Minggu, Juli 31

Bintang Menjelang Puasa

Selama setelah azan Isya hingga kini. Aku mencari-cari arti hilal. Ku lihat ditelevisi, berita memberitahukan bahwa pemerintah belum menentukan hilal. Katanya hilal tidak tampak. Walaupun didaerah lain hilal tampak.

Ah, hilal. Apa itu? Hilal, yang membuatku selalu ingin tahu selama aku hidup, selama aku dapat berpuasa. Hilal, hanyalah bayangan yang menentukan tepatnya jatuh waktu 1 Ramadan. Menggemparkan seluruh warga Muslim dalam zamrud yang terkurung oleh globalisasi.

Namun,

Aku hanya melihat gugusan bintang. Bukan seperti dikatakan gugusan, hanya bintang yang bertebaran dikarpet hitam.

Bintang akan selalu menemani bulan.
Walaupun bulan tak seindah kemarin,
tak tampak lagi

Bintang yang berkedip diantara laksana keindahan malam,
walaupun dia mengalah diantara tera volt cahaya,
dibawah kemegahan bintang yang bercahaya hanya beberapa volt

Dan...

Bintang, aku tak ingin berharap padamu,
walaupun banyak orang berkata-kata sambil berharap,
"Bintang, temukan aku padanya"



Bekasi, 31 Juli 2011

Kamis, Juli 21

About Him, who far from me...

Malam ini, begitu indah ya? Padahal aku sok tau banget! Sok tau kalo malam ini indah, padahal gak ngeliat dari jendela. Sebenarnya malam ini terasa biasa saja. Namun, orang-orang selalu dan kadang berkata bahwa malam adalah waktu terindah untuk melakukan sesuatu kegiatan positif.

Termasuk, sms-an. Hehe...

Aku ingin membicarakan tentang sms temanku. Sebut saja.. namanya Dony (namanya emang... gitu!) . Dia suka produk Google seperti Gmail. Ngefans sama pendiri Google yang nama depannya Larry. Entah, Larry apa gitu..

Dia juga sangat menyukai kata 'Apple'. Dalam bahasa Indonesia, artinya 'Apel'. Namun, Apel disini bukanlah Apel buah. Melainkan Apel, sebuah produk iPad atau kembarannya Samsung Galaxy Tab. Apple iPad, dia mungkin tidak punya gadget ini. Namun dia sangat suka Apple sampai-sampai dia cerita di postingan blog Hai Tengah Malam .

Keren kan?

Dia juga suka komputer. Terutama coding atau ngoding. Mencoba soal latihan olimpiade. Halah! Membuat sebuah programming sederhana, teori terdapat pada materi olimpiade TI. Yah, dia anak TI. Penggila TI yang akhirnya mendapatkan mimpi terakhir yang takkan dia dapatkan selama hidupnya - dan takkan pernah terulang lagi.

Ini menunjukkan, selain nge-fans sama Google bla-bla-bla, Apple, dan komputer, dia juga menyukai...

MENULIS!

Karena dia mempunyai blog, maka dia suka menulis. Seperti aku, dan mungkin teman-teman lainnya yang suka nulis, baik di blog, coret-coretan kertas, laptop, atau media tulis yang dapat digunakan untuk menulis. Tentu saja, dia laki-laki! Hehe... Toh, laki-laki tentu ada yang suka menulis kan? Seperti, Andrea Hirata, Gola Gong, Habiburrahman El-Shirazy, Raditya Dika, banyak kan?

Dulu, dan sekarang, dia kakak kelasku. Dulu, dia di kelas 11 IPA 2, dan aku di X-1. Memang kejadian ini nggak sengaja. Aku sering heran didalam kelas, ketika aku melihat bunga kembang sepatu merah dan kuning yang bermekaran di pagi hari - semua orang belum datang, aku melihat ia sendiri dalam kelas. Huaaaa!!! Kukira.. dia... penampakan... Penampakan!! Penampakan hantu siswa! Aaaakk!!

Dan ternyata dia benar-benar manusia! Hehe... Dan gara-gara penampakan nggak sengaja itu, kami pernah bertemu dalam frekuensi yang nggak rutin banget. Tidak menyapa, tidak kenal, sok. Dia lebih akrab sama Mbak Luluk, itu loh, kakak kelasku di 11 IPA 1. Beneran loh! Mereka, seperti orang pacaran. Hahaha.. Itu sewaktu ada ngumpul rutin jurnalistik dekat kelas X-8 SMAN 1 Sumenep. Dan, ketemu lagi-lagi-lagi hingga pembagian majalah Medika bulan Juni yang lalu.

