Cari

Wednesday, August 31

GO! Idul Fitri 1432 Hijriah

Assalamu'alaikum kawan!!

Hai!! Wah, gimana nih rasanya lebaran? Enak ya? Makan banyak, kue banyak? THR mungkin banyak kali ya.. Ckckck... Tapi, hati merasa plong gak? Maksudnya, plong karena bebas merdeka dari setan dan merasa berhasil melaksanakan puasa dengan ikhlas. Benarkan? Insya Allah deh ya.

Nah, selama bulan Ramadhan, mungkin mas/mbak udah melaksanakan puasa dengan ikhlas. Puasa emang diwajibkan dalam ibadah, selain itu termasuk pula dalam rukun Islam. Namun, dalam berpuasa, apakah udah ngerasa puasanya bener-bener puasa? Mungkin saja, tantangan puasa adalah marah, pengen sabar tapi gak bisa, lapar, haus, lapar dan haus ditahan tapi main laptop ampun khusyuknya. Bisa aja kan? Bisa aja selama puasa tetap disibukkan kehidupan duniawi seperti itu tadi. Malahan, sholat, ataupun mengaji kurang. Akupun seperti itu. Aku pun merasa puasaku kurang pol. Kurang sempurna. Siapa coba, yang gak mau dapat pahala penuh akan puasa yang penuh pula? Puasa gak pake bolong, kecuali khusus kaum hawa ya. Bolong disini maksudnya puasanya kurang sempurna. :)

Aku pernah mendengar ceramah dari seorang pemateri di Masjid An-Nabaa sekolahku. Katanya sih, seorang perawi hadits dalam bulan Ramadhan, khatam Al-Qur'an selama.. Insya Allah 60 kali sepertinya. Subhanallah, keren banget. Mungkin 1 Al-Qur'an tersebut, beliau sudah bisa menghapalnya dengan lancar. Namun sayangnya, aku lupa siapa perawi hadits yang sangat terkenal itu. Aduh...

Pengen banget? Untuk mas/mbak pasti pengen banget deh kayak perawi hadits itu. Aku pengen juga. Sama-sama pengen.

TAPI!! Ada beberapa hal yang menghalangi niat dan langkah kita untuk seperti beliau. Pasti sudah tau kan? Dan mungkin pada akhirnya kita akan menyesal diakhir bulan Ramadhan. Kira-kira gini,

"Aduh, aku nyesel banget! Kenapa aku gak ngaji aja waktu bulan Ramadhan yaa?"

Mungkin setan disebelahmu menjawab gini.

"Halah, kan tahun depan masih ada. Yakin deh, Allah ngasih umur lebih ke lo. Gak usah khawatir. Senang-senang aja dulu. Mumpung belum dipanggil kan?"

Masya Allah. Kalo menurutku mah, kita semua emang sering tergoda gitu kali ya. Sehingga, niatnya pengen mengkhatam Al-Qur'an, sholatnya ditingkatkan atau lebih rajin, atau mungkin yang banyak PR rajin dikerjakan menjadi batal semuanya karena.. KEMALASAN.

Lapar dan haus membuat kita dibelenggu rasa malas. Pengennya tidur. Itu deh, kebiasaan orang pada umumnya.

Tapi ada kok, selama puasa, beberapa atau banyak orang melakukan kesibukan tertentu untuk melupakan lapar dan haus mereka. Melakukan kegiatan positif dan tidak hanya duduk berpangku tangan depan layar monitor. Dan itu ada kok.

Namun, percayalah... Kamu akan berpikir pada hari raya Idul Fitri seperti ini,

"Aku harus lebih bisa meningkatkan ibadahku dihari lain. Yang bolong diganti. Yang males diilangin walaupun rasanya susah banget."

Dan kamu bertekad pada do'a setelah sholat Idul Fitri. Kamu mungkin terinspirasi oleh puasa Syawal selama 6 hari yang "dipromosikan" oleh para da'i bahwa puasa Syawal seperti puasa dalam 1 tahun. Ya sih, pengen banget.

Dan, sebelumnya perlu kamu ingat... Tadi kan sholat Idul Fitri yak. Kamu mungkin sedikit melupakan sesuatu...

