Cari

Monday, December 31

Rumah Nostalgia

Selamat datang rumah nostalgia!

Aku terinspirasi dari lagu Kak Raisa berjudul "Terjebak Nostalgia". Aku punya sedikit cerita, yang mungkin bisa membayar rindu menulis dan ngeblog ini. Selamat membaca :))

***

Hari ini adalah hari pertamaku berpisah dengan sahabatku yang jauh. Ya, aku harus memulai segala yang baru. Dengan hal-hal baru serta suasana hati yang baru. Pikiranku masih mengolah kejadian yang kualami kemarin. Aku masih belum bisa melupakan hari kemarin. Menyakitkan!

Aku membaca sms darinya kemarin. Bulir air mataku mengumpul, dan hidungku berair. Ah! Kenapa jadi cengeng begini? Biasanya kan santai dan menikmati setiap perpisahan yang sering kualami. Tapi kali ini tidak.

"Kak, kenapa kau?" tanya Rere yang sudah berada disampingku. Ia memukul bahuku.

"Gak dek, biasalah. Masih keinget kemaren. Ngapain kau? Cepat kali kesini, kayak hantu," candaku.

"Halah kak! Udah, cowok begitu lupain aja! Masih banyak kok yang lain," ceplos Rere. Tak kusangka kata-katanya menusuk hati, nyes banget.

"Kau dek, ngawur aja. Udah sono, ngapain gitu," usirku. Cepat-cepat aku mengelap air mata dan mencuci muka.

Kulihat sms kemarin. Kata-katanya tidak menyenangkan hati, maksudku, menyesakkan sekali! Ia menyuruhku menjauh dari kehidupannya. Padahal, tidak ada yang memaksakan mendekat dan menjauh. Semuanya alami. Aku juga tak mengerti perubahan tahun, perubahan bulan, bahkan perubahan masa-masa gengsi juga ikut mempengaruhi sikapnya padaku.

"Lo gak usah sok deh. Gue pukul lo suatu hari," geramku sambil memukul cermin. Cukup! Aku harus memendam semuanya. Tidak ada orang yang menanyaiku tentang hubunganku dengannya! Aku berdiri dan meninggalkan kamar. Sunyi, hanya gorden bergoyang karena angin dari jendela. Kamar hijau yang membuatku mengantuk. Aku membuka pintu dan angin dari luar menghempas wajahku.

"Kamu!" teriaknya di depanku.

Aku kaget dan lantai yang kuinjak berubah. Bukan lantai granit, tapi paving block yang ditutupi rerumputan. Dimana aku? Kenapa begitu cepat keluar kamar dan sampai di taman gelap seperti ini? Tidak ada bunga bermekaran, sulur anggur yang layu dan anggur busuk. Serta kucng hitam yang tersenyum tulus padaku. Matahari bersembunyi dibalik awan dan berkabut. Kulihat seorang laki-laki yang berteriak "kamu" itu.

"Kenapa mirip dia... Gue sebenernya dimana?" bisikku. Semakin aneh saja! Tiba-tiba ada perempuan bersayap sambil membawa tongkat tersenyum ramah padaku.

"Hai, pasti kamu bingung. Aku akan membantumu menuju rumah itu," kata perempuan itu. "Namaku Peri. Jangan sebut aku dengan nama itu dengan nada membentak. Aku akan berubah," sambungnya.

Aku menurut. "Maksud peri, aku dimana sekarang?"

"Kamu berada di masa lalu. Semua masa lalu tersimpan di negeri ini. Database yang sangat besar dan luas sekali. Takkan terhapus oleh apapun! Yakinlah padaku, kamu akan senang berlama-lama disini. Sayangnya..."

"Sayangnya, kenapa peri?" tanyaku penasaran.

"Kamu nggak bisa mengubah masa lalu. Kamu harus belajar dari itu, kemudian takkan mengulanginya lagi. Janjilah pada dirimu sendiri, jangan padaku. Aku hanya membimbingmu ke rumah itu," jelas peri.

Aku menganga cukup lama. Ternyata aku berada di alam bawah sadar. Aku tak tahu harus kembali kapan.  Semoga peri ini baik dan banyak membantuku. Negeri ini aneh.

"Peri, selain membantuku ke rumah itu. Kamu mau membantuku apa saja?" tanyaku untuk basa-basi.

Peri berhenti sejenak dan berpikir.

"Mungkin menghibur hatimu," jawabnya diplomatis.

Wajahku berseri.