Dia, memang satu-satunya cowok yang kulihat di ruang jurnalistik. Biasanya sih, ada dua. Haaah megap-megap aku, ngapain anak cowok itu nggak ngajak teman cowoknya yang lain? Kenapa harus ikut sama... Mbak Luluk? Dan aku makin curiga... Apa dia memang benar-benar setia sama mbak itu karena pacaran atau karena sahabatan sejati. Cieeehh! :)

Pikiranku, saat bertemu dengan dia diruang jurnalistik adalah, dia anak yang pemalu, judes, dan cuek. Sedangkan aku, Tanti, dan Elly, hanya sibuk menatapi berapa banyak atau banyak banget majalah Medika yang akan dibagikan seantero kelas disekolah. Aku nggaruk-nggaruk kepala. Susasana diruangan kurang mendukung alias panas. Walaupun hari itu lagi adem-ademnya atau mendung. Aku udah membayangkan, gimana jadinya kalo kami bertiga disuruh membagikan majalah tersebut ke kelas-kelas. Ntah, kocar-kacir. Ataupun malu-malu membagikan majalah *gitu aja pake malu-malu. Ah*

Ternyata bener. Kami bertiga disuruh membagikan majalah oleh mbak ketua Jurnalistik. Oleh karena dia ketua, kami gak berani ngelawan. Pertama, Elly disuruh membagikan ke kelas X-1. Tanti X-2 dan aku ke X-3. Di X-3, aku berusaha memutar otak dan memaksa otak berjalan! *iya, ngerasa otak mandeg*. Karena halaman X-3 dikerumuni anak cowok! Ah, ini namanya malu. --__-- Selain rame dan banyak anak cowok, aku nyaris nggak konsentrasi membawa majalah. Kepada siapa lagi majalah ini harus dibagikan?

Cling! Aku punya inisiatif. Aku berhasil menemukan sosok laki-laki agak kurus dan hitam manis. Dia memakai baju pramuka. Tebakanku, dia anggota OSIS karena menenteng jaket hitam milik OSIS. Mungkin.. dia Ryan! Ya! Aku kasih aja ke Ryan.

"Ryan, ini majalah Medikanya. Tolong dibagiin ya."
"Makasih yaa" kata Ryan dibarengi teman-teman lainnya.
"Ya!" balasku sambil menuju ke kelas X-1. Setelah itu, aku tidak akan kembali lagi ke ruang Jurnalistik. Males...

**

Sebenernya, itulah. Aku baru kali ini yaa, ketemu cowok seperti Dony. Mungkin, di 'alam lain' kami ibaratnya saling berteman seperti halnya di jejaring sosial lainnya. Kami akrab dijejaring sosial, itupun karena jejaring sosial bukanlah jejaring tatapan muka, tapi tatap tulisan! Lebih terlihat, mana orang yang pinter nulis dan bener. Mana orang yang alay, dan mana yang lebay atau berkelit. Walaupun dalam kehidupan nyata, orang kadang malu-malu nyapa bahkan nggak nyapa. Gak kenal malah.

Mungkin, aku nggak akan ketemu Dony lagi. Ataupun gak ketemu Mbak Luluk dan teman-teman di Jurnalistik. Itulah perpisahan. Baru pertama kali kenal, belum akrab, kok udah langsung pisah. Yah, namanya juga kehidupan... Perpisahan yang terkadang membuat hari dan hati teriris. *numpang curhat*

That's not great. Just ordinary things happen. But I can take some... like this posting... :) I can take some moral, maybe...

Selasa, Juli 19

Today is Almost Amazing

Sebuah keajaiban. Aku bisa bertahan hidup di SMAN 1 Bekasi. Sekolah baruku. Aku beruntung banget ya, masih bisa mendapatkan teman sesama anak baru. Hahaha... Ada bermacam-macam kami. Yaa, cewek, cowok. Tapi, kalo cowok aku gak terlalu kenal. Baiklah.

Ini sudah dua hari sekolah. Termasuk pula dua hari berada di SMA favorit itu. Hari ini sih, aku seneng banget. Soalnya aku dapat kenalan waktu pagi-pagi buta, dekatnya loker kelas 11 IPA 7. Huaaa!!! Kalo gak salah, waktu pagi-pagi tadi, anak-anak SMP yang akan bertransformasi ke SMA sedang melaksanakan MOS bersama OSIS. Didepan pintu gerbang masuk kelas (anggaplah pintu gerbang kedua), ada pula anak-anak yang ngumpul bareng dengan baju putih 'agak lain' dengan seragam putih pada umumnya. Ku lihat, ada bet yang mirip seperti bapak-bapak polisi yang ngatur jalanan macet. Kussebut, polisi bagian Lalu Lintas. Ahh.. Mereka..

