Selasa, Mei 21

Matematika Rindu

Mungkin, kita pernah mempelajari ilmu peta dan geometri. Untuk mengetahui bahwa bumi ini luas tanpa batas. Serta mempelajari bentuk bangun ruang. Membangun imajinasi berupa bangunan megah dan kokoh serta luas.

Mungkin, kita pernah belajar deret dan barisan. Untuk mengetahui seberapa jauh kaki melangkah, dan seberapa kali kesalahan terus dilakukan. Entah, data-data yang berulang kali terjadi. Kemudian jadilah kesalahan biasa bahkan menjadi kebenaran.

Mungkin, kita pernah belajar peluang. Seperti apa kesempatan diantara celah kemungkinan dari masalah yang sering terjadi.

Lalu, apakah hati juga ada unsur ilmu pemetaan bumi dan geometri, deret dan barisan, dan peluang?

Katamu, tidak ada. Kataku juga, tidak ada.

Tapi bagi orang perasa. Ada. Karena, ilmu itu tidak sekedar diktat kuliah atau buku pelajaran yang tampilannya monoton. Apalagi matematika. Bisakah kamu membayangkan hal tersebut? Imajinasimu bermain disini. Rasa sok tahumu sangat berperan disini. Kamu hanya butuh menyambungkan kabel satu dengan kabel lain. Atau menyambungkan tiga hal tersebut dengan dirimu sendiri.

Hatimu. Itulah dirimu. Bagaimana mungkin kamu bisa belajar matematika tanpa hati? Bagaimana mungkin kamu akan mengerti turunan yang berhubungan pula dengan limit? Bagaimana pula kamu bisa mengerti seluk beluk trigonometri tanpa mengetahui sifat-sifat mereka dan saudara-saudara dekat trigonometri seperti integral, limit, dan turunan? Bagaimana pula kamu bisa menghitung seberapa kali kamu melakukan kesalahan dan menghindarinya tanpa statistika peluang?

Apa kamu mau, jadi robot? Hanya menghapal rumus-rumus deret dan barisan, peluang, dan geometri?

Kalau kamu pandai deret dan barisan, kesalahanmu bisa dihitung seberapa jauh kaki melangkah untuk berpindah. Jikalau pandai geometri, ruang untuk berpindah itu sangat luas, tak terbatas! Kamu bisa melangkah sebebas dan sejauh mungkin! Bumi ini luas, seharusnya ilmu pemetaan bumi dan ilmu geodesi tak perlu ribet mengurus hal ini! Kalau kamu pandai peluang, kamu harus bisa memanfaatkan celah, semangatmu. Harus melangkah!

Apa kamu mau dipermainkan oleh hati yang menyesatkan kebaikan? Kamu mau rusak gara-gara kamu terlalu rindu? Ya, kamu tidak tahu dan dia (mungkin) tidak ingin tahu. Itulah rindu.

Terus apa hubungannya sama matematika tadi?

Sudah kubilang, rasa sok tahumu dibutuhkan disini. Kamu kan, bisa menyambungkan beberapa hal yang sulit dijangkau. Tiga hal tersebut sangat membantu meniatkan hati, menerima segenap hati, dan melangkahkan kaki untuk berpindah dan sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan yang sama.

Rindu. Rindu tak bisa dibendung. Tetap saja banjir air mata, tak peduli bagaimana derasnya keras kehidupan. Rindu tak peduli matematika tadi, tak peduli kesalahan, dan manja kepada zona nyaman.

Selamat berkompromi rindu dengan matematika :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.