Cari

Friday, July 20

Says Sorry from Riko

It's about Mita.

Setelah sholat tarawih, aku bertemu temanku bersembunyi dibalik pohon bambu.

"Ngapain lo disini? Ngumpet? Atau lo nggak sholat?" tanyaku mendelik.

Ia melipat kedua tangannya. "Urusan lo apa? Peduli apa?" Ia membawa satu kantong plastik hitam. Entah apa isinya.

Aku diam saja sambil melirik kantong plastik hitam yang dia bawa.

"Gue pulang dulu. Nggak baik gue mojok disini, ntar dikira ngapain. Maaf," kataku sambil meninggalkannya. Aku terus berjalan, sampai tak terlihat olehnya.

***

It's about Riko.

Sedangkan aku kaget karena kepergok Mita. Aku membawa kantong plastik berisi sendalnya. Kulihat wajah sebal dan malunya ketika dia pulang tarawih tanpa sandal. Aku tertawa dalam hati sebenarnya, tapi ada rasa kasihan. Bagaimana kalau dia terinjak kaca atau kerikil yang jahat? Biarlah, dia kan cukup tomboy dan kuat untuk menghadapi itu. Yang penting dia tidak tahu.

Cepat-cepat aku meninggalkan pohon bambu, sebelum ada ular mematuk atau ustad yang berdiri tiba-tiba dari belakang.

***

Sampai dirumah, aku diomeli ibu karena pulang tanpa sendal. Aku hanya menunduk sambil memetik kulit jari telunjuk sampai sobek.

"Bu, kalo gitu nggak usah pake sendal yang bagus. Nanti dicuri lagi."

"Tapi kan sendal itu tahan lama!"

"Percuma aja bu, kecuri juga. Mending pake sendal ayah aja."

"Ayah? Mana? Dia sudah meninggal!"

Deg. Meninggalkan aku dan dua adikku? Dan ibu? Sejak kapan? Bulir air mata jatuh ke pipiku dan aku langsung berlari menuju kamar di lantai dua. Rumah yang cukup besar tak membuatku bahagia apabila tanpa ayah.

"Mita! Turun kamu nak! Ibu belum selesai bicara!"

Aku mengunci kamar pintu dan menghidupkan DVD player. Kubesarkan volume sampai tak kedengaran. Sudah cukup hari ini. Hari pertama tarawih sebelum puasa besok.

Ketika hari ini aku menghadapi dua lelaki yang tak sengaja meninggalkanku dan kutinggalkan. Entah kenapa mereka membuat hariku kusut. Karena ibu dan sendal aneh itu.

Lelaki yang kutemui di pohon bambu, Riko. Kurasa dia sholat tarawih tetapi duluan keluar. Dan entah apa isi kantong plastik itu, yang membuatku curiga. Apalagi masjid sudah sepi 10 menit yang lalu dan tidak ada sendal satupun yang tersisa. Seharusnya ada sendalku disana, tetapi hilang. Sedangkan ayah? Ah, ibu bohong. Ayah tak mungkin meninggal. Ayah akan pulang hari ini, membelikanku kamera DSLR yang kuidam-idamkan. Kurasa ibu bercanda, hanya kesal saja yang membuatku menangis.

***

"Tok..tok...tok.."

"Mita, buka pintunya. Ibu mau masuk."

Tidak ada suara.

"Kak, buka kak. Ibu mau masuk. Ibu tadi bohong kok, ayah udah pulang nih. Lagi ngetes kamera DSLR. Ayo buka kak, ayahnya udah nunggu dua jam yang lalu."

Aku terbangun. DVD player sudah berhenti satu setengah jam yang lalu. Kemudian kubuka pintu kamar. Melihat wajah ibu berseri-seri. Oh, jadi ayah tidak meninggal. Syukurlah. Tetapi aku masih kesal tadi. Aku tersenyum kecut pada ibu, dengan mata yang masih sembap. Lalu aku memeluknya.

"Maafin ibu ya. Biasanya kamu seneng aja kalo diajak bercanda."

"Lagi nggak mood bu," kataku sambil melepas pelukan ibu. Kemudian aku duduk di kursi belajar.

"Yaudah, nanti turun ke bawah ya."

"Besok aja bu, masih ada waktu." Aku terpekur menatap kaca kecil yang memantul wajahku. Tak bagus. Aku harus belajar mengerti keadaan malam ini. Sekarang sudah jam 11 malam, waktu yang bagus.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. Kulihat siapa nama yang ada dilayar handphone-ku, Riko.

"Assalamu'alaikum. Apa?"

"Wa'alaikumsalam. Ehm, maaf gue ganggu lo tidur," kata Riko dengan suara ragu.

"Gue nggak tidur. Ada apa?" ketusku. Aku tidak ingin lama-lama berbicara dengan orang yang mencurigakan waktu pulang tarawih.

"Gue minta maaf Mita. Besok kan puasa. Terus gue udah ngambil sendal lo tadi. Makanya lo tadi ngeliat gue paling duluan keluar tadi."

Ada petir kejujuran menyambar. Jadi.. Riko yang mencuri sendalku? Pantasan dia membawa kantong plastik hitam segala dan bersembunyi dibalik pohon bambu. Lidahku kelu dan aku dijadikan moodbreak-nya malam ini.

"Mita?"

Aku tersadar lagi. Mau jawab? Untuk apa? Tetapi kalau tidak dijawab juga payah. Besok kan puasa. Salah juga kalau tidak memaafkan orang lain. Apalagi Riko teman sekelas bimbel dan sekelas di 12 IA 3. Bisa berabe nanti.

"Iya nggak apa-apa. Lain kali kalo mau nyuri langsung kabur. Bukan sembunyi dibalik pohon bambu," candaku serius.

Kudengar Riko tertawa dan meminta maaf kedua kalinya karena sering melakukan itu setiap tahun.

"Tapi gue janji, Ta. Tahun ini gue gak nyuri lagi!" janji Riko serius.

"Kenapa?"

"Gue takut puasa gue nggak berkah. Dan Allah nggak mau bantuin gue buat tahun depan nanti," katanya sendu.

Dasar -_____-


4 comments:

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.