Jumat, Mei 18

Peminta Sumbangan Masjid

Meringkuh dibalik hujan, lalu memeluk foto yang berisi pecahan kenangan. Tetapi diluar sana, tidak jadi hujan. Oh.

Aku ingin mengungkapkan isi nurani yang tak pernah dibuang ke kotak cerita maya ini. Yang ku pikirkan hanya memendamnya, lalu melupakannya. Atau dianggap tak penting. Mau tahu? Yang membuatku miris adalah, para peminta sumbangan untuk mendirikan masjid. Mereka memintanya kala siang yang mencekik dan mobil yang tak hentinya menyusuri jalan hampa.

Ya, mereka. Kadang aku berpikir sama seperti mereka.

"Kalo mau ngasih sumbangan, ya langsung ke orangnya, ke ketuanya. Biar dijamin."

Wah, begitukah? Supaya apa? Diingat? Bukannya sedekah itu untuk dilupakan selama kita menyedekahkan sedikit penghasilan atau rezeki? Entahlah...

Dan seorang ibu berkoar-koar dari mic. Ia berlindung di pos penjagaan. Suaranya! Mengiris hati yang bersembunyi dalam baja hitam; mobil. Sementara ibu-ibu atau bahkan bapak-bapak dan kadang anak muda ikut membantu, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dengan gayung tak terpakai. Seikhlasnya.

"Makasih pak!" katanya sambil mengangkat lima jari.

Aku melihat dia dengan senyum ikhlas, tak pernah mengeluh walaupun debu menempel dipipinya. Bapak itu, ibu, dan pemuda yang sukarela berpanas-panasan. Yang didapat tak hanya dari satu mobil, tapi mungkin ribuan mobil (bahkan tak terhitung) yang rela memberi uangnya.

Ada sedikit bahagia diantara keresahan. Mengapa masih ada orang yang kadang tak peduli betapa susahnya peminta sumbangan itu sementara mereka asyik berpesta hingga malam. Masihkah ada yang peduli? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.