Cari

Saturday, November 17

Kematian Itu Tak Mengenal Apapun!

Hmm, seharusnya aku belajar untuk tryout Grafity UI 2012. Tapi hatiku tersentuh untuk ingin tahu kenapa teman-temanku me-mention temanku yang sepertinya sedang punya masalah. Mungkin bisa dikatakan kepo. Baiklah, aku menuruti kata hati.

Ternyata ada hal buruk yang aku hadapi. Pertama, ayah temanku meninggal dunia. Innalillahi wa inna illaihi raaji'uun. Semoga beliau berada di sisi Allah dan dihindari siksa kubur dan siksa api neraka. Semoga temanku, tabah menghadapi dunia yang makin keras. Kemudian bisa membuktikan diri untuk sukses seleksi perguruan tinggi dan ujian nasional tahun depan. Aminin ya kawan pembaca :) Semoga temanku sabar dan kuat.

Sudah 6 kali aku mendengar berita meninggal dunia, khususnya ayah temanku. Bergidik rasanya, jika mendengar seseorang yang meninggal, terutama orang tua dari teman sekelas atau kakak kelas sekalipun. Baik ayah ataupun ibu, sama saja bergidiknya. Merindingnya, terasa mengingat bahwa mati itu di depan mata. Tidak peduli siapapun orangnya, waktunya, bahkan tempat.

Sekarang hujan. Yap, suasana yang pas untuk menulis. Mari kita lanjutkan.

Pertama aku melayat waktu SMP, tepatnya kelas 2 di Balige. Teman sekelasku tidak masuk beberapa hari dan sempat membuat Bu Rajagukguk penasaran. Setelah ditanya kabar temanku dari orang lain, ternyata ayahnya meninggal dunia. Terpeleset jatuh. Ah, bapak yang malang. Ayah teman sekelasku bekerja di instansi pemerintahan di kota tersebut, dan banyak membantu biaya sekolah teman sekelasku.

Hingga suatu hari aku melihat ayah temanku kaku dan bisu dalam peti mati. Kebetulan dia Kristen Protestan, mungkin ada sedikit bumbu adat Batak. Jadi aku agak ngeri melihatnya. Ibu temanku tidak bisa menyentuh pipi suaminya sendiri, mungkin karena sudah diberi pengawet. Kaku, putih. Temanku hanya menangis, begitu pula ibu, kakak, dan adik-adik temanku. Kayaknya sudah ada peringatan bahwa kematian itu tidak mengenal agama dan suku bangsa.

Yang kedua dan ketiga saat kelas 1 SMA di Sumenep. Dua orang teman sekelasku, sama-sama mengalami kesedihan hebat karena kehilangan ayah mereka. Kalau teman perempuanku, dia sampai tidak mau mendengar suara ambulans karena sedih kehilangan ayah yang setia menemaninya ke sekolah. Dan ayahnya juga sangat membantu temanku hingga bersekolah di SMA favorit disana. Tak kurang itu, kasih sayang juga iya! Kalau teman cowok, ayahnyalah yang mendukung dia sampai ke SMA favorit, juara lomba matematika, dan juara lomba catur. Beliau meninggal disaat menjelang ujian semester 2. Terbayang waktu itu, temanku, Tiwi, menutup telinga karena ada suara ambulans yang mengantar jenazah ayah Oki (teman cowok) ke pemakaman. Tiwi menangis dan aku merasakan kengerian di hatinya. Miris, sekaligus ada yang ingin aku sampaikan pada ayahku untuk jangan meninggal sekarang. Astagfirullah...

Keempat. Kakak kelasku pun begitu. Ayahnya meninggal dan mungkin mbak tersebut merasakan hal yang sama seperti teman-temanku yang dulu. Kematian selalu menyusul.

Kelima, pada saat menjelang ujian semester 1 kelas 2 SMA, teman sekelasku menangis di kelas LH. Teman-temanku berkumpul dan menanyakan kenapa. Hanya tangis saja, tak mungkin dijawab. Susah rasanya. Temanku itu pernah cerita. Orang yang kadar gulanya tinggi, tidak boleh jatuh dan terluka atau minimal tergores dan luka. Karena katanya dokter sih begitu. Selain itu, orang yang kadar gulanya tinggi, bisa saja menurunkan sifatnya pada keturunannya. Bisa jadi ada kemungkinan teman sekelasku punya penyakit diabetes. Maaf ya kawan, jadi menceritakan masa lalu. Tapi ambil hikmahnya ya :)

Kematian karena penyakit. Ini yang paling sering. Allah udah ngasih skenario terbaik buat dijalani umat semua. Kematian ayah yang kudengar ini, jadi pelajaran bahwa ayah itu penting banget karena ayah punya peranan penting. Ya namanya juga ayah, jika beliau wafat berarti tulang punggung keluarga diserahkan oleh ibu atau anak pertama. Berita kematian ayah dari semua temanku (satu lagi, ada lagi), makin membuatku sadar bahwa memang kematian itu di depan mata. Tapi kehilangan ayah atau ibu, itu lebih jahat ketimbang kehilangan yang lain. Orang yang sudah membesarkan dan mendidik kita, meninggalkan kita karena dipanggil Allah. Mungkin ya benar saja, kita, yah, anak-anaknya, hanya titipan. Mereka hanya mendidik kita ke arah mana kita nanti dengan kasih sayang dan tanggung jawab tinggi.

Temanku yang sekarang ini, dengan malam yang hujan ini. Alhamdulillah banyak mendapat dukungan dan semangat dari teman-teman lain di twitter. Sama seperti teman-temanku dulu, mendapat dukungan agar tabah. Semoga teman sekelasku yang kali ini sabar dan tabah, serta kuat. Semoga dewasa dalam menghadapi masalah dan bijak. Dan selalu mengingat Allah dan ciptaan-Nya yang ga bisa ditebak.

Berarti sudah pas 6 kabar yang kuterima saat ini kan? Sudah ada tanda-tanda bahwa kematian akan selalu menyusul pada yang lain. Entah kapan, dimana, bahkan siapa.

Itu kehilangan ayah. Ayah berbeda dengan ibu. Ayah bisa mendukung sifat laki-laki kita, baik laki-laki atau perempuan. Ayah bisa mendukung kita untuk hobi karate bila ibu tidak setuju. Ayah setuju kalau diajak ndaki gunung jika ibu tidak setuju. Bahkan ayah setuju (diam-diam) akan keinginan anaknya sendiri. Bukan berarti ibu tidak seperti ayah loh :) Kehilangan ayah bisa jadi ingatan paling kuat dalam memori otak. Karena ayah kandung, beda dengan ayah lainnya.

Semoga kawan semua bisa mengambil hikmah dari cerita temanku semua. Supaya berhati-hati bertindak sama ayah dan ibu. Hati-hati bertindak dan menggunakan waktu, karena kematian itu hal yang bagus bagi orang dalam sudut pandang tertentu. Astagfirullah al aziim.......

Mohon maaf bila ada kesalahan semuanya. Tetap semangat teman! Allah besides you :)

No comments:

Post a Comment

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.