday? :)

Senin, yuk pikirkan betapa hebatnya kalimat "I Hate Monday".

Tapi itu tidak terlalu berpengaruh bagi saya. Karena, saya sempat takjub dengan betapa dekatnya gedung FKM dan perpustakaan. Ternyata perpustakaan di kampus saya, sangatlah besar dan luas, kawanku.

Hari Senin adalah puncak kelelahan dimana pada saat itu -- pelajaran mencari harta karun informasi, mencocokkan kode dengan QR Code, serta bolak-balik ke suatu ruangan tertentu untuk mencari judul tesis. Hingga saatnya tiba, kami mencari nomor seri CD-ROM agar misi kelompok selesai.

Sebenarnya saya hampir rubuh. Maksudnya, mau pingsan tapi.... Nggak, saya kuat kok :3 Memang saat mencari harta karun informasi itu, dibutuhkan jiwa traveler dan feeling yang kuat supaya bisa menemukan kode-kode dan memecahkan kode misterius selanjutnya. Supaya misi selesai. Namun, yang dicari bukanlah itu saja.

Kekuatan fisik.

Seberapa kuatkah kita untuk tahan lama berjalan kaki, naik turun ramp (tangga berbentuk bidang miring), naik turun tangga, dan keluar masuk ruangan perpus tertentu. Lagi puasa sih, tapi itu kan, tantangan. Seberapa kuat fisik kita bila digabungkan dengan rasa penasaran sama isi kode itu.

Yang kedua... Kebersamaan.

Ceritanya, kami harus bareng-bareng mencari dan memecahkan kode misterius itu. Dengan jalan kaki. Harus ada yang mau berkorban. Capek dan pusing bareng. Dan ada pula yang baik banget mau menjaga tas teman kelompok sendiri-yang sedang mencari judul tesis.

Terkadang, kebersamaan itu membuat cerita perjalanan panjang memecahkan kode misterius menjadi hidup. Ada aja, teman kelompok yang ngerasa bersalah banget karena kurang memperhatikan gimana caranya menggunakan search engine khusus perpustakaan tersebut. Sehingga, saat ada teman kelompok yang memegang komputer, dia memberitahu bahwa tertera langsung webpage kode nomor panggil CD-ROM yang nyaris sama.

Jreng jreenggg!!!!!

Kode nomor panggil CD-ROM hampir sama nomor depannya tapi sedikit berbeda pada nomor belakang. Nih, misalnya kode 100700158 kami temukan di monitor. Tetapi kode yang kami butuhkan adalah 100700159. Kan, agak nyesek. Kami semua garuk-garuk kepala dan hidung. Saya dan beberapa teman sekelompok hampir aja menemukan nomor angka belakang 159. Tapi depannya malah 1001. Ya nyesek juga. T_T

Karena sudah hampir satu jam lebih mencari kode dan memecahkannya, maka kami balik ke gedung FKM. Kepepet juga, hampir jam satu siang, kami semua belum sholat zuhur. Panik mah iya. Karena pelajaran dimulai jam satu siang. Dhina rah, epatennang sopaje selamet. Santaiagi, gi' bennya' bakto. (Biarin, tenang aja supaya selamat. Santai, masih banyak waktu. bahasa Madura).

Itu mah di kampus saya, hehe :D Belum lagi naik kereta. Seru juga.

Namun kali ini agak gimana gitu. Masih mending sih, dari Stasiun Pondok Cina ke Stasiun Manggarai, penumpang tidak terlalu penuh dan bisa duduk dengan nyaman bersama teman saya. Setelah itu, saya turun lalu pindah ke jalur 4. Mulai ada tanda-tanda kiamat. Eh, bukan. Tanda-tanda bahwa kereta akan penuh.

Ya, meskipun di gerbong khusus wanita. Intinya kalau kereta berbelok sedikit saja dan ada suara gesekan antara rel kereta dengan roda, maka akan ada riuh suara ibu-ibu dan wanita-wanita disana. Cukup heboh. Tapi bikin ketawa. Ga kerasa juga kalau badan ini sudah lengket karena berdesakan dengan badan lain. Berdiri pula.

