Sabtu, Maret 3

Esok Tanpa Harapan

Hai kamu, aku ingin bercerita tentang seseroang yang menghadapi hari esok tanpa harapan. Begini ceritanya.


Kamu selalu menceritakan kenangan bahwa sore adalah peristiwa terbenamnya matahari tanpa rasa dosa. Ia akan menunggu kita terbangun dari kelelapan malam dan menyambutnya. Sore adalah waktuku dan kamu untuk bercengkrama. Menunggu keajaiban misteri antara waktu cakrawala yang rindang.

Ketika malam.. Itu saat ini. Aku dan kamu harus dipisahkan oleh jarak yang hanya beberapa kilometer. Waktu takkan memangkas hati kita. Kalau kita bersatu. Kamu tahu kawan? Malam itulah kita akan terlelap. Menunggu mentari dan menyambut hari esok dengan jutaan do'a yang akan diamini oleh malaikat Subuh.

Namun ketika kamu bangun saat pagi terbit, kamu tidak menyambutnya dengan jutaan do'a dan harapan kepada Tuhan. Kamu menarik selimut dan kembali ke lubang mimpi berjuta-juta mil di alam bawah sadar. Tersenyum palsu, menarik segala ingus yang keluar dari lubang hidung. Lalu terkikik tak sadar ketika mimpimu melupakanmu tentang matahari yang tak sabar melihatmu.

Namun ketika kamu menghadapi hari yang akan diamini oleh malaikat Subuh, kamu tidak berusaha dan berdo'a. Lihatlah, kamu hanya menangisi apa kesalahan hari-hari lampau. Berkata "gue pusing", "males banget hari ini" hanya akan membuat hatimu goyah. Tertiup angin, kita akan menangis, terisak. Lalu tertawa kosong. Ringan tanpa beban yang berarti.

Ketika kamu dihadapi oleh rasa sedih. Aku pun pedih. Rasa dalam hatimu akan menyayat hati, walau tak sampai ke hati nurani. Ya sih, kamu akan tersesak dalam dunia sepi. Tapi kuharap kamu harus kembali ke sini. Dunia berisi...

2 komentar:

  1. Sedih dan senang silih berganti...itulah rumus kehidupan....namun, orang terbaik adalah ketuka selalu berusaha untuk tidak bersedih dan melupakan kesedihan itu :-)

    BalasHapus

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.