Ternyata eh ternyata, siswa yang ngumpul bareng pagi buta jam 6 lewat 10 itu adalah PELAJAR SIAGA! Aku tau dari Desi, Lia, Putri, dkk waktu kenalan!! Aaakkk!!! Kukira mereka ngumpul gak jelas, pake baju dengan embel-embel lambang polisi Jawa Barat, atau kukira mereka OSIS, tapi gak pake jaket hitam. Jaket hitam OSIS itu, sama seperti jaket hitam OSIS di SMAN 1 Sumenep. Cuma, ada garis kuning sebagai pembedanya.

Aku melihat mereka waktu itu. Kayaknya pada capek, nungguin anak-anak MOS selesai mendengarkan ceramah dari ibu guru di lapangan utama. Mereka mungkin rindu, dengan anak-anak MOS yang sering membuat mereka marah, ketawa, suka menasihati, dsb. Ah, kurasa mereka nungguin anak MOS sampai dengan wajah lesu. Mereka gak punya kerjaan lagi. Kecuali, aku jalan didepan mereka. Haduh! Wajah mereka sangar-sangar. Tapi, aku santai aja lah, cukup memberi mereka senyum. Toh, mereka gak masang wajah sangar lagi kan,,,

Tiba di 11 IPA 7. Kuintip dari pintu kelas. Hanya ada beberapa orang, eh, tas. Kuputuskan untuk nongkrong diluar aja! Yay! Kebetulan, aku pengen ngeliat absen yang ditempel di kaca jendela kelas. Ada namaku sih. Dan absenku turun 2 angka. Sebelumnya di X-1 24, sekarang 26. Jumlah siswa dikelas 37. Wah, sama kayak jumlah siswa di IPA 1 dan IPA 2 di Sumenep yah? :)

Aku pun mendengar suara langkah sepatu. Cewek. Pake kerudung *ya iyalah! Dia melihat absen yang ditempel di kaca jendela tersebut. Mungkin mencari namanya.

"Anak 11 IPA 7 juga ya?" tanyaku untuk memecah keheningan.
"Iya," jawabnya.
"Oh, kenalan ya! Aku Nadia. Anak baru," kataku. Aku menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Oo.. Aku Lia. Ini namaku," katanya sambil menunjuk nama lengkapnya di absen itu. Tauk deh! Aku lupa Lia absen berapa!!
"Pindahan dari mana?" tanyanya. Ah, itu pertanyaan konvensional...
"Dari Madura," kataku.
Lia kaget. "Wah! Jauh banget! Kok pindah?"
"Aku ikut orang tuaku. Mereka kerja di Bekasi," jelasku.
Lia pun mengangguk paham. Aku lihat sekilas, dia sama seperti siswa yang nongkrong dan nunggu anak-anak MOS. Dia pelajar siaga!

Kemudian aku tanya-tanya tentang ekskul. Ini bagian terpenting dalam sekolah dan hobi. Selain mencari kebosanan eh kegiatan. Tetapi juga mencari pengalaman dan teman. Daripada dirumah... -__- . Lia berkata bahwa ada 33 ekskul disekolah. Termasuk pula Kantin Sastra (KanSas) dan majalah sekolah, PRISMA. Ada pula NIHON CLUB, DEUCH CLUB, dll. Taekwondo. Karate gak ada. Memang banyak sih. Tapi aku bilang ke Lia (dalem hati), kalo aku pengen ikut KanSas dan PRISMA aja. Mendengar penjelasan ekskul dari Lia, aku jadi ingin cepat-cepat mendaftar ekskul.

Beberapa menit kemudian, ada pula temannya Lia, namanya Ayu. Dia sekelas dengan Lia dan aku juga, hehehe... Kalo dilihat-lihat, dia mirip temanku waktu SMP dulu, Putri.

Dan beberapa jam berlalu, aku bertemu dengan temanku sesama anak baru, Desi. Setelah itu ketemu lagi dengan Ester, Nadia, Vinly atau Evelyn. Lalu berkumpul sambil ngerumpi. Yaa.. ngerumpi sekolah. Hahahah.. Terutama Vinly, dia 'aktif' ngomong. Dan waktu tes di SMA, pandangan pertama *halah, dia anak yang pede-dan-pede! Namun, kami harus berpisah karena Vinly, Nadia, dan Ester harus nongol sebentar di Rokris, Rohani Kristen. Sedangkan aku dan Desi mojokan sambil cerita.

Aku dan Desi bercerita tentang segala hal yang mungkin gak perlu diberi tahu disini. Yah, paling cuma cerita tentang sekolah lama. Banya' se lebur caretana.... (Banyak yang seru ceritanya, bahasa Madura). Dia dulu sekolah di Dian Harapan Cikarang. Cikarang loh, masih masuk Kab. Bekasi Jawa Barat :D . Dia masih mending, masih agak anak kota. Aku loh, dari Sumenep... Paling timur Pulau Madura setelah Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Oalah...

Dan, kami kenalan lagi dengan gadis hitam manis bernama Refina (wah, jangan ingat merek garam ya! Nanti kamu ditapok moso jhreya! Aaakk! Maap Refina,,, :'(). Refina sekelas dengan Desi, 11 IPA 6. Wah, IPA itu banyak ya, di sekolah ada 8 IPA dan 1 IPS. Setelah berkenalan dengan Refina, kami kumpul lagi dengan Nadia, Vinly, dan Ester. Kami duduk dibawah pohon yang rindang.

**

Yeah! Tiada hari tanpa kenalan. Hari pertama sekolah, berkenalan dengan anak baru itu. Dibarisan waktu upacara, aku kenalan dengan gadis berkulit putih bernama Ana dan Manda. Manda pindahan dari SMAN 8 Jakarta. Sekarang dia di 11 IPA 8. Sedangkan Ana, yaa anak SMAN 1 Bekasi laahh... Kemudian, aku berkenalan dengan Ajo. Ajo, ajo loh! Ajo itu bahasa Padangnya abang, mas, beli, kakak (cowok). Sinonimnya adalah Uda. Namun uda mungkin untuk panggilan khas suami. Yaya.. Ajo versi kenalanku ini namanya sendiri. Atau mungkin entah nickname nya.

Setelah upacara selesai, aku ke kelas 11 IPA 7. Aku berkenalan dengan Putri, Azkia, dan Dinny. Berlanjut lagi, kenalan dengan Ainun. Ainun! Ainun yang suka membelalakkan mata waktu kelas X-1??? Ahh.. Bukan. Ini Ainun, anak 11 IPA 6 SMAn 1 Bekasi. Kalo Ainun yang suka la'-mencella (maap ya, Nun. Hehe) itu ada di 11 IPA 1 SMAn 1 Sumenep. Hmm... Ternyata disekolah yang baru malah membuka celah baru untuk mengingat momen masa lalu.

Ah, entahlah. Entahlah esok pagi ang akan disambut oleh macetnya beribu kendaraan yang mengeluarkan hasil pembakaran gak sempurna, CO. Dan bisingnya suara kendaraan motor dan angkot yang jadi raja jalanan di pagi hari. Dan juga jadi pelayan para raja anak sekolahan. Entahlah, apa esok pagi aku bisa berkenalan lagi dengan anak-anak lain. Sambut saja dengan bismillah.

Rabu, Juli 13

Cerita Sore

Hari ini makin sore. Matahari menunjukkan kelelahannya menyinari hari ini selama hampir 16 jam. Matahari menunjukkan warna sinar oranye bercampur merah. Dan makin indah ketika awan biru bersahabat warna dengan matahari. Sepoi angin, menggelantungkan burung pipit yang baru belajar terbang, walau angin itu sepoi dan pelan. Menggerakkan dedaunan pohon dan bunga, gorden coklat didepan laptopku... Kadang menggerakkan kertas kuning penghilang bosan dimeja belajarku.

Ku lihat drum oranye khusus penyimpanan air. Ia memantulkan sinar matahari yang sudah semakin sore. Aku melihat plastik pembungkusnya dialiri air yang melimpah bocor, lalu plastik itu terbang terbawa angin. Aku tertegun saat melihat handuk tak bergerak oleh angin. Begitu beratnya kain handuk, daripada plastik pembungkus, ya.

***

Sore ini, mulai dikerubungi awan kumulus. Akan menambah keindahan saat fotografer iseng mengabadikannya. Kadang aku mencuri waktu untuk melihat awan, diantara atap-atap rumah yang menutupi. Aku kecewa... Awan saja tak terlihat! Hanya langit biru. Jika malam nanti aku keluar, mungkin saja bintang tak satupun terlihat...

Dan... sore ini menunjukkan kesejukan angin. Banyak anak-anak penggemar sepeda Fixie berkumpul ditaman komplek. Mereka saling berbagi canda tawa, bercerita, balap sepeda dan mungkin memamerkan onderdil baru sepeda Fixie. Kadang sore ini, aku jalan-jalan mengelilingi komplek sambil belajar sepeda motor. Ku lihat mereka. Ada pula anak-anak kecil yang mengayuh sepeda kebutan.

Dan... biasanya, ku lihat pula tiga orang lelaki yang bermain basket. Aku mengacuhkan mereka, tapi...

Huh! Hampir saja aku oleng dengan motor matikku. Kusuruh adikku menge-rem sepedanya untuk membiarkan bola basket itu berjalan. Tiga orang pemain basket itu hanya tertawa terpingkal-pingkal membiarkan dua anak bodoh dan polos menunggu bola basket. Setelah mereka puas tertawa, aku menggas motor matik sekencang-kencangnya. Agar kuharap, emosi dan pikiranku terbuang melalui knalpot lalu berubah menjadi gas CO. Kuharap pula setiap hari mereka tidak menghirup gas CO.

Selasa, Juli 12

Jempