Minggu, April 29

Laptop Nggak Bisa Shut down

Assalamu'alaikum kawan! :D Alhamdulillah aku masih bisa nyempatin ngeblog pagi ini. Aku jadi kangen untuk menggelitik keyboard di dunia maya kayak blog. Wong kemaren-kemaren aku masih bersembunyi dibalik Microsoft Word untuk membuat cerpen. Tapi sekarang aku usahain ngeblog.

O ya, kita mungkin pernah mengalami laptop yang nggak bisa di shut down. Terutama Windows 7. Itulah yang dialami oleh laptop yang ada dihadapanku sekarang. Aku juga bingung kenapa nggak bisa di shut down alias dimatiin total. Biasanya, aku hibernate atau sleep. Tapi, 2 hari ini laptopku sering di hibernate lantaran gak bisa di shut down. Akhirnya, perintah hibernate lah yang kulakukan terus. Mati sih laptopnya, tapi kok, di pointer kayak ada tanda loading (bulat-bulat berjalan). Dahiku makin kaku dan nggak bisa mikir lagi. Kayaknya ini laptop mau rusak. 

Mungkin karena menginstall aplikasi nggak jelas. Aku juga kurang tau aplikasi yang tiba-tiba dia datang ke laptopku. Aplikasi itu namanya, kalo gak salah, eType. 

Setelah mengintall dan run aplikasi itu, ternyata itu aplikasi pembuka beranda Facebook. Hmm, perlu apa? Alhasil aku makin emosi semenjak aplikasi yang sudah nampang di desktop nggak bisa di uninstall dengan uninstaller. Udah gitu, menu Start yang berisi banyak aplikasi dan program nggak bisa ditekan -_____- . Astagfirullah. Cobaan apa lagi. 

Pernah sih, nge-restart atau menghidupkan ulang. Tapi perintah nggak jalan-jalan. Keluhan yang banyak di laptop ini. 

Kira-kira, mas/mbak tau nggak kenapa laptop ini? Setelah aku coba-coba tetap nggak bisa dan mungkin. Ada tips untuk memperbaiki supaya perintah shut down bisa berjalan normal tapi menggunakan regedit. Mengedit HKEY atau registry! Resiko juga, itu mengedit bagian inti laptop. Takut rusak.

Yah semoga dengan keluhan ini mas/mbak bisa memberikan solusi. Semoga bisa membantu :D 

Minggu, April 22

Nyaris Mati Suri

Malam:

Hei malam! Sudah lama kita tak bertemu. Bersenang-senang dan menyendiri diantara sepi dan riuh jangkrik. Di temani lagu akustik menyayat hati. Itulah kita malam ini, memperlambat jam tidur dan kesiangan ketika pagi. Benarkah?

Hei malam. Ingatkah ketika bulan Ramadhan, sang gadis bersimpuh diatas sajadah, ditengah hujan. Berharap malaikat pemberi rezeki datang. Hingga ia tertidur sampai jam 3. Nafas berhembus pelan, tak terdengar oleh satu rumah bahwa ia bisa saja mati suri.

Aku mendengar detak jantungnya yang tenang. Tak ada detakan keras terbawa emosi.

Aku membisikkan kata, "apa kamu merasa mati?"

Ia menjawab, "Iya. Cabutlah nyawaku malam ini. Jika kau ingin."

Aku mendengar ucapanmu, hingga aku mengeluarkan panah untuk membawamu ke alam indah.



Pagi:

"Lo tau gak? Gue ngerasa enak banget tidur semalem!" kata gadis yang ceria.

"Emang lo diapain?"

"Gue ditembak sama malaikat, kawan! Gue mau dibawa ke surga! Subhanallah!!" teriak gadis makin ceria.

"......"

Senin, April 16

Kamboja



Khayalan Senin

Selamat siang Senin, aku mencintaimu. Berdo'a usai lelah menghadapi ribuan bisu angka dan huruf dalam kertas tak berdosa. Aku terpekur menghadapi celoteh mereka.

Tadi pagi, tangan kananku siap siaga memegang pensil grafit, tangan kiriku selalu memegang penghapus. Dan, lembar jawaban yang harus mulus tanpa tetesan keringat ketakutan. Untuk apa? Padahal tiga tahun yang lalu aku sudah merasakannya, dan mengapa lebih menyenangkan?