"Bermaaf-maafanlah kamu kepada saudaramu sendiri, yakni sesama Muslim. Maafkanlah mereka dengan ikhlas. Agar kamu dimudahkan urusannya."

Surah terjemahan apa? Hadits nya siapa? Ah, bukan-bukan. Ini.. ngasal kok! Hehehe.. Mungkin seperti itu dah. Aku hanya ingin banget, Idul Fitri yang indah ini seharusnya lebih indah lagi dengan saling memaafkan, ikhlas, dan selalu optimis untuk berpikir kedepan. Yaya, walaupun saya tidak pulang kampung ke kampung halaman tercinta, Pariaman Sumatera Barat. Hehe.

OKAY! Keep apologize and forgive to all people who ever face and meet you! Because maybe they're your friends! Really friends! And maybe Allah very happy to see you if you do like that :D"

Return to My Blogg mengucapkan,

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 HIJRIAH. TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM, TAQABBAL YAA KARIIM.

Maafkan aku apabila ada postingan blog ini yang kurang berkenan, dan banyak salah. Semoga blog ini terus maju kedepan dan pastinya... insya allah rajin posting :) Keep optimist okay!

Malam Ini

Malam ini terasa sunyi, hanya ada semilir angin yang mengalir. Tidak ada lagi tanda kehidupan hakiki, tidak ada lagi tanda keramaian para perantau yang selalu berkicau. Yang ada hanyalah, keramaian kosong. Tanpa makna.

Malam ini makin larut. Bagimu sangat terasa lama sekali. Apabila kau hanya duduk berpangku dagu. Memikirkan masa lalu yang indah di bulan Ramadhan. Hingga kau terisak tersedu-sedu dan terkadang tertawa terbahak-bahak. Dan kadang kaupun mungkin membuka catatan halaman dalam otakmu. Kau membayangkannya dalam mimpi. Lalu kau tertidur dalam pangkuan dagu. Dan akhirnya, malam yang makin larut terasa lama sekali.

Malam ini makin larut. Bagiku sangat cepat sekali. Apabila aku hanya duduk, menatapi layar televisi dengan radiasi grafis berat. Aku memegang erat stik playstation yang kadang bergetar ketika lawanku menggoreskan pedang ataupun tombak ataupun panah beracun. Lalu tokoh yang kumainkan kepedihan, sepedih otak dan mataku merasakan getaran stik playstation. Setelah kurasakan itu berlarut-larut, akupun harus menghadapi lawan terberat yang mungkin akan mati dalam 10 menit saja. Bagaimana? Lebih dari 10 menit, lawanku akan mati ditempat. Dan habislah semua cerita-cerita peperangan.

Dan selesai pulalah malam yang terasa larut tersebut. Semua sudah tak terasa. Akupun mati rasa. Ternyata sudah jam dua. Untuk hari esok dari hari kemarin. Itukah malam yang cepat bagiku?

Malam yang makin larut akan terasa hampa. Ketika semua manusia sibuk dengan dunia mereka, ketika mereka terbelenggu dari segala penahan hawa dan kebebasan. Mereka semua bermain dengan keindahan semu, mereka memang kembali ke hari yang suci, namun entahlah. Apakah hati mereka suci atau tidak, aku tak tahu. Dan, mungkin saja malam ini akan terasa sangat hampa apabila semua orang akan melupakan fitrah hari fitri yang sebenarnya.

Ya, hari fitri sebenarnya.

Saturday, August 27

It's West Jakarta

Foto-foto ini saya dapatkan ketika saya dari Rangkasbitung Banten menuju Bekasi Jawa Barat. Nah, kami melewati tol dalam kota Jakarta bagian barat. Dimana, tol daerah ini kita bakal ngeliat sekilas, ada gedung MPR dan kemegahan gedung yang tinggi di Jakarta Barat.

Semua foto disini asli difoto dalam mobil dengan pengaturan kamera ''Sport'. Kamera yang digunakan Panasonic LUMIX 10 Megapixel.

Enjoy this :D





Seakan-akan foto gedung ini memiliki kesan perspektif ketika misalnya kita menggambar dengan pensil. Dan efek pensil boleh saja menggunakan arsiran atau efek yang membuat gedung ini lebih megah.



Sebenarnya ini salah menangkap gambar. Yaa.. walaupun menggunakan efek "Sport", tetapi gambar yang dihasilkan, terutama gambar bunga (dibawahnya gedung itu) menjadi kabur. Tetapi gambar gedung "Majelis Permusyawaratan Rakyat" jelas, walaupun sedikit kabur karena mobil yang bergerak. Ini beneran gedung MPR loh! Sayangnya, gedung ini terlalu tinggi pagarnya. Mungkin untuk mencegah demonstran merusak gedung, atau malah macam-macam dengan penghuni gedung MPR.




Gedung-gedung yang tinggi di Jakarta Barat ternyata mengalahkan tingginya pohon rindang. Entah, pohon ini harus tumbuh dan berkembang beberapa tahun lagi agar tingginya seperti gedung yang mengelilingi pohon tersebut.



Unique's building... It seems like Boscha building in Lembang Bandung.



Gedung ini juga memiliki sifat perspektif jika digambar dengan pensil, atau apalah gitu. Latar belakang biru cerah dan awan tak terlalu tebal membuat gedung ini terlihat tegak dan kokoh.

Itulah dia, foto tentang Jakarta Barat. Semua gedung yang difoto dalam mobil ini terdapat pada tol dalam Jakarta, terutama Jakarta Barat. Mungkin yang tinggal di Jakarta, bakalan tahu semua bangunan ini deh...

Selamat Hari Raya Idul Fitri dan selamat liburan! :D

Friday, August 26

Inikah Namanya.. Cinta?

Terkadang, aku membayangkan sosok. Ia jauh. Dia bagaikan pembawa magnet. Lalu memberikan pengaruh magnet. Dan kekuatan menariknya sangat terasa. Akupun terjatuh kedalam lingkaran magnet. Lingkaran yang selalu berputar, membuatku merasa ada diatas, terbang, melayang. Dan bahkan membuatku merasa dibawah, terinjak, terhempas, bahkan terkubur diantara kegelisahan.

Terkadang pula aku memimpikannya. Bahwa ia selalu mengejarku dalam mimpiku yang bukan hanya baik, namun juga buruk. Ia seperti manusia maya, yang selalu berada dalam bayang-bayang bahaya akan mata panda. Dan ia selalu meringis kesakitan, menangis terseok-seok seperti tersiksa. Ketika kehidupan mayanya mengganggu kehidupan cintanya, nyatanya. Temannya. Dan semuanya. Bahkan mimpinya.

Terkadang pula aku menangisinya. Hanya karena hal tak penting sekalipun. Seorang gadis yang akan menapaki tangga kedewasaan. Menghadapi halang-rintang seperti kegalauan dan kelabilan tak jelas. Membunuh rasa optimis. Dan seorang anak kecil yang sudah lain wajah dan roman dahinya. Sebagai tanda ia lelah, namun ia terpikat dalam kehidupan duniawi. Beda halnya dengan dia. Dia, boleh mendapat keakuan dari negara. Mendapatkan kartu yang tak jelas juntrungannya ketika ia akan mengembara kenegara lain. Bahkan ia boleh mendapatkan paspor, ketika ia ingin meninggalkan dunianya sekarang. Dia, dia bukannya dewasa. Ia, masih menapaki tangga kedewasaan dipertengahannya. Ia, boleh turun, boleh naik.

Dan mungkin ketika aku, atau dia, atau kamu... Menapaki tangga tengah, janganlah seperti rumput bergoyang. Labil, galau. Bingung. Tak tahupun kemana arah dan tujuan. Yakinlah, tangga itu akan goyah. Bahkan roboh.

Entah, runtuhan tangga itu jatuh kemana.

Terkadang cinta itu tidak eksak. Tidak seperti rumus kimia mencari molar zat. Ataupun rumus-rumus kimia organik asam formiat pada semut. Atau, kadang cinta itu sering dikaitkan dengan filosofi hidup yang menohok. Membunuh teori rumus eksak yang terkadang akupun, bahkan kaupun tak mengertinya. Atau mungkin cinta tak seperti algoritma, atau resonansi. Aku tak mengerti...

Atau cinta... Mungkin seperti teori Lubang Hitam, atau malah teori relativitas. Mungkin.

