Jumat, Agustus 26

Inikah Namanya.. Cinta?

Terkadang, aku membayangkan sosok. Ia jauh. Dia bagaikan pembawa magnet. Lalu memberikan pengaruh magnet. Dan kekuatan menariknya sangat terasa. Akupun terjatuh kedalam lingkaran magnet. Lingkaran yang selalu berputar, membuatku merasa ada diatas, terbang, melayang. Dan bahkan membuatku merasa dibawah, terinjak, terhempas, bahkan terkubur diantara kegelisahan.

Terkadang pula aku memimpikannya. Bahwa ia selalu mengejarku dalam mimpiku yang bukan hanya baik, namun juga buruk. Ia seperti manusia maya, yang selalu berada dalam bayang-bayang bahaya akan mata panda. Dan ia selalu meringis kesakitan, menangis terseok-seok seperti tersiksa. Ketika kehidupan mayanya mengganggu kehidupan cintanya, nyatanya. Temannya. Dan semuanya. Bahkan mimpinya.

Terkadang pula aku menangisinya. Hanya karena hal tak penting sekalipun. Seorang gadis yang akan menapaki tangga kedewasaan. Menghadapi halang-rintang seperti kegalauan dan kelabilan tak jelas. Membunuh rasa optimis. Dan seorang anak kecil yang sudah lain wajah dan roman dahinya. Sebagai tanda ia lelah, namun ia terpikat dalam kehidupan duniawi. Beda halnya dengan dia. Dia, boleh mendapat keakuan dari negara. Mendapatkan kartu yang tak jelas juntrungannya ketika ia akan mengembara kenegara lain. Bahkan ia boleh mendapatkan paspor, ketika ia ingin meninggalkan dunianya sekarang. Dia, dia bukannya dewasa. Ia, masih menapaki tangga kedewasaan dipertengahannya. Ia, boleh turun, boleh naik.

Dan mungkin ketika aku, atau dia, atau kamu... Menapaki tangga tengah, janganlah seperti rumput bergoyang. Labil, galau. Bingung. Tak tahupun kemana arah dan tujuan. Yakinlah, tangga itu akan goyah. Bahkan roboh.

Entah, runtuhan tangga itu jatuh kemana.

Terkadang cinta itu tidak eksak. Tidak seperti rumus kimia mencari molar zat. Ataupun rumus-rumus kimia organik asam formiat pada semut. Atau, kadang cinta itu sering dikaitkan dengan filosofi hidup yang menohok. Membunuh teori rumus eksak yang terkadang akupun, bahkan kaupun tak mengertinya. Atau mungkin cinta tak seperti algoritma, atau resonansi. Aku tak mengerti...

Atau cinta... Mungkin seperti teori Lubang Hitam, atau malah teori relativitas. Mungkin.

Inikah namanya... cinta? Sebuah kata universal, kontroversial... penuh pro-kontra yang diperdebatkan ahli-ahli dunia. Diteorikan. Dibukukan. Dijadikan cerita dengan bumbu-bumbu dunia yang indah. Terkesan romantis. Dikaitkan oleh kota atau tempat yang berunsur cinta. Ah!

Omong kosong. Inikah namanya... cinta?

1 komentar:

  1. cinta bisa memberikan banyak inpirasi, untuk sebagian orang cinta bisa jadi bencana

    BalasHapus

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.