Minggu, Juli 10

Sang Pengganggu Malam

Malam ini, aku benar-benar tak bisa tidur. Aku tau, sekarang pukul setengah 12 malam. Dimana, banyak orang mengira ini adalah jam tidur yang tidak baik untuk remaja seusiaku, dan mungkin kalian yang masih asyik nongkrong sambil menatap layar digital ini. Kau tahu, akhir-akhir ini, muncul setengah lingkaran hitam dibawah mataku. Sebagai pertanda, aku kurang tidur.


Daann.. malam ini... Malam begitu sunyi.. Oma dan opa sudah tertidur lelap dan menjelajahi mimpi mereka. Sedangkan adikku, sudah tertidur pulas 3 jam yang lalu. Mungkin, ia sangat letih menghadapi hari yang penuh tantangan dan kebosanan akan liburan. Dan mungkin juga, ia akan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes di sebuah sekolah. Oleh karena itu, adikku tidur untuk bermimpi, mimpi bagaimana ia harus menghadapi tes dan teman baru di sekolah barunya. Meskipun mereka bertiga tertidur lelap, ada satu hal yang mereka lupakan selama beberapa jam hingga pagi menjelang. Yakni, nyamuk. Hanya seekor nyamuk yang mengelilingi tubuh 'wangi' manusia tertidur lelap. Mendengung ke telinga, katanya manusia ketika bangun.


Nyamuk itulah yang membuatku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Pembunuh nyamuk ramah lingkungan, tanpa DDT. Tanpa bahan kimia yang terkandung di Baygon, ini-itu-segala macam pestisida pembunuh nyamuk. Menjelang tidur, pelototan mataku memantul-mantul sinar kebencian penuh terhadap makhluk pecinta daerah tropis. Memiliki jarum, punya pompa, mungkin untuk menukar darah yang baru dihisapnya dengan darah orang lain yang sudah dihisap berjam-jam yang lalu.


Pembunuh nyamuk itu, adalah raket yang mirip raket tenis. Namun, senar raket itu berubah menjadi sekumpulan kawat besi campur aluminium rumit yang mengandung aliran listrik bertegangan agak tinggi bagi nyamuk. Kontan saja, bagi pemakai raket itu memukul nyamuk beterbangan tanpa teknik memukul bola tenis, atau mungkin bulutangkis. Ketika nyamuk mulai mendekat, aku saja tidak mendapatkan nyamuk yang lincah terbangnya! Melainkan, Opa mendapatkannya dengan mudah, dan raket bersuara mercon karena adanya gesekan antara nyamuk dan raket... Sehingga muncullah sedikit kilat listrik yang membuat nyamuk terkapar pingsan, atau mati ditempat.


Ah.. nyamuk itu mengejar darahku... Malam ini terlalu cepat. Nyamuk itu akan membuatku mati sesaat karena insomniaku. Nyamuk itu akan menghisap darahku dengan darah yang tak jelas. Ah... kematian pada malam ini dekat. Walaupun hanya seekor nyamuk. Begitulah kata seseorang didunia ini yang masih nongkrong membuka laptopnya. Bukan aku! Mungkin kamu, kamu, atau mereka...

2 komentar:

  1. wah... kalo aku udah nggak keburu mikirin nyamuk-nyamuk itu tuh mas... udah pulessss... jadinya mereka bisa leluasa menyedot darahku...

    BalasHapus
  2. salam, apa kabar di tempat yang baru. ada perubahan pada puisimu agak prosais. Kalau aku kadang membayangkan nyamuk itu sosok yang berbaju loreng dengan pisau tajam di ujung tubuhnya siap menikam siapa yang tak awas. terus tumbuh dan berkembang dalam dunia imajiansi, terutama dalam dunia puisi. aku rekomkan ada buku puisi lumayan bagus sederhana tetapi mengejutkan aku baru beli sebulan lalu. "Konde Penyair Han" karya Hanna Fransisca. bagaioaman kierasan tinggal di tempat baru. selemat belajar, berjuang dan menempuh cita-cita. salam.

    BalasHapus

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.