Cari

Thursday, February 9

Rindu Tuhan

Hingga suatu hari, aku menangis tersendu di bawah pohon kenangan. Ketika itu, aku ingin menumpahkan rasa sakit dan pedih akan ketidakadilan hari ini. Namun, peluhku jatuh. Sepertinya ini, bukanlah suatu hal yang penting untuk dibahas. Tapi aku hanya ingin mengetahui, seberapa banyakkah jumlah cairan peluh yang keluar dari kelenjar minyak dibawah rambutku.

Dan siang. Matahari telah memuncak, menampakkan segala kesegaran cahaya untuk membantu mengeringkan hati para orang-orang iri dengki. Lihatlah, mereka pasti tertawa dalam kesemuan, yang akan habis atau berhenti ketika mereka bubar. Sedangkan matahari ini, bagi orang-orang menderita dan sok merana, pasti hari yang sangat panas. Mereka akan lari sepertiku ke bawah pohon rindang. Sendirian. Kalaupun ada teman yang menemani, pasti ia hanya menjadi subjek yang bisa menjadi tampungan limbahan air. Air pikiran untuk hari ini.

"Hei kamu," kata dia yang jauh disana. Dia menunjukku.

"Apa?" tanyaku.

"Kamu.. kenapa disini? Sendirian? Gak takut kerasukan penghuni pohon gede?" tanyanya. Mungkin sekedar berbasa-basi.

"Gue gak bakalan kesurupan dah! Emang iman gue macam apa," cetusku. "Lo ngapain ke sini?"

"Aku mau bicara sesuatu. Tapi kamu jangan kaget," ujarnya dengan raut wajah serius.

Mau bicara apa? Sudahlah, aku tidak sudi mendengar cerita tak pentingmu lagi! Karena aku bosan dan aku hanya ingin didengar. Atau menceritakan keluh kesah yang kupendam seminggu ini.

"Maaf," kataku sambil menggeser dudukku. Sedangkan ia duduk disebelahku.

"Bukannya gak mau denger cerita lo. Tapi gue sekarang butuh orang buat ndengerin cerita gue. Itu, boy," kataku tertunduk.

Ia? Memandang langit! Langit di siang hari dengan awan putih dan langit biru kontras tampaknya.

"Kalau kamu ada masalah, jangan cerita kepada orang yang tidak kamu jamin rahasianya. Tapi cerita ke Tuhan. Tuhan Maha Mendengar, mbak," ceramahnya.

Puhh, ketusku. Tuhan? Tuhan mau mendengarku? Sejak jaman kapan? Perasaan aku selalu berdoa kepada Tuhan, tapi Dia tak mau mengabulkan permintaan dan doaku. Kenapa dia menyangkut-pautkan dengan... TUHAN?

"Karena kamu hamba yang lemah, Ika. Kamu cuma bisa mintol sama dia. Kalo mau curhat sih, ke aku juga bisa. Tapi aku bukan psikolog. Aku bukan psikiater pula. Juga bukan pengasuh jiwamu yang bisa diandalkan setiap waktu!"

Hah!!! Dia tau... Pikiranku.. yang kalut ini?? Berduaan di bawah pohon rindang. Menjadi pusat perhatian guru dan siswa yang berjalan. Apalagi letak pohon rimbun itu didepan kantor guru. Ah, yang benar saja. Mereka mengira kami ini dua sejoli yang memadu kasih!

Lidahku kelu. Baru-baru ini, maksudku, temanku yang duduk disebelahku ini berubah cara berpikir dan berbicaranya. Dan juga, dia sering menghampiriku yang baru seminggu yang lalu kesepian. Yah yah! Teman-teman dekatku sedang sibuk dengan pasangan mereka. Ingin sharing tugas, mereka selalu kabur. Tinggallah aku sendiri. Dan tentu, dengan dia dalam satu kelas.

"Maaf kalo aku bisa baca pikiranmu" katanya sambil bangkit dari duduk. Menuju masjid untuk sholat Dzuhur.

Sekali lagi. Lidahku kelu. Mataku nanar melihat dia berjalan menuju masjid.

Curhat dengan Tuhan, bersimpuh tangis diatas sajadah dan meminta pertolongan-Nya? Apakah Dia bisa menjaga rahasia-rahasiaku? Tuhan, jika Dia memang Maha Mendengar, dengarkanlah do'a ku hari ini...


Terima kasih temanku, yang bisa membaca pikiran hampa dikala siang...

***

Just a fiction, not quite real. But sometimes we can find people like that...

No comments:

Post a Comment

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.