Cari

Thursday, December 29

Liburan Tahun Baru 1

Liburan?

Hore!!!

Itulah yang kurasakan pertama kali setelah bebas pergi jauh dari kota Bekasi yang yaya, membosankan dan ruwet karena macetnya. Kali ini ibu udah memberikan ijin kepadaku dan adikku untuk pergi liburan keluar kota, yakni Rangkasbitung Banten. Sebenernya gak liburan sendiri juga sih ^_^ Tapi ditemani kakek. Yaya, mungkin kakek juga ingin tau Rangkasbitung Banten itu gimana. Apa mirip-mirip desa Kapalo Koto atau Pariaman. Mungkin saja.

That's our first journey. Inilah perjalanan pertama kami. Dimulai dari pom bensin yak. Ada yang mual ^_^

Sambil nunggu adikku selesai mual. Aku iseng-iseng mencoba foto bersiluet hitam dan ada kesan awannya gitu. Biar fotonya agak dramatis *pret banget.



Yang diatas juga nih, iseng-iseng doang ^_^.

Dan.. inilah semuanya :D enjoy!^_^


Salah satu flora yang tumbuh di pom bensin. Entah bunga apa namanya, namun elok dipandang mata.

Oke, masih ada lagi nih fotonya :D. Lanjutan fotonya itu udah beda lokasi, yakni di daerah Desa Petir, Pandeglang, Banten.


Ini.. pemandangan gunung di daerah Pandeglang Banten. AKu nggak tau pasti apa nama gunung ini. Namun, seorang supir sewaktu mengantar kami ke Rangkasbitung mengatakan bahwa gunung ini mengeluarkan asap dan berapi. Katanya sih. Ditambah lagi dengan suasana sore yang adem nan sejuk, dan keadaan matahari yang mulai terbenam. Menambah keinginanku untuk segera mendaki gunung tersebut.

Gunung ini juga menarikku kembali ke masa liburan tahun lalu, yakni liburan mendaki ke Gunung Bromo Jawa Timur. Rasanya sih, beda kayak gunung biasa, soalnya Bromo itu daerah wisata umum dan kalo gak salah jalur pendakian juga. Mungkin beda kali sama gunung yang ada di Pandeglang ini. Medannya pendakiannya mungkin lebih berat, dan mungkin aja perlu menginap.


Taraaa!! Pemandangan ini dipotret dari dalam mobil. Jadi, adikku terpaksa membuka kaca jendela mobil sedangkan aku repot-repot berakrobat dari kursi pojokan paling belakang. Karena aku duduk paling belakang dan banyak barang di tempat itu, jadinya nggak mungkin aku pindah tempat duduk ke tengah. Akhirnya, aku mengambil foto dari tempat duduk paling belakang tersebut namun aku berusaha mengarahkan kamera ke luar. *ribet deui bahasana*


Kalo yang ini sih... Aku langsung keluar dari mobil. Karena pemandangannya bagus dan pas banget awan sorenya. Kebetulan aku mencoba memotret dengan setting kamera "Scenery". Alhasil, kesan fotonya ya apa adanya. Tapi karena ada mobil yang lewat, udah gitu mobil itu mengklakson *buat nyapa aku maksudnya, hihi, maka aku langsung jepret kamera. Jadilah seperti diatas!

Nah, sampai disitu dulu yah foto-fotonya. Masih banyak foto-foto liburan tahun 2011 menuju 2012 kok dan pastinya lebih menarik dan terang. Iya lah, wong aku ngambilnya sore-sore. Hehe.

Selamat melihat-lihat dan.. your critic are so important :D

Saturday, December 24

Ayah, Anak, dan Minggu

"Besok minggu kan, ayah?" kata anak kepada ayahnya.

Sang ayah yang sedang menatapi pemandangan malam bertabur bintang menoleh kepada anaknya.

"Iya nak, besok minggu. Ada apa?"

Si anak terdiam dan menunduk kebawah. Ayah pun keheranan.

"Kamu kenapa, nak?"

Si anak pun tiba-tiba mengeluarkan air mata dan membasahi pipinya. Ia mengusap kedua matanya.

"Kamu nangis?" tanya ayahnya. "Kenapa?"

"Ayah, entahlah. Kenapa besok itu harus menjadi hari Minggu yang menyisakan kepedihan orang-orang disekitarku. Mereka sibuk memperjuangkan hak dan aspirasi. Namun sisanya yang lain, berhura-hura menyambut perpisahan tahun. Dan orang besar yang sedang duduk di kursi kulit buaya, tertidur saat orang-orang disekitar kita sedang mati konyol, bakar diri, kelaparan yang konyol, jahit mulut.

Mengapa harus menyisakan hal seperti itu ayah? Bukankah kita sudah merayakan tahun baru Islam yang sarat akan motivasi untuk berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu yang bermekaran? Begitukah ayah jika kita merayakan tahun baru Masehi? Masih menyisakan kepedihan dan isak tangis tetangga kita?"

Si anak terus mengusap air matanya. Ayahnya tertegun.

"Nak, ada satu hal yang harus kita ingat bahwa esok itu hari Minggu. Hari minggu, kita bisa beristirahat dirumah. Kita masih diberi kesempatan untuk sholat 5 waktu. Tidak ada waktu yang hampa bagi kita. Beneran. Begitu pula hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, sampai Minggu lagi. Sampai perpisahan tahun pun kita masih bisa merenungi segala hal yang kita lakukan selama ini, nak. Termasuk pula kita bisa menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama di lingkungan kita.

Nak, merayakan tahun baru Islam dan Masehi itu beda. Kita umat Islam, dan kita tahu aturan bagaimana merayakan tahun baru yang sebenarnya. Pikirkanlah nak, dalam dirimu yang masih polos tanpa salah, kau harus mengetahui, membuang uang itu perbuatan yang akan menjadi besar. Seperti yang dilakukan oleh pemimpin kita yang sedang duduk di kursi buaya disana.

Mereka menghamburkan uang demi proyek tanpa jelas apa gunanya. Mereka membeli sesuatu yang tidak berguna bagi rakyat, berguna bagi mereka sendiri. Dan orang yang berhura-hura di perpisahan tahun itu termasuk pula seperti para penghambur uang yang duduk di kursi buaya."

Sang anak tercenung. Diam, berhenti menangis. Lalu mengangkat kepalanya dan melihat awan putih berbalut seperti kapas.

"Ayah, akankah teman-temanku harus susah? Apakah mereka tidak akan mendapatkan pendidikan yang layak seperti teman-temanku disekolah lagi? Apakah teman-temanku mendapatkan hak yang pantas mereka miliki, tinggal di daerah pemukiman yang aman dan bebas dari prostitusi di televisi? Akankah mereka bisa murni dan jernih pikirannya karena sentuhan rohani? Ayah, apakah mereka harus menjadi gelandangan lagi?

Apakah pula kakakku yang bersekolah di sekolah lanjutan harus menikmati masa hedonis bersama teman-teman tanpa memikirkan masa depan?

Apakah pula aku harus merasakan rumit dan beratnya menjadi remaja ditengah keributan massa?

Ayah, aku galau ayah. Aku tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus bernasib sama seperti kakakku yang dirumah, hanya memegangi laptop dan Blackberry nya hingga ibu jari dan jari tangannya kapalan dan pegal?"

Sang ayah menggaruk kepalanya.

'Betapa rumitnya pemikiran anakku ini, serumit kehidupan yang aku jalani sekarang,' ujar ayah dalam hati.

Saturday, December 10

YOU


... You...
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep,
I just can reach myself again

Oh, you...

Successfully tore my heart
Now it's only pieces
Nothing left but pieces of you

You.

Frustated me with this love
I've been trying to understand
You know I'm trying I'm trying

You,

I don't know what to say
You've made me so desperately in love
and now you let me down

Saturday, December 3

Malam yang Hidup

Malam yang hidup.

Malam yang hidup, kini ku dengar suara-suara motor yang tak pernah berhenti di jalanan sepi yang kadang ada dua insani berdua memadu kasih.

Kubayangkan,

Satpam-satpam itu berjaga-jaga apabila ada erampok yang berusaha memasuki perumahan blok sekian. Namun mereka terlena oleh tontonan televisi yang menyenangkan. Sedangkan para ibu, dimana itu istri mereka, selalu setia menunggu. Walau dalam galau dan sepi, galau yang nyata dan hilang ketika suami mereka pulang dengan selamat. Sepi.

Sepi karena anak-anak ibu itu tertidur pulas, tak memikirkan hari esok bagaimana dan hari ini apa yang sudah dilakukan. Mereka anak-anak yang masih terpancar kebahagiaan dan semangat hidup. Meskipun mereka hidup di pinggiran kota yang mulai macet oleh kendaraan pada..

Pada malam yang hidup ini. Malam minggu.

Malam yang terasa lama. Berbeda dengan malam Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jum'at. Waktu berputar sangat lama. Seolah-olah itu anugrah bagi dua insani yang sudah lama tak bertemu di kejauhan. Waktu bagi anak-anak yang berjuang dan terjaga hanya untuk mengerjakan sesuatu yang membuat mata mereka lelah di pagi hari.

Malam yang hidup.

Kini aku masih dalam kesendirian. Aku menunggu denting-denting pagi yang cerah dan kebahagiaan. Namun aku harus mati suri untuk menjelajahi mimpi yang membuatku jatuh tersungkur ke bawah alam sadar.

Malam yang hidup.

Kau menemaniku selalu. Aku bisa menumpahkan kekesalan hidup, kejengkelan, kegalauan tak karuan yang selalu menempel pada manusia belia, baik itu bujang maupun gadis.

Aku didepanmu, wahai layar putih. Berilah aku kebebasan untuk menodaimu dengan huruf-huruf hitam yang bergerak karena kecepatan tanganku yang menggelitiki badanmu. Karena kita mungkin takkan bertemu dimalam yang hidup ini.