Otakku panas. Aku menggaruk-garuk rambut yang sebentar lagi akan berantakan. Aku tak ganteng lagi. Ah, apa peduli. Pengawas yang ada didepan pojok menertawaiku dalam hati. Dan mencemooh, aku takkan bisa melayani celotehan lembaran kertas berisi ratusan kalimat. Kulawan dia dengan hatiku,

"Bodoh! Aku pasti bisa mengerjakan ini semua! Sampai hari yang dinanti!"

Dan pengawas itu mendongakkan kepala. Berdehem dan mengumumumkan tinggal 5 menit lagi.

Aku jatuh terjerembab, masuk ke liang penggaris.

Aku menguap, mengaum dalam pikiran. Mataku blur, hanya melihat 45 soal yang tak terisi. Sungguh, pengawas yang cerdas.

Jumat, April 6

Liburan Tahun Baru 3

Hari selanjutnya, kami pergi ke perkampungan Baduy Luar. Rute perjalanannya tidak terlalu jauh. Tapi medan perjalanannya berat dan berbukit. Aku sempat mual dan pusing. Tanjakannya lumayan tajam, apalagi kalo pulang dari daerah perkampungan Baduy, haduh, ngeri dah!

Tapi kondisi jalannya lumayan bagus, walaupun ada yang jelek dan.. yaa.. becek. Ini dia fotonya, enjoy!


Ini sih.. Udah masuk perkampungan Baduy Luar. Sayangnya aku nggak memotret tugu ataupun gerbang masuk perkampungan. Hmm...

Penenun kain khas Baduy Luar. Ini masih gadis loh loohh, seumuran denganku *yakali. Dia sangat telaten memakai alat tenun itu, sampai-sampai dia nggak tahu kalo ada yang foto *wkwk.

Masih ada rumah lagi selain ini semua. Perkampungan ini bagian pertama dan tidak terlalu luas.

Salah satu rumah warga Baduy Luar. Tapi dua orang itu, yang berbaju kotak-kotak dan kuning itu adalah wisatawan. Bukan orang yang punya rumah bambu beretnik itu.

Salah satu hasil kerajinan kain tenun masyarakat Baduy.

Gula Jahe Merah, ini asli loh, masyarakat Baduy Luar yang memproduksi. Mungkin belum dijual di pasaran umum, tapi kalau kamu mau ke perkampungan Baduy Luar (minimal pasarnya deh), Insya Allah kalian akan menemukan produk ini.

Ini gadis remaja yang pandai menenun kain tenun khas Baduy Luar. Mereka tidak bersekolah. Hanya masyarakat yang tinggal di pasar bisa sekolah. Ini mungkin, adat bagi mereka. Apabila dilanggar, mereka diusir. Ke pasar.

Effect of this...




Mbak-mbak yang lagi menenun kain khas Baduy.


Jalan setapak menuju Baduy Dalam. Kira-kira waktu tempuhnya 4 jam dengan jalan kaki. Aduh, pasti capek banget. Tapi bagi orang-orang Baduy Luar yang mau ke Baduy Dalam, kayaknya nggak ngerasain capek karena udah kebiasaan jalan kaki.


SD Negeri ini hanya untuk orang=orang yang bukan suku Baduy Luar. Katanya sih orang Baduy Luar nggak boleh sekolah, itu adat mereka. Karena kalo sekolah, anak Baduy bisa membodohi orang Baduy lainnya *loh. Tapi kurasa ini adat yang kurang bagus dan cenderung membatasi orang untuk sekolah. 

O iya! Sekolah ini ada di pasar. Maksudku letaknya ada di luar perkampungan Baduy Luar. 


Ini dia anak-anak biasa *emang. Maksudku mereka anak-anak bukan suku Baduy. Ada juga sih yang suku Baduy, untungnya mereka bisa berbaur dengan yang lain. Televisi itu salah satu cara untuk menghibur masyarakat pasar dan mungkin anak-anak Baduy yang iseng main-main ke pasar.


Suasana pasar luar perkampungan suku Baduy. Waktu itu hari Jum'at dan menjelang Zuhur. Jadi nggak terlalu ramai.


Dua anak kecil yang memikul beban kardus yang berisi makanan untuk di jual.

And, this is the end of this my stories when holiday in Perkampungan Baduy. Hope you critic this! 


To be continued...