Inikah namanya... cinta? Sebuah kata universal, kontroversial... penuh pro-kontra yang diperdebatkan ahli-ahli dunia. Diteorikan. Dibukukan. Dijadikan cerita dengan bumbu-bumbu dunia yang indah. Terkesan romantis. Dikaitkan oleh kota atau tempat yang berunsur cinta. Ah!

Omong kosong. Inikah namanya... cinta?

Thursday, August 25

Jalan Tol

Aku dalam perenungan

Aku menatapi seonggok tanah dan dedaunan parah

Mereka menangis bagaikan terbawa angan

Kemudian aku hanyalah manusia punya mata

Aku hanya melihat mereka,

Aku tak bisa berbuat apa-apa


Aku dalam perenungan

Ketika mobil berkecepatan tinggi tak mempedulikan pepohonan

Ketika mobil itu pun menabrak dahan pohon yang lembut namun kuat

Dan

“maafkan aku mobil, aku harus membunuhmu”

Wednesday, August 24

Foto hasil Photoscape 3.5 on Tangkuban Parahu

Assalamu'alaikum kawan! Yay!

Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk memposting sesuatu diblog ini. Wah, kayaknya gak kerasa yaa.. usia Return to My Blogg sudah setahun lebih! Sampai sekarang masih aktif dan yaa-yaa, postingan akan semakin terasa berbeda dibanding yang dulu. Mungkin karena administratornya makin dewasa dan makin puyeng menghadapi kekompleksan masalah hidup remaja *cieee, bahasanya.

O ya, karena administrator blog ini udah kelas 2 SMA *halah , jadinya postingan mungkin tidak akan berubah dan melenceng dari habitual action-nya. Yakni puisi, blak-blakan, dan mungkin aja sedikit foto-foto "aneh" dan pastinya foto ini foto yang positif lah yaa ^_^



Oke-oke! Foto diatas adalah, sambungan postingan "Liburan ke Tangkuban Perahu 18 Maret 2011". Foto itu kayaknya gak ada dipostingan tersebut deh. Tapi foto ini merupakan foto editan oleh Photoscape 3.5 dan juga sambungan lanjutan foto berikutnya.



Nah, kalo ini foto aslinya. Kesannya kayak diedit yah? Nggak, ini bener-bener asli. Mungkin cara pengambilannya dan cahayanya emang lagi redup-redupnya.

Keliatan kan kalo foto sebelumnya. Foto menjadi terkesan digambar oleh pensil warna dan kayak kartun gitu, karena dengan teknik tapis lalu klik Pictorialization. Nah, kemudian pilih Pensil Warna dan Pensil. O ya, Photoscape 3.5 yang kugunakan menggunakan bahasa Indonesia. Hehehe, maaf lupa ngasih tau ^_^

Warna pada foto tersebut mencolok karena adanya pengubahan Saturasi dan Luminasi Warna. Mungkin bisa dicoba-coba deh...



Waah! Ini kesannya diedit banget, rada gak jelas --_____--.

Okelah, kalo foto hasil editan yang ini agak rumit langkah-langkahnya. *Waduh, mau ngetik apa yaa.. Lupa*

HaduuH! AKu lupa caranya! Aaaakk!! Kalo gak salah, aku memilih opsi Saturasi dan Luminasi Warna. Aku mengotak-ngatik kurva dua pilihan tersebut sehingga warnanya berubah total. Disini mungkin ada sedikit efek Pensil Warna. Kemudian ditambah lagi dengan efek kontras rendah. Mungkin itu. Selanjutnya, mas/mbak sendiri yang bisa mencobanya hingga seperti itu.

Foto aslinya seperti ini...



That's it about my edited photos. :D. Hope you can appreciate all with comment these.

Monday, August 22

Buka Puasa dan Cabe Rawit

Alhamdulillah, perut sudah kenyang dipenuhi oleh menu buka puasa yang dilahap haaapp bersama Dedek, opa dan omaku. Jadinya sih, malam ini belum ngerasa lapar. Maksudnya, lapar karena belum makan malam. Hehehe...

Ada yang membuatku tergelitik saat berbuka puasa.

Pertama, Dedek berinisiatif untuk membeli gorengan yang ada didepan Indomaret. Awalnya sih, inisiatif Dedek itu disetujui oma. Sehingga oma menyuruh Dedek membeli gorengan seperti tahu, tempe, dan ubi goreng. Aku yang sedang kekenyangan dan mual - gak pengen makan bukaan lebih banyak lagi - malah ingin makan gorengan. Apalagi aku kangen makan tempe goreng. Pada akhirnya, Dedek cabut dari rumah dengan sepeda motornya untuk membeli gorengan.