"Tapi aku tidak terlalu pandai melawak. Akan kutunjukkan hiburan yang pas untuk hatimu, ya. Pasti kau akan mengingatku terus," sambung peri.

Tidak apalah. Untuk memecah kesunyian. Dari tadi aku melihat bunga yang layu menjadi segar dan bermekaran. Kulihat burung yang bahagia dan terbang bebas. Kucing hitam tadi, malah mencari jodoh terbaiknya diantara semak-semak ditumbuhi bunga tulip. Awan yang gelap, menjadi terang dibiaskan matahari. Sungguh, benar-benar indah.

Hanya satu yang kurang. Laki-laki yang memanggilku tadi menghilang. Mataku mencari-cari dimana. Sebentar-sebentar aku berhenti dan memegang erat lengan peri yang lembut.

"Kau kenapa? Tenanglah, semua baik-baik saja. Rumah itu tampak hitam dan suram dari jauh, tapi nanti akan cerah seperti yang kau lihat sekarang," tenangnya.

"Tapi peri, aku tadi melihat seorang laki-laki yang memanggilku di depan pintu kamar. Itu siapa ya?" tanyaku.

Alis kanan peri terangkat. Raut wajahnya berubah muram.

"Untuk apa kau tanya sekarang. Siapa tahu itu petunjuk terakhir dari perjalanan ini," bijaknya. Ia menarik tanganku untuk meneruskan perjalanan.

Aku menurut. Tak enak saja rasanya membuat peri ini bersedih. Demi meneruskan perjalanan, aku rela minumku dihabiskan peri. Tapi ia memberiku air lebih banyak dari sebelumnya. Bunga-bunga tadi, bertambah kesegarannya dan makin cerah. Tidak ada keanehan yang kuhadapi. Feelingku berkata bahwa rumah akan semakin dekat. Tak sabar ingin melihat isi rumah tersebut.

"15 langkah lagi akan selesai. Aku akan memberimu hadiah!" kata peri bahagia.

Aku ikut bahagia. Kukira peri akan muram terus sampai di rumah. Ternyata tidak. Peri memang ramah sekali.

"Apa itu? Cokelat? Oh please, I'm not a child again," kataku sambil menyunggingkan senyum.

"Bukan! Nanti lihat saja! Seberapa kuat kau akan menghadapi tantangan pada 2 langkah lagi."

"Maksudmu?" tanyaku.

"Sekarang kau sudah menyelesaikan 13 dari 15 langkah. 2 langkah itu sangat membuat hatimu terguncang. Kuharap kau tidak menangis ya!" kata peri menepuk bahuku.

I'm not a child again, peri, gumamku.

Ternyata sangat dekat. Kelihatannya saja jauh karena belum mencoba. Ditemani oleh peri, rasanya menyenangkan jalan berdua. Ia bercerita banyak hal tentang negeri masa lalu. Database yang besar dan luas sekali. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke negeri ini. Tentu orang-orang sepertiku, yang berniat ingin move dan out dari zona nyaman. Akan dipanggil kembali melalui alam bawah sadar yang entah berapa waktu akan kuhabiskan nanti.

Ia terus bercerita tentang dirinya yang tiba-tiba menjadi peri. Padahal ia juga berasal dari dunia nyata yang terjebak ke negeri masa lalu. Ternyata ia terlalu larut dalam masalah yang seharusnya bisa diselesaikan sendiri dan bantuan Tuhan. Tapi ia sangat emosional dan tidak ingin bangkit. Ia sangat nyaman dengan masa lalunya, meskipun di dunia nyata ia rapuh dan putus asa. Ia manja ternyata.

"Makanya, aku sangat beruntung bertemu denganmu. Semoga semangatmu bisa tertular padaku, agar aku keluar dari sini," kata peri terharu. Matanya bening. Senyumnya manis tapi lain. Aku ikut membalas senyum. Aku yakin bisa menghadapi 2 langkah itu.

***

"Ehem, sudah 13 langkah kita hadapi. Sekarang bersiap-siap menghadapi langkah 14 alias 1 dari 2 langkah yang sudah kujanjikan," kata peri tersenyum. Senyum lain yang kukatakan tadi. Kurasa ia menyembunyikan sesuatu.

"Aku akan memberimu hadiah!" kata peri.

"Mana laki-laki yang memanggilku tadi? Aku ingin bertemu dengannya!" pintaku.

