Cari

Sunday, June 30

Real Civil People

Jam 4 sore. 

Aku sampai di Pasar Proyek Bekasi. Eks Pasar Proyek Bekasi, maksudku. Tidak ada lagi jejeran kios. Semua sudah pindah tempat. Ada yang di dalam mall investor asing, dan ada yang membuat kios baru dengan bahan bangunan yang sama seperti dulu tapi agak jauh dari jalan utama. 

Disitulah kulihat, kenapa pasar itu terlihat banyak orang susah dan mencari nafkah. 

Apalagi tukang jahit.

"Susah belajar jahit tu dek. Payah pulo cari pitiah," kata apak tuo yang sedang membuat pola dasi SMP.

Really? Itukah kehidupan di pasar dan.. Mmm, kota (nyaris) metropolitan? Bukankah hidup di kota menyenangkan dan menjanjikan? Seperti yang dikatakan sebelum merantau? 

"Awak marantau ka Bekasi sejak tahun 1981," tambahnya lagi.

"Lamo juo tu, Pak," jawab ibuku.

Aku kaget mendengar cerita bapak itu. Mungkin beliau terlalu muda untuk merantau, dulu. Dan sekarang, bapak itu mengabdi sebagai tukang jahit. Bersama bapak lain yang seumuran dengan beliau.

Itu hanya sekilas saja.

Jika dihubungkan dengan masalah BLSM yang booming, mungkin mereka dengan pedih menceritakan apa yang terjadi. Atau, cerita mereka dulu yang digusur pemerintah gara-gara pembangunan mall investor asing dan perapihan jalan utama Mayor Oking. Yah, orang susah. Ingin aku (mas/mbak pembaca juga) menghargai kerja keras mereka. Mereka berharga. Sayangnya, dilupakan.

They are real civil people. Really civil people. 

No comments:

Post a Comment

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.