Setelah beli gorengan... Aku, opa, dan oma langsung menyerbu gorengan yang tampaknya menggoda. Tampilannya mah gorengan biasa, tapi rasanya ngangenin *lebay ah. Apalagi ada menu baru yang akan kucoba dalam lidah, ubi goreng. Aku gak suka ubi goreng, sukanya singkong goreng. Oke, tapi kali ini tampilan ubi gorengnya sangat bersahaja dan gak ada banyak embel-embel berupa kerak goreng kayak ayam goreng KFC. Kerak goreng ubi goreng ini biasa saja. Nampaknya gak tertarik banget ini ubi goreng -___-.

Tapi... setelah kuambil satu dan kugigit dengan gigi rahang atas dan rahang bawah... Dan.. gorengan itu kukunyah dengan seksama, rasanyaa....

Enak!!

Lidahku gak bohong atau bohong yaa?? Hahaha...

Rasanya enak!! Tampilannya aja yang gak enak! Hahahaha.. Ternyata ubi goreng itu enak, sama seperti singkong goreng. Hanya saja bedanya, ubi gorengnya lembut dan nggak terlalu banyak kerak goreng sedangkan singkong goreng agak keras karena kerak gorengnya banyak. Atau mungkin cara pengolahan ubi dan singkong yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda pula *weleh-weleh* *ini mah promosi Tahu Sumedang depannya Indomaret*.

Ah, itu yang membuatku tergelitik.

Yang kedua, ini lebih konyol dan membuatku flashback waktu SD kelas 6. Flashback beberapa menit saat buka puasa. Duh, masih ada hubungannya dengan makan memakan gorengan bersama-sama. Namun, ini sesi pertengahan makan gorengan. Dimana perut merasa mendapatkan kepuasan kenyang dengan nilai 9. *Hukum ekonomi deh kayaknya.. Apa ya?* Hmm.. ini sangat sederhana dan remeh.

Gini.. Saat aku sedang melahap ubi goreng, aku melihat Dedek makan tahu goreng dengan teman makan cabe rawit hijau. Dalam arti, dia makan tahu goreng bersamaan dengan cabe rawit hijau. Ketika Dedek makan cabe rawit, omaku melihatnya dengan meringis dan berkomentar pula.

"Gak pedas rasanya, Dek?" tanya Oma. "Oma kalau makan itu pedas sekali rasanya."

Dedek menggeleng. Sedangkan aku keheranan. Kenapa Oma (nenek), orang Padang tulen, heran melihat cucunya yang makan cabe rawit hijau. Salah apa? Opa (kakek) saja yang sesama Padang gak heran-heran amat tuh. Apa.. mungkin.. Oma gak pernah makan cabe rawit hijau kali ya? Hayoo...

"Emang kenapa Oma?" tanyaku. "Kan biasanya kalo makan gorengan pake cabe rawit hijau," jelasku sambil mengunyah ubi goreng.

"Apa tu.. Ngapain oma makan cabe rawit tu. Pedas sekali rasanya," cetus Oma. "Pakai cabe rawit tu orang Jawa biasanya. Masakan Jawa apa-apa pakai cabe rawit."

Waduh duh.. Nyinggung orang Jawa nih. Eh, iya juga sih, orang Jawa biasanya dan kadang-kadang suka makan cabe rawit mentah-mentah. Termasuk tradisi sambel uleg. Bisa saja kan?

"Boh, bukannya orang Padang makan segala cabe oma?" ceplosku. Wah! Kalo orang Padang makan segala cabe, berarti cabe merica, dimakan juga? Hahaha..

"Ndak tu. Orang Padang gak makan cabe rawit," kata Opa.

"Tapi cabe rawit dipakai juga untuk masak gulai. Kadang-kadang juga tu orang kita makan cabe rawit," tambah Oma.

"Oo..," kataku.