"Itu, di halaman rumah. Ia duduk di ayunan. Sendirian bukan? Ia berhak diganggu olehmu. Kau boleh bercerita apa saja. Sampai tertawapun, aku restui," ujar peri.

"Tapi hati-hati. Ia semu. Tahu kan?" bisik peri.

Aku memberanikan diri ke halaman rumah itu. Aku bersyukur, semuanya terang dan bunga-bunga di halaman bermekaran. Sulur-sulur anggur dan tanaman merambat di rantai ayunan menghijau. Laki-laki yang duduk termenung, kemudian tegak dan... ia menoleh padaku! Dengan senyum yang persis saat aku bertemu dengan dia, seseorang di dunia nyata! Mirip sekali wajahnya! Oh Tuhan!!!

"Kamu? Terima kasih sudah kemari. Aku menunggumu semenjak kita berpisah," kata laki-laki itu.

Wajahku merona dan tersenyum lebar. Dari tadi aku tersenyum entah apa gunanya. Menutupi kesedihan atau hanya menebar ketulusan saja? Bodoh amat. Yang penting aku bertemu dia versi negeri masa lalu. Mirip sekali. Hanya saja wajahnya lebih bersih dan lebih ramah.

"Kalau boleh tahu, namamu siapa ya? Sepertinya aku pernah melihatmu di dunia nyata," kataku malu-malu. Ku sodorkan tangan untuk berjabat tangan.

"Rio. Aku lah yang membuatmu resah akhir-akhir ini. Maafkan aku." Ia menjabat tanganku dan berdiri. Ia menarikku yang diam ini menuju taman bunga di belakang rumah. Ratusan bunga berada di depanku. Mulai dari mawar hingga bunga-bunga tropis lebih indah dari anggrek.

"Inikah yang kau rindukan, Vin? Kamu lebih suka berlama-lama di taman bunga dan toko buku. Tapi toko buku nggak ada disini. Taman bunga aja ya? Bunganya ratusan dan segar-segar. Kuharap kamu bawa kamera digital lensa single yang kamu cinta itu."

Aku menganga lagi. Cukup aku dua kali menganga dan diam. Otakku lambat loading, prosesornya sudah lelah karena tidak tidur siang. Apakah jetlag? Tidak, waktunya sama seperti waktu buka pintu kamar. Kebetulan saja jam tidur siang. Bagaimana ya? Naluriku bilang iya dan harus berkata yang sebenarnya. Apakah dia harus bertanggung jawab menyembuhkan luka hati karena sms di dunia nyata atau diam saja karena sudah memberiku hadiah taman bunga super indah dan segar ini. Kamera digital lensa single tertinggal. Handphone tertinggal. Bodoh kuadrat! Peri tertawa cekikikan bersama kicauan burung. Kamu udik, Vin. Katanya begitu.

... tak ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri, Vina.

Suara bisikan tegas sampai di telingaku. Kucerna cepat. Aku tak boleh lengah!

"Ehem, maaf. Gue gak bisa nerima gitu aja. Lo pasti inget apa yang lo lakukan. Mohonlah, minta maaf pada diri lo sendiri dan gue. Gue sakit baca sms lo kemarin," tegasku. Menahan detak jantung yang keras. Ingat, tak boleh lengah!

Rio melengos.

"Banyak yang aku lakukan untukmu! Kamu tak tahu berterimakasih! Itu pelajaran untukmu, supaya kuat! Take it as a challenge!"

"I'm not the robot one! I'm not a steels in construction! I'm a woman! I have heart like you! My logics always said to me that you lost from my mind! Dimana logika yang lo pakai selama ini? Basi!" balasku.

Aku berlari menuju taman bunga dan menerobos bunga yang tingginya setengah badanku. Rio mengejarku dan menangkap tanganku yang semakin tak tahu kemana arahnya. Kaki ku lemas. Ternyata sakit itu memuncak di ubun-ubun.

Oh ya, ini namanya sakit hati. Sampai sakit begitu.

"Let me go! Gue sudah di langkah 1 dari 2!" teriakku sambil melepas genggamannya.

"Lo belum berhasil! Lo ketinggalan satu hal!" bentak Rio. Suaranya seperti singa mengaum.

Aku diam ketakutan. Keluar urat-urat wajah Rio dan sangat marah besar. Orang bodoh sepertiku mau diapakan?

"Rekam semua ini! Kemudian tutup matamu! Lalu buka dan keluar dari taman bunga ini! Ini jebakan peri!" kata Rio memegang pundakku.

"Ia licik. Ia membawamu kesini untuk menikmati zona nyaman masa lalu kita. Kamu harus segera pergi. Ikuti matahari itu sebelum tenggelam. Dialah masa depanmu!" bisik Rio lembut. Ia memelukku erat, kubalas pelukannya. Air mataku jatuh dan lama kelamaan peri itu mendekat.

Ia berubah jahat. Peri jahat. Bunga dan kicauan burung masih bersemangat. Mendukung yang baik.

"Jahat kau! Kita nggak berteman sekarang!" tangis Peri.

"Maaf, peri." Aku melepas pelukan Rio dan berlari sekencang-kencangnya. Sampai di gerbang keluar taman, kulihat ke belakang, masa lalu. Rio dan peri hilang terhempas angin senja. Langkah 1 dari 2 selesai. Sekarang langkah ke 2. Ternyata aku lewat dari target sebenarnya. Aku harus kembali ke rumah itu. Aku menunduk.

"Hei, itu baru taman belakang. Sekarang sudah di depan pintu masuk! Masuk saja. Semuanya akan baik-baik saja," kata seseorang yang kukenal suaranya. Hei! Itu kan Rio! Masih hidup!

Aku mengikuti jejaknya. Dia sudah sampai di rumah yang dikatakan peri.

"Masuklah. Bukan saatnya diam. Tapi harus kembali ke masamu di dunia nyata," gumamku.

Kulihat seisi ruangan. Hampa udara. Hanya foto-foto tak berguna yang tak pantas diingat lagi. Itu ternyata dari memori otak yang sudah merekam semua kejadian yang pernah kulakukan selama hidup. Selama aku mengenalnya. Semua yang kurasa kini, tak berubah sejak dia pergi. Tapi aku ingin sendiri disini. Begitu kata lirik lagu Kak Raisa. Tercatat pada memori otak itu. Semuanya tergantung di atas dinding bagaikan foto keluarga.

"Ini rumah nostalgia, ya?" tanyaku ke Rio.

Aku lihat lagi, kebodohan yang kulakukan ketika aku ingin melupakannya. Banyak jalan menuju roma dan ya, sangat menantang sekali. Cara-cara umum kulakukan seperti menyukai bunga, ke toko buku dan memborong buku layaknya sebuah baju, serta nongkrong di balkon seolah punya dunia dan impian sendiri. Kulihat aku sedang berdialog dengan Tuhan. Aku memohon agar Tuhan menghapus dosa dan masa laluku. Dan masa lalu kubuang ke kertas. Dan buktinya ada di memori jangka pendek. Untuk apa menyimpannya terlalu lama? Oversaving.

Memori jangka panjang hanya menyimpan bukti sakit hati. Serta raut wajah lelah. Dia bodoh. Ia menganggu keindahan masa kejayaan dengan teman-teman tapi ia menghalanginya. Berkata bahwa tidak baik buatku. Tiba-tiba intelegensi dan spiritualku menurun. Layaknya zat adiktif, cinta adalah sesuatu yang harus diwaspadai jika berlebihan dan merusak. Pelan-pelan aku menjauh dan move-and-out from comfort zone. Mulailah aku menghadapi yang sebenarnya.

Semuanya palsu.

Sekarang aku terjebak di rumah nostalgia. Kepalaku semakin pusing. Ilusi makin mengaburkan pandangan dan otakku, sehingga saraf-saraf kocar-kacir. Berharap aku segera balik ke masaku sekarang. Dimana matahari setia menunggu dan tak pernah berkhianat. Biarlah aku sendiri, dengan matahari, pagi, senja, Tuhan dan semua yang berada di dekatku. Mereka nyata.

Ya, mereka nyata.

13 langkah sudah selesai. 2 langkah terberat sudah selesai. Gampang-gampang susah. Terima kasih Tuhan, aku sudah bangun. Tak terasa aku tertidur di lantai. Pantas saja kedinginan. Oh ya! Hadiah dari peri dimana? Aku mencari-cari sesuatu yang mengganjal di kantung celana. Aku mengambil benda itu.

"Cokelat? Kan udah dibilang tadi," keluhku.

"Eh tapi! Wah, ada ukiran tulisan! Cokelat kecil yang unik!" Kubaca ukiran itu dengan suara pelan. Kupahami lagi maksudnya. Begini katanya:

"Be yourself. And, don't let someone disturb your heart and your life."

Aku memeluk cokelat yang terbuka itu. Sayang untuk dimakan.

No comments:

Post a Comment

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.