Sampai di stasiun Bekasi. Dengan penuh percaya diri, saya nekat jalan kaki dari stasiun sampai Proyek (pasar) untuk nyari angkot atau ojek yang murah. Lumayan, 1 km ada lah.

Ya mahasiswa sih. Anak sekolahan juga... Harus semangat dan memperjuangkan hak-hak (naik kendaraan berongkos murah), hehe.

Saat jalan itulah energi saya sudah mencapai tingkat dasar. Hampir rubuh, mata berkunang-kunang. Butuh sandaran, kedinginan, kesepian. Ibuuukk. Haduh apa ini. Ya gitu deh -__- Beruntung masih dilindungi Allah. Jadi tak apa, dengan penuh percaya diri, saya tetap melanjutkan jalan kaki sampai perempatan Proyek yang macet untuk mendapatkan ongkos ojek yang murah. Hehehe.

Poin ketiga membutuhkan jiwa traveler dan feeling adalah keberanian. Keberanian. Seberapa beranikah kita menghadapi dan melawan ketakutan, kesendirian, kantuk bahkan kemalasan. Walaupun hal kecil kayak jalan kaki yang cuma 1 km dengan energi hampir habis dan pegal-pegal. Termasuk pula berani menawar harga ongkos ojek.

Keempat adalah ketenangan dan tetap santai. Ya, kalo nggak. Pikiran jadi mumet di jalan. Nggak konsentrasi. Bahayanya adalah, saat jalan kaki, kita ngelamun. Dan di kereta misalnya. Pas lagi ngerem, ga sadar udah tersungkur ke lantai. Agak miris sih....

That's it, kegiatan orientasi kemarin sangat membekas. Apalagi di bagian jalan kaki seharian penuh. Siapa tahu, ini latihan awal untuk selanjutnya. Bisa saja kan, nanti akan jalan kaki puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer menuju suatu tempat, terutama mendaki gunung di daerah Xinjiang Uygur. Amiin :D

Semangat jalan kaki! :))

Sunday, July 28

Antara Bukber dan Insomnia (Lagi)

Semakin lama, saya akan tidur larut setiap hari. Entah kenapa. Entah saya sedang menunggu siapa, padahal tidak akan ada orang yang mau tetap bersama saya pada jam larut malam tersebut.

Apakah hantu yang membisu? Bukan.

Apakah jin yang siap mengganggu? Bukan juga.

Atau, seseorang yang pernah memiliki probabilitas kegiatan yang sama? Apalagi itu, bukan juga ah.

Tetapi, seberapa kuatkah jika suatu saat, saya tidak bisa tidur menjalani sesuatu hal yang akan saya hadapi beberapa bulan dan beberapa tahun kemudian.

Sekian :)

***

Oh ya! Bukber hari ini seru banget!! Meskipun alay dan rame banget, tapi yah, kapan lagi. Menyambut diri bertransformasi menjadi mahasiswa. Setidaknya bisa sedikit bersenang-senang dan siapa tahu beberapa bulan dan beberapa tahun kemudian bisa ngakak sendiri mengingat kejadian bukber yang pernah kami lakukan ini. Asli lucu. Sampe disorakin di tempat umum dan berasa anak gaul getoh.

Maaf ya! Ah, lucu deh kalian! Makasih banget :*

Friday, July 26

Ada Fisika di Komuter Line

Gimana sih rasanya kalau....

Sains berupa fisika, teori relativitas dijadikan cerita berupa kejadian di kereta api? Kayaknya seru. Apalagi dibumbui dengan kisah perjalanan mahasiswa baru alias freshman. Ya, fresh sih. Padahal umurnya juga udah tua.

Pertamanya begini. Aku dan temanku pergi bareng-bareng ke stasiun kereta api di kota kami menuju Universitas Indonesia. Kami kesana karena ada kumpul bareng se-angkatan jurusan. Awalnya sih, temanku bilang, dia gak biasa naik kereta api. Dan aku baru dua kali ini naik kereta. Karena sama-sama masih baru dan kepepet, akhirnya terpaksa kami lawan segala rasa takut dan ketidaktahuan ini, kayaknya seru juga sih, hehe.