Sedangkan adikku sibuk dan masih asyik makan tahu goreng dengan cabe rawit. Dia enjoy banget makannya, gak merah pun mukanya, merah karena kepedasan. Kalo Opa, dia ikut-ikutan makan cabe rawit. Tapi.. Ampuun!! Merah!! Hahaha.. Opa tertawa ketika aku bilang wajahnya merah. Kami semua tertawa bersama, termasuk Dedek yang ikut nyengir juga gara-gara perkara cabe rawit.

Ketika Opa makan gorengan pake cabe rawit juga, oma ikut nimbrung. Ngambil cabe rawit dari plastik, membelah cabe rawit menjadi dua. Dan mengoleskan satu belahan cabe rawit ke tempe goreng. Mengoleskan satu belahan cabe rawit ke tempe goreng, dan mungkin yang tertinggal hanyalah zat kaipsin dan biji cabe rawit yang putih. Ada air-air nya yang bakalan bikin jari tangan oma kepedesan juga. Hehe.. Setelah dioleskan, oma memakan tempe goreng tersebut. Rasanya?

"Padeh bana rasonyo (Pedas sekali rasanya, bahasa Padang)"

Oalaahhh.... Ternyata cara kedua makan cabe rawit itu, rasanya sama ya. Pedas juga. Inilah yang membuat aku, Dedek dan Opa tertawa lepas melihat oma yang seakan-akan lugu soal dunia cabe rawit dan cara memakannya. Sebenarnya, oma ngerti. Cuma oma gak mau makan cabe rawit seperti Dedek. Mungkin pedas, atau oma menderita penyakit dimana dokter melarang makan cabe terlalu pedas.

Ya, kesimpulannya, kukira orang Padang makan cabe rawit se-frontal orang pada umumnya. Orang Padang makan cabe rawit juga, tetapi jarang. Mungkin karena cabe rawit adalah induk dari segala cabe, selain itu pedesnya kebangetan. Sehingga yang makan cabe rawit bisa saja emosinya melambung jauh, eh melambung tinggi. Saking pedesnya juga, cabe rawit serasa membakar lidah orang yang memakannya. Termasuk orang yang seneng makan rujak buah sih. Kalo rujak cengor (cingur, bahasa Maduranya) pake cabe rawit juga gak ya?

Ah, yang penting semua suku dan semua manusia di Indonesia makan cabe, segala cabe. Kecuali bule tertentu yang gak makan cabe *halah*. Bule ada juga yang makan cabe, tapi gak sampai makan cabe rawit juga kali.

Gara-gara cabe rawit ini pulalah yang membuatku nyengir ketika kami tertawa bersama. Ah, masa waktu kelas 6, aku harus meraung-raung ke belakang kelas dengan muka padam gara-gara makan cabe rawit dan donat sekaligus?? Huaaaaa!! Malu banget!!! >,<"

Aaak! Bodohnya aku! Masa makan cabe rawit, makan donat pula. Alasanku dulu sih, biar gak pedes. Eh malah tambah pedes. Air minum tinggal sedikit pula. Masya Allah, gilak yaa.. Trauma makan cabe rawit jadinya.

Hahahaha... :D Itulah pengalaman buka puasaku tentang cabe rawit. Kalo pengalamanmu apa?

Wednesday, August 17

Gambar Kartun di Buku Matematika




Ah, itu gambar ancur-ancuranku saat pelajaran bahasa Inggris 2 minggu yang lalu. Aku menggambarnya dibuku matematika, pada saat pelajaran bahasa Inggris. Hehehe...

Dari kiri ke kanan:

Gambar:
1, Kerumitan Sains
2. Avatar Behind The Scene (sebenernya ini cuma kepala bagian belakang doang yang keliatan, hehehe)
3. Ugly Twittie Bird (persis kayak burung Twitter. Tapi ga tau deh nyasar)

Ah, itu deh kerjaanku kalo ada ide menggambar, hahaha.. Lucu dan ancur banget yaa...

