Cari

Tuesday, August 9

Jatuh Cinta dan Puisi 1

"Elly, gue ngerasa hati gue indah dan berbunga-bungaaa banget!" seru Putri.
"Ciee, kenapa kamu?" cetus Ira.
Putri tertawa lebar. Maksudku, tersenyum lebar. Wajahnya terasa agak hangat dan air matanya jatuh. Mungkin ngantuk dan bosan, bukan menangis.
"Gue falling in love to someone, Elly, Ira. Gue jatuh cinta kepada seseorang! Aaaaakkk!!" seru Putri.
Elly dan Ira saling berpandangan. Orang-orang yang ada disekitar kami hanya keheranan. Namun mereka tak peduli karena kami duduk dilantai, dekat meja guru. Lantai yang dingin tersebut menjadi hangat karena kelegaanku melawan rasa takut bercerita. Kelas 11 IPA 3 menjadi sumber bisikan suara sumbang yang tak nyaman ditelinga. Mereka berbisik satu sama lain, selainnya menggelengkan kepala.


Itulah flash fiction tentang "JATUH CINTA". Idih, gak usah di capslock ya, "Jatuh Cinta".

Nah, semua orang pasti mengalami jatuh cinta kan? Ya. Tidak mungkin semua orang didunia ini mengalaminya, kecuali hatinya keras dan temperamental banget. Iya sih, walaupun seseorang yang berhati keras dan bertemperamental keras pun juga jatuh cinta. Tapi.... boro-boro jatuh cinta, orang yang bakal menyukai si watak keras tadi udah kabur duluan. Hehe, peace deh :D

Oya, mungkin saja mbak/mas yang membaca postingan ini lagi musim-musimnya hati jatuh cinta sama seseorang. Walaupun bulan Ramadhan, bulan puasa. Jatuh cinta gak kenal bulan Januari hingga Desember. Jatuh cinta selalu ada, walaupun juga bukan jatuh cinta kepada seseorang. Mungkin, kepada keindahan alam, pelajaran, internet, atau malah jatuh cinta sama buku. Namun, jatuh cinta dibulan Ramadhan yang suci ini, diperlukan strategi atau taktik yang boleh laahh dicoba. Salah satunya membaca puisi atau menulis puisi.

Waktu diperpustakaan SMAn 1 Bekasi yang adem-ayem, aku, Azkia dan Dini sedang semangatnya melihat suasana perpus yang nyaman dan tentram. Tak hanya memiliki segudang buku yang bagus, tetapi juga dijadikan sebagai tempat meditasi dari masalah. Ya mungkin, selain adem-ayem, tetapi juga tempat yang aman buat curhat sama sohibnya tanpa mata-mata. *Ah, nyasar banget nih...

Oke, kami menaruh tas dekat penitipan tas. Kami bergegas menuju tempat bagus untuk duduk-duduk. Pojokan diantara rak buku yang tinggi. Disanalah kami bercerita tentang segala hal, tapi bukan ngegosip. Sambil mereka bercerita, iseng aku mendapati buku Jalur Masuk ITB. Nampaknya sih buku ini bagus. Dan setelah kubaca, baru aku menyadari bahwa masuk ITB dengan bantuan apapun itu tetap mahal. Diperlukan perjuangan lebih selain embel-embel nilai bagus, juara olimpiade, beasiswa. Mungkin nilai yang sangat bagus dan ekonomi yang bagus juga.

Hmm, aku menutup buku tersebut dengan hati semrawut. Aku mikir,

"Kenapa diperpus seadem ini gak ada sama sekali buku sastra atau novel gitu?"

Gubrak!

Akhirnya, aku berinisiatif untuk mencari buku yang selalu ingin kucari, sastra. Bedanya dengan perpustakaan SMAn 1 Sumenep adalah, perpus SMAn 1 Sumenep lebih banyak buku sastra atau pengetahuan umum dibanding pelajaran. Sedangkan perpus SMAn 1 Bekasi, bukunya lengkap, terutama tentang Al-Qur'an, buku pelajaran juga banyak. Tapi sayang, buku sastra gak keliatan.

Emang dasar lagi semrawut-wutt, ternyata aku mendapati novel 1 rak. Novel baru seperti Ketika Cinta Bertasbih (Andrea Hirata) hingga novel Atheis (Achdiat K. Miharja). Alhamdulillah!! AKu dapat novel satu rak!! Lalu, mataku mencari-cari buku khusus puisi saja. Dapatlah buku yang diterbitkan oleh Horison Sastra Indonesia. Yang berjudul, Kitab Puisi.

Langsung kuambil buku setebal lebih 500 halaman. Aku membuka halaman pertama, puisi nukilan dari... ada pujangga Aceh, kalau nggak salah namanya ada unsur Hamzah. *lupa banget!. Lalu aku juga mendapat gurindam 12. Entah siapa pengarangnya. Daripada bengong, kucari penyair yang kukenal, Chairil Anwar dan Taufiq Ismail.

Tetapi entahlah, aku merasa nggak pengen baca puisi hebat mereka. Aku malah mencari judul puisi yang sesuai dengan keadaan tadi siang, lapar. Tapi gak ada deh, judul puisi lapar ataupun tema lapar. Hehe...

Tak sengaja, aku membuka puisi Mathori A. Elwa. Judulnya adalah Kini Sudah Tiada. Maka, kubaca puisi itu dengan seksama. Sekali baca, okelah nggak ngerti. Aku membawa lari kitab puisi itu ketempat Dini, Azkia, dan Putri ngumpul.

"Eh, buku apaan tuh?" tanya Dini.
"Buku puisi. Eh liat nih, keren banget, hahaha," kataku senyam-senyum.
Dini melihatnya dengan seksama dan... Wah! Dini senyum juga!
"Cieee..."
"Coba baca deh, kata-katanya.." saranku.

Hmm.. pengen tau puisinya??? Yuk! Lihat lagi setelah yang satu ini! Hihii..

*sukses bikin penasaran gak sih??*

1 comment:

  1. Hah? Jadi puisinya belum diketik!! Hah?? Ah, ga seru ah ga seru! *block re2myblogg dari web browser*

    Eh tapi itu paragraf satu, setelah beberapa menit, baru sadar bahwa *maklum otak lagi gila* baru sadar bahwa, baru sadar bahwa itu kejadian seandainya kamu gak pindah ya, hmm, hahahak *keselek sendok* *Empu Sendok*

    ReplyDelete

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.