Mumpung masih segar (dalam hal mengingat jalur rel kereta api gak serumit di Jepang) dan kuat, jadi aku dan temanku berani dan nekat memilih komuter line yang isinya bukan penumpang wanita. Kami berdua kaget sih. Harus berdesak-desakan dengan bapak-bapak, pegawai kantoran, sebagian mbak-mbak pegawai kantoran, dan rebutan meraih pegangan supaya tidak terjatuh ketika kereta mengerem. Kami berdua tetap berdiri hingga turun ke stasiun Manggarai lalu naik lagi menuju Depok. Rasanya kayak naik kereta api di Jepang. Karena komuter line yang kami naiki ini memang dari Jepang.

Suasana desak-desakan jam 7 pagi sampai jam setengah 8 itu cukup menyiksaku. Disinilah aku merasakan dan melihat mereka betapa antusiasnya mereka bekerja dan hanya naik kereta. Nggak naik mobil yang mungkin lebih nyaman dan bebas. Mungkin karena murah, kereta (komuter line) ber-AC, aman pula. Nggak seperti kereta api zaman dulu, kereta api ekonomi yang panas, dan kadang suka berbuat aneh-aneh.

kereta = komuter line.

Disini pula, aku memperhatikan bagaimana pertemuan antara kereta yang kami naiki dengan kereta lain yang tetap melaju dengan kecepatan sama. Mataku melihat bahwa kereta di luar sana bergerak. Sedangkan kalau dilihat dan dirasakan, aku merasa diam. Padahal mah, kereta tetap bergerak juga setelah melihat kereta itu sampai habis. Gak kerasa.

Sama dong kayak gini:

"Bayangkan ini seperti saat Anda berada di dalam sebuah kapal selam yang bergerak dengan kecepatan tetap Anda tidak akan dapat mengatakan apakah kapal selam tengah bergerak atau diam."

Einstein, 1905. Tentang Elektrodinamika Benda Bergerak.
(Relativitas khusus, Albert Einstein. Sumber: Wikipedia, Teori Relativitas).

Atau lebih mumetnya:

"Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam." 

Einstein, 1905. Tentang Elektrodinamika Benda Bergerak.
(Relativitas khusus, Albert Einstein. Sumber: Wikipedia, Teori Relativitas)

Secara, perasaan ini lebih kuat saat melihat pertemuan dua kereta. Perasaan apa ya?

Meskipun pada akhirnya, kami pulang dari Depok dan duduk dengan tenang dan nyaman. Aku tetap memperhatikan kejadian simpel ini yang masuk dalam teori Fisika. Seru sih. Mungkin, orang-orang menganggap remeh. Kebanyakan sibuk dengan gadget sendiri atau bengong-lah, minimal. Tapi kejadian teori Fisika di kereta ini seru banget ternyata dan membuat hari ini seru banget. Entah kenapa, jadi kangen belajar Fisika lagi, hehe.

Akan selalu terjadi pembuktian teori relativitas ini. Karena kami akan selalu naik kereta api. Selamat ya :)

Monday, July 22

Yuk Belajar Mencintai

Assalamu'alaikum. Hey you guys!!

Semua orang pasti akan belajar mencintai. Apapun itu. Termasuk pada awalnya kita belajar mencintai seseorang.

Meskipun kita sudah melewati rintangan berupa ujian tulis dan seleksi lain-lainnya. Sebenarnya Allah menguji kita. Apakah kita ikhlas mencintai pilihan yang kita pilih. Atau sama saja memilih karena terpaksa? Atau malah memilih pilihan namun main-main? *PHP dong, eehhh...*

Hei, ini usaha bro! Sudah berapa kali kamu jatuh karena melakukan kesalahan yang kamu buat sendiri? Kenapa sih, nggak mau usaha untuk menghargai pilihan yang kamu pilih? Katanya belajar mencintai. Tunjukkin dong! Jangan sama manusia juga, men. Tapi jurusan bro. Empat tahun kamu bakal bergelut dan will be mastering the major in college or university. Masih juga mau men-zholimi diri sendiri?

Ingat ini pelajaran mencintai juga. Mencintai tak harus sama manusia. Tapi sama jurusan. Sama pilihan hidup selama 4 tahun di dunia perkuliahan. Jangan cuma mencintai pilihan karena ganteng atau cantiknya penampilan universitas. Tapi cintailah karena passion, minat, sukanya dimana. Atau kasarnya, lebih kerasan belajar di jurusan apa!

Jika kamu mencintai dua pilihan, bagaimana?

Sama kayak kita mencintai dua orang.

Satunya udah diterima nih, tinggal jalan aja. Udah ganteng atau cantiknya universitas, mantap, keren pula. Bergengsi dan impian seluruh negeri lagi.

TAPI APA?

Hanya ada satu cinta yang dipilih ketika awaal banget seleksi, SNMPTN. Mungkin itulah cinta (pertama)mu. Kamu jatuh cinta pada pandangan (daftar matkul dan kurikulum) pertama. Itulah pilihan dan tempat yang sedang menunggu untuk berlabuh. Dia itu setia, ga macem-macem. Selalu menyimpan harapan terbesar bagi orang yang memilihnya sejak lama. Meskipun kita dapat yang menggiurkan, tapi dia selalu yakin. Dia selalu jadi incaran orang. Tak kalah bagus, universitas ini sangat berpengaruh dan berhubungan dengan masalah pangan dan pertanian di negeri ini.

Hai, tunggu aku disana :) Ingin rasanya menangis bila diterima di kamu.

Terus gimana dong sama yang lama?

Yang lama?

Yuk, serahkan sama Allah Yang Maha Kuasa. Yuk, serahin semuanya ke Allah. Dia pasti lebih tau apa yang akan terjadi dibalik belajar mencintai selama setahun kelas 3 SMA dan berjuang seperti teman-teman lainnya.

Dan,

Yuk, mari kita luaskan pandangan tentang belajar mencintai. Jurusan kuliah :)

Monday, July 15

Hal Berharga Saat Ngeblog

Yang pelajaran yang saya ketahui selama ngeblog selama 3 tahun ini adalah....

"Tak apa posting-mu sedikit. Tapi berkualitas, menohok, membekas di ingatan, bahkan sampai kamu ketawa atau terharu sendiri kayak orang gila."

"Readers memang penting. Feedback mereka sangat penting, karena mereka mengapresiasi apa yang kita tulis. Lain halnya mencari readers untuk fame atau nge-eksis atau kepopuleran. Kalau posting bagus, maka readers akan menyusul dan mengapresiasi tulisan kita."

"Jika sudah klop sama readers dan care sama apresiasi mereka. Jadilah kita mem-follow blog mereka. Kita jadikan teman, lebih dari sekedar teman. Karena teman yang menulis itu "istimewa" meskipun di dunia maya. Lihatlah, setelah semua itu terjadi, maka akan terjadi kopdar alias temu blog di dunia nyata. Seru banget dong, pastinya."

"Kalau kamu ngeblog untuk nyari fame alias kepopuleran. Ya nggak usah ngeblog. Ngeblog itu buat berbagi, buat ngelmu. Buat nyari pengalaman orang lain dan memahami mereka. Banyak tuh blog-blog yang ditulis tanpa hati alias copy paste hanya untuk mendapatkan hits statik pengunjung yang banyak dan Google Page Rank #1. Ngapain coba? Nanti nyesal loh. Semua itu semacam third-party. Banyak banget blog model itu. Orang sudah bosan dan kesal sebenarnya, bila mencari informasi sangat penting. Eh gak taunya cuma URL doang."

"Peduli sama statistik pengunjung? Segera tutup blog Anda. Penyesalan akan datang. Karena, jika blog Anda adalah blog pribadi dengan statistik pengunjung banyak, maka pantas curiga. Terlalu banyak orang kepo di dunia ini setelah gempuran dunia maya dan social network. Maukah Anda di-bully di dunia nyata, atau diculik, atau dijadikan apapun oleh stranger(s) (orang yang tidak dikenal)? Kecuali jika blog Anda adalah blog non-pribadi. Tidak apa-apa. Maka, hati-hati ngeblog."

"Tetap konsisten di Blogger.com adalah penting. Kebanyakan blogger yang pindah rumah itu karena merasa butuh space untuk mengungkapkan pengalaman pribadi dan bersifat privasi mereka. Mungkin ada yang pindah ke Wordpress.com dan tumblr.com. Tapi terserah sih, pindah rumah bukan masalah. Bisa saja meningkatkan pengalaman nulis dan dunia maya."

"Hiatus juga penting. Hiatus sama seperti kematian. Tapi bukan kematian dalam arti sebenarnya. Penulis blog juga butuh istirahat. Mereka juga butuh interaksi dengan orang lain di dunia nyata. Siapa tahu, dengan hiatus, kita bisa posting dengan nuansa dan pengalaman baru."

"Bersyukur adalah nomor satu. Karena, gak semua blogger mau konsisten sama blog-nya. Gak semua blogger memiliki kemampuan nulis yang serius. Dan gak semua blogger punya kemampuan sensor tulisan dan editting yang bagus. Selain itu, gak semua blogger punya waktu yang pas untuk nulis."

3 tahun itu cepat. Saya baru sadar, ngeblog itu bisa mengembangkan kemampuan menulis. Bahkan bisa menjadi novel. Up to you. Ini pelajaran berharga banget buat saya, dan juga buat mbak/mas pembaca.

Tetaplah ngeblog! :D

Mulesnya perut...

Kenapa kalo lebaran itu mesti pake mules-mulesan kayak kemaren? Hmmm... mungkin, waktu perjalanan liburan ke Bromo de el el itu nggak tidur kali ya? Sibuuuukkk aja mikirin atau ngayal ga jelas. Apalagi, berangkat malam dari Sumenep Madura ke Surabaya itu memakan waktu hampir 3 jam. Udah gitu, aku duduk sendirian, paling belakang lagi! Penuh deh ama barang bawaan. Kebetulan juga sih, naik mobil Innova. Pantesan mules!

Udahlah, nggak usah dipikirin, itu terjadi hari Sabtu setelah maghrib, ketika aku dan keluargaku pergi liburan dan basecamp sementara di Surabaya, sendik BRI Surabaya. Disitulah basecamp kami. Hmm.. hari Minggu nya itu ke Bromo (siiihhhh, naik ke kawahnya dong!!).

Ceritanya gini, kenapa aku bisa mules perut di mobil. Sabtu itu kan lebaran kedua, lebaran pertama hari Jum'at kan? Pada hari Sabtu, aku dan keluargaku gantian berkunjung kerumah orang. Tapi, waktu itu kami hanya berkunjung ke rumah guru adikku, Pak Ismail. Beliau guru SD Pajagalan 2 Sumenep. Kebetulan juga, adikku lebih hapal rumah Pak Ismail lantaran les disana juga (guru favorit juga loh, hehe).

Berlama-lama disana, cerita apaaaa aja, sampe kenyang perutku. Bukan makan angin, tapi ditawarin makan kue toples buatan istri Pak Ismail. Ueeenaaak ee! Asli, dan lembut pastinya. *Duh, kok nggak nyambung ya?

Setelah beberapa lama bersilaturahmi dengan Pak Ismail, kami pulang ke rumah dengan hati yang lega. Kalo aku nggak, lemes dan aku mulai pening-pening kepala dimobil. Karena, sambil diperjalanan, kami membahas rencana jalan-jalan ke Bromo. APalagi, aku malah makin ngayal sesudah baca novel 5cm. Cerita tentang 6 orang anak manusia (emang manusia kan?) yang susah payah naik gunung Semeru untuk mencapai puncak tertinggi di Jawa Timur yakni Mahameru. Hmm.. nggak kebayang deh sama aku setelah membahas rencana ke Bromo. Sampe rumah, makan lalu beresin baju yang mau dibawa.

Awalnya aku stres karena bingung apa yang mau dilakukan. Ya beresin baju! Pake stres pula lagi. Ga cuma itu, perutku yang mules ini hanya gara-gara nggak tidur siang. Udahlah bingung ngeberesin baju apa yang mau dibawa, eh malah ditambah kurang tidur. Seharusnya jam 2 siang aku tidur lelap, lantaran capek rasanya gimana suntuknya nunggu lama dirumah Pak Ismail. Lalu, setelah ngeberesin baju selesai, aku siap-siap mandi. Waktu itu menunjukkan jam setengah 5. Nggak ada waktu untuk tidur-tiduran.