Monday, August 15

Bulan



Bulan,
kau cipta-Nya yang terindah
namun aku bukanlah pemujamu
aku tak berharap kau menjadi sembahanku
akupun tak ingin make a wish padamu,
meskipun gadis dan bujang disana berdua menatapmu
lalu mengharap lebih padamu

Bulan,
aku seonggok arwah yang diberi roh
aku adalah jiwa yang akan mati ketika mendengar dentuman
aku adalah ciptaan-Nya sepertimu,
namun aku tak ingin kau rendah seperti aku
biarlah kau sederajat seperti bintang dan alam semesta
dan,
aku tak ingin kau jatuh kedalam rumahku
yang kelam dan sempit

Bulan,
hingga kini kutatap dirimu nun jauh disana
walaupun malam makin larut,

Bulan,
malam ini kau memang begitu benderang
aku terpaku melihatmu,
sebentar
kau hanya bundaran penghias malam
pencari saingan diantara ribuan lampu dunia
berjaya diantara kegelapan
namun sembunyi,
kau terkalahkan oleh mentari

Bulan,
sekarang masih bulan Ramadhan
masihkah kau tetap bundar-benderang
hingga akhir "lebih dari seribu bulan"?

Tuesday, August 9

Jatuh Cinta dan Puisi 2 (Kini Sudah Tiada, M.A. Elwa)

Oke, penasaran kan sama puisi Mathori A. Elwa? Puisi "Kini Sudah Tiada" tersebut kuambil dari Buku Horison Sastra Indonesia, Kitab Puisi warna biru. Sayangnya, aku lupa halaman berapa puisi Mathori A. Elwa tersebut. Namun, dibuku tersebut sudah dicantumkan lengkap bersama sumber puisinya.

Semoga, dengan puisi ini, mbak/mas bisa jatuh cinta di bulan Ramadhan sekaligus jatuh cinta kepada rahasia indahnya bulan Ramadhan ya. Insya Allah...


Kini Sudah Tiada
: Surat Cinta untuk A.

Sudah kupersembahkan semuanya
demi kau
kini sudah tiada
tubuh dan jiwa pun sudah tak
kupedulikan mau kau bawa kau
mana akhirnya
hidup, mati, sedih, dan gembira
itu
musnah sudah
kemarahan sudah tak kusapa lagi
kesabaran, rasa syukur, dan ridha
menghiburku
semua yang kau ciptakan tersenyum
menggodaku

Jangan tak kaubalas surat cinta
tulusku
harapan-harapan yang kukirimkan lewat
semua suara
kuusahakan namamu ku ingat
bahkan jika kauizinkan
kubisikkan saja keagunganmu
meski lewat alpa dan dosa-dosa
yang tak kuasa aku
menghindarinya
jika tak
bimbing aku
belajar kembali mengeja
alif ba' ta' cinta

Cirebon, 8 Juli 2000. Sumber: Mathori A. Elwa, Rajah Negeri Istighfar, Aksara Indonesia, Yogyakarta 2000.


That's it.. Enjoy...


Jatuh Cinta dan Puisi 1

"Elly, gue ngerasa hati gue indah dan berbunga-bungaaa banget!" seru Putri.
"Ciee, kenapa kamu?" cetus Ira.
Putri tertawa lebar. Maksudku, tersenyum lebar. Wajahnya terasa agak hangat dan air matanya jatuh. Mungkin ngantuk dan bosan, bukan menangis.
"Gue falling in love to someone, Elly, Ira. Gue jatuh cinta kepada seseorang! Aaaaakkk!!" seru Putri.
Elly dan Ira saling berpandangan. Orang-orang yang ada disekitar kami hanya keheranan. Namun mereka tak peduli karena kami duduk dilantai, dekat meja guru. Lantai yang dingin tersebut menjadi hangat karena kelegaanku melawan rasa takut bercerita. Kelas 11 IPA 3 menjadi sumber bisikan suara sumbang yang tak nyaman ditelinga. Mereka berbisik satu sama lain, selainnya menggelengkan kepala.


Itulah flash fiction tentang "JATUH CINTA". Idih, gak usah di capslock ya, "Jatuh Cinta".

Nah, semua orang pasti mengalami jatuh cinta kan? Ya. Tidak mungkin semua orang didunia ini mengalaminya, kecuali hatinya keras dan temperamental banget. Iya sih, walaupun seseorang yang berhati keras dan bertemperamental keras pun juga jatuh cinta. Tapi.... boro-boro jatuh cinta, orang yang bakal menyukai si watak keras tadi udah kabur duluan. Hehe, peace deh :D

Oya, mungkin saja mbak/mas yang membaca postingan ini lagi musim-musimnya hati jatuh cinta sama seseorang. Walaupun bulan Ramadhan, bulan puasa. Jatuh cinta gak kenal bulan Januari hingga Desember. Jatuh cinta selalu ada, walaupun juga bukan jatuh cinta kepada seseorang. Mungkin, kepada keindahan alam, pelajaran, internet, atau malah jatuh cinta sama buku. Namun, jatuh cinta dibulan Ramadhan yang suci ini, diperlukan strategi atau taktik yang boleh laahh dicoba. Salah satunya membaca puisi atau menulis puisi.

Waktu diperpustakaan SMAn 1 Bekasi yang adem-ayem, aku, Azkia dan Dini sedang semangatnya melihat suasana perpus yang nyaman dan tentram. Tak hanya memiliki segudang buku yang bagus, tetapi juga dijadikan sebagai tempat meditasi dari masalah. Ya mungkin, selain adem-ayem, tetapi juga tempat yang aman buat curhat sama sohibnya tanpa mata-mata. *Ah, nyasar banget nih...

Oke, kami menaruh tas dekat penitipan tas. Kami bergegas menuju tempat bagus untuk duduk-duduk. Pojokan diantara rak buku yang tinggi. Disanalah kami bercerita tentang segala hal, tapi bukan ngegosip. Sambil mereka bercerita, iseng aku mendapati buku Jalur Masuk ITB. Nampaknya sih buku ini bagus. Dan setelah kubaca, baru aku menyadari bahwa masuk ITB dengan bantuan apapun itu tetap mahal. Diperlukan perjuangan lebih selain embel-embel nilai bagus, juara olimpiade, beasiswa. Mungkin nilai yang sangat bagus dan ekonomi yang bagus juga.

Hmm, aku menutup buku tersebut dengan hati semrawut. Aku mikir,

"Kenapa diperpus seadem ini gak ada sama sekali buku sastra atau novel gitu?"

Gubrak!

Akhirnya, aku berinisiatif untuk mencari buku yang selalu ingin kucari, sastra. Bedanya dengan perpustakaan SMAn 1 Sumenep adalah, perpus SMAn 1 Sumenep lebih banyak buku sastra atau pengetahuan umum dibanding pelajaran. Sedangkan perpus SMAn 1 Bekasi, bukunya lengkap, terutama tentang Al-Qur'an, buku pelajaran juga banyak. Tapi sayang, buku sastra gak keliatan.

Emang dasar lagi semrawut-wutt, ternyata aku mendapati novel 1 rak. Novel baru seperti Ketika Cinta Bertasbih (Andrea Hirata) hingga novel Atheis (Achdiat K. Miharja). Alhamdulillah!! AKu dapat novel satu rak!! Lalu, mataku mencari-cari buku khusus puisi saja. Dapatlah buku yang diterbitkan oleh Horison Sastra Indonesia. Yang berjudul, Kitab Puisi.

Langsung kuambil buku setebal lebih 500 halaman. Aku membuka halaman pertama, puisi nukilan dari... ada pujangga Aceh, kalau nggak salah namanya ada unsur Hamzah. *lupa banget!. Lalu aku juga mendapat gurindam 12. Entah siapa pengarangnya. Daripada bengong, kucari penyair yang kukenal, Chairil Anwar dan Taufiq Ismail.

Tetapi entahlah, aku merasa nggak pengen baca puisi hebat mereka. Aku malah mencari judul puisi yang sesuai dengan keadaan tadi siang, lapar. Tapi gak ada deh, judul puisi lapar ataupun tema lapar. Hehe...

Tak sengaja, aku membuka puisi Mathori A. Elwa. Judulnya adalah Kini Sudah Tiada. Maka, kubaca puisi itu dengan seksama. Sekali baca, okelah nggak ngerti. Aku membawa lari kitab puisi itu ketempat Dini, Azkia, dan Putri ngumpul.

"Eh, buku apaan tuh?" tanya Dini.
"Buku puisi. Eh liat nih, keren banget, hahaha," kataku senyam-senyum.
Dini melihatnya dengan seksama dan... Wah! Dini senyum juga!
"Cieee..."
"Coba baca deh, kata-katanya.." saranku.

Hmm.. pengen tau puisinya??? Yuk! Lihat lagi setelah yang satu ini! Hihii..

*sukses bikin penasaran gak sih??*