Sabtu, Desember 24

Ayah, Anak, dan Minggu

"Besok minggu kan, ayah?" kata anak kepada ayahnya.

Sang ayah yang sedang menatapi pemandangan malam bertabur bintang menoleh kepada anaknya.

"Iya nak, besok minggu. Ada apa?"

Si anak terdiam dan menunduk kebawah. Ayah pun keheranan.

"Kamu kenapa, nak?"

Si anak pun tiba-tiba mengeluarkan air mata dan membasahi pipinya. Ia mengusap kedua matanya.

"Kamu nangis?" tanya ayahnya. "Kenapa?"

"Ayah, entahlah. Kenapa besok itu harus menjadi hari Minggu yang menyisakan kepedihan orang-orang disekitarku. Mereka sibuk memperjuangkan hak dan aspirasi. Namun sisanya yang lain, berhura-hura menyambut perpisahan tahun. Dan orang besar yang sedang duduk di kursi kulit buaya, tertidur saat orang-orang disekitar kita sedang mati konyol, bakar diri, kelaparan yang konyol, jahit mulut.

Mengapa harus menyisakan hal seperti itu ayah? Bukankah kita sudah merayakan tahun baru Islam yang sarat akan motivasi untuk berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu yang bermekaran? Begitukah ayah jika kita merayakan tahun baru Masehi? Masih menyisakan kepedihan dan isak tangis tetangga kita?"

Si anak terus mengusap air matanya. Ayahnya tertegun.

"Nak, ada satu hal yang harus kita ingat bahwa esok itu hari Minggu. Hari minggu, kita bisa beristirahat dirumah. Kita masih diberi kesempatan untuk sholat 5 waktu. Tidak ada waktu yang hampa bagi kita. Beneran. Begitu pula hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, sampai Minggu lagi. Sampai perpisahan tahun pun kita masih bisa merenungi segala hal yang kita lakukan selama ini, nak. Termasuk pula kita bisa menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama di lingkungan kita.

Nak, merayakan tahun baru Islam dan Masehi itu beda. Kita umat Islam, dan kita tahu aturan bagaimana merayakan tahun baru yang sebenarnya. Pikirkanlah nak, dalam dirimu yang masih polos tanpa salah, kau harus mengetahui, membuang uang itu perbuatan yang akan menjadi besar. Seperti yang dilakukan oleh pemimpin kita yang sedang duduk di kursi buaya disana.

Mereka menghamburkan uang demi proyek tanpa jelas apa gunanya. Mereka membeli sesuatu yang tidak berguna bagi rakyat, berguna bagi mereka sendiri. Dan orang yang berhura-hura di perpisahan tahun itu termasuk pula seperti para penghambur uang yang duduk di kursi buaya."

Sang anak tercenung. Diam, berhenti menangis. Lalu mengangkat kepalanya dan melihat awan putih berbalut seperti kapas.

"Ayah, akankah teman-temanku harus susah? Apakah mereka tidak akan mendapatkan pendidikan yang layak seperti teman-temanku disekolah lagi? Apakah teman-temanku mendapatkan hak yang pantas mereka miliki, tinggal di daerah pemukiman yang aman dan bebas dari prostitusi di televisi? Akankah mereka bisa murni dan jernih pikirannya karena sentuhan rohani? Ayah, apakah mereka harus menjadi gelandangan lagi?

Apakah pula kakakku yang bersekolah di sekolah lanjutan harus menikmati masa hedonis bersama teman-teman tanpa memikirkan masa depan?

Apakah pula aku harus merasakan rumit dan beratnya menjadi remaja ditengah keributan massa?

Ayah, aku galau ayah. Aku tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus bernasib sama seperti kakakku yang dirumah, hanya memegangi laptop dan Blackberry nya hingga ibu jari dan jari tangannya kapalan dan pegal?"

Sang ayah menggaruk kepalanya.

'Betapa rumitnya pemikiran anakku ini, serumit kehidupan yang aku jalani sekarang,' ujar ayah dalam hati.

2 komentar:

  1. Salam kenal makasih dah berkunjung ya, mba.
    nama panggilannya siapa ya?
    biar enak nyapanya, hehe

    BalasHapus

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.