Ya Allah, udahlah mules, kurang tidur, selsai mandinya hampir mendekati waktu maghrib. Untungnya masih jam 5, tapi kayaknya aku udah terlalu lama. Pasti aku pilek selesai mandi. Ternyata iya benar. Aku pilek selesai mandi sampai aku mengambil wudhu sholat Maghrib. Setelah itu, aku nggak pilek lagi. Perut yang tadinya mules, udah terobati karena makan malam.

Jadilah kami semua pergi ke Surabaya jam setengah 7 malam. Waktu yang pas karena sampai di Sendik BRI Surabaya Guest House, kami tinggal tidur aja. Pertama-tama, mobil Innova nongkrong sebentar dirumah untuk ngangkut barang yang dibawa. Kemudian, pindah lagi ke BRI cab. Sumenep untuk titip kunci rumah dan titip mobil ibu. Tentu aja menunggu, aku memanfaatkan waktu yang sebentar itu menulis diary dan membaca cerpen majalah Story.

Perjalanan menuju Surabaya pun dimulai. Dari BRI ca. Sumenep, belok kanan menuju keluar kota. Lampu-lampu malam terang benderang, menambah rasa penasaranku terhadap Bromo "itu kayak gimana seh?". Ditambah lagi dengan berkilaunya satu bintang yang terlihat jelas dari jendela kaca mobil. Indah.. Diakah yang kupikirkan? Eh... dia-dia-dia? Dia Bromo kali... Kegiatan menulis diary segera kuhentikan saat mobil mulai melaju kencang dari pintu gerbang keluar kota. Aku takut pusing.

Unrung aja, bawa bantal! Dengan bantal, aku bisa tidur sejenak dengan puas. Eh, ternyata enggak cuy. Perutku mulai kambuh lagi. Dan ini tambah parah! Perjalanan masih di Kab. Sumenep, jalannya mulus memang, tapi perutku malah mengocok-ngocok semua isi didalamnya. Lalu, terasa kram karena mungkin posisi tidurku salah. Aduhh.. air liur kayaknya udah ngegantung ditenggorokan, pengen muntah tapi ga bisa! Aku paksakan memejamkan mata alias tidur. Bisa sih.. tapi sambil sms-an sama teman juga. *Sama aja neng...

Perut masih terasa mules. Nggak juga sih, mual. Jadi bukan mules ya.

Kira-kira, yang kurasakan itu mobil mulai berguncang kuat. Aduuhh, apalagi ini, kayaknya selama tinggal di Madura jalan oke-oke aja tuh. Tapi ini kok... Perutku tambah kram dan mual lagi! Rasanya ingin muntah tapi nggak bisa! Bener-bener nggak bisa!!!! Aku cepet-cepet bangun dan duduk selonjor. Capek aku kalo perutku gini terus. Mau digimanain lagi ini...

Aku masih duduk selonjor seolah lemas tidur terus. Stres kali ya? Mungkin... Setelah minum air Aqua, aku ngelanjutin tidur. Sebelumnya sih, minta minyak kayu putih biar ga sakit perut lagi. Emang melelahkan perjalanan malam ini buat (perut)ku.

Nggak terasa, aku dan keluarga udah nyampe dijembatan Suramadu yang indah! Indahnya itu loh, lampu warna-warninya *
urang udiak bikin penasaran. Sampai di jembatan Suramadu, aku nggak melanjutkan tidur lagi. Nggak perlu, perutku dan aku udah terlalu tersiksa sama jalannya. Nggak mulus. Dan paginya, siap-siap ngebayangin eh pergi ke Probolinggo untuk ke Bromo. Akses ke Bromo bisa dari Probolinggo. Banyak jalan yang mampu menembus Bromo lah!

Intinya, bagi para pemudik atau mbak/mas yang hobi jalan-jalan, jangan sungkan-sungkan muntah dijalanan! Karena itu perlu, mengeluarkan angin dan stres yang ada diperut dan dikepala. Tahan rasa gengsi muntahmu, kalo nggak kayak aku, sampe kram perutnya.

Kayaknya perjalanan ke Bromo tahun ini bakal menyenangkan banget. Terinspirasi oleh novel 5cm. Dan terganggu oleh mulesnya perut, hehe

Sunday, July 14

Welcome DSLR

Hobi lama berlanjut dengan kamera baru :D

Bukan berarti kameraku yang lama tidak terpakai. Justru kamera lama membawa kenangan manis dan perjuangan terindah untuk belajar seluk-beluk fotografi. Sehingga sampai saat ini saya tertarik banget sama fotografi makro dan lanskap (landscape). Mode fotografi bersiluet juga keren banget.

Terima kasih kamera digital lama. Selamat datang kamera DSLR baru. Walaupun bukan DSLR merek sejuta umat, tapi merek sedikit istimewa dan hanya orang-orang tertentu (misalnya fotografer National Geographic tuh hehe) bisa mempermudah belajar fotografi makro, siluet, dan lanskap.

"Semua kamera bagus. Merek apapun. Tetapi yang menentukan adalah lensa kamera tersebut" - sebuah komunitas fotografi di Jakarta Selatan.

Wednesday, July 10

Logika, Berbeda dan Tertawa

Semua terasa berbeda ya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini, aku membaca cerita dulu yang membuatku tertawa sekarang. Apa, logikaku sudah berjalan? Apakah, dulu, relasi antara dua manusia bisa dikatakan lucu dan imut, sehingga ada perselisihan yang membuat semuanya tidak menyenangkan?

Mungkin aku bukan orang yang mengungkit hal itu. Sudah berkali-kali orang yang bernasib sama, jungkir balik memahami soal logika. Akhirnya mengerti juga.

Karena kita sudah dewasa. Paham kalau mau hidup lancar pakai logika. Tapi tak selamanya logika. Logika itu robot. Logika itu menyesatkan.

Pakai hati.

Terima kasih, cerita-cerita dulu yang membuatku tertawa. Aku baru sadar ternyata kau mengajariku banyak hal. Tidur malam, hingga aku baru menyadari bahwa sebentar lagi aku akan menjadi orang yang menertawakan kecerobohan. Semoga bisa dijadikan pelajaran. Bahwa memang, masa remaja takkan terulang.

Nanti, akan ku rancang aplikasi seperti Doraemon, supaya balik ke masa lalu. Entah kenapa Doraemon sangat canggih dibandingkan kita 

Tuesday, July 9

Bahagianya Ramadhan


Anak-anak TK yang antusias menyambut bulan suci Ramadhan



Siap-siap berangkat!


Thursday, July 4

Tetaplah :)

Tetaplah tahu diri. Tetaplah dengan keyakinan. Tetaplah dengan percaya kuasa Allah. Tetaplah merasa bodoh dan tetaplah lapar.

Teruslah berani :)

Wednesday, July 3

Jangan-jangan?

Inilah waktu yang pas.

Dengan pantulan lampu neon dan sinar kuning berasal dari meja belajar. Aku merenung sambil menatapi dinding biru muda tanpa cacat. Untuk apa? Membayangkan kamu? Salah! Aku membayangkan bagaimana caranya aku menghafal kode ASCII yang tak kumengerti apa tujuannya. Pun bahasa Java, yang kukira bahasa Jawa berlogat medhok. Bukan rupanya.

Apapula Pascal?

Apapula C++ ?

Kau kira aku calon enjinia robot? Jangan-jangan aku salah masuk kamar. Eh, bukan kamar, tujuan batin dan hidup yang akan membaur menjadi satu. Dan melebur dalam tubuh dan hati manusia itu selama 4 tahun, iya kah? Jangan-jangan.

Biar aku dan Tuhan yang tahu. Mengapa mereka eksis berada. Dan dimengerti para expert tertentu saja, tanpa mau tahu apa maksud mereka; para bahasa aneh tersebut. Maaf, bukannya aku tak mau tahu, dinding biru muda.

***

Tapi yang kutahu adalah, tanpa mereka. Semua aplikasi pada gadget takkan ada. Mereka - bahasa aneh tersebut dan para expert enjinia bangga mereka berada.

Ah, bila kamu benar-benar menjadi expert itu, sanggupkah kamu membayangkan programming menjadi mata pelajaran favorit di dunia ini selain sastra dan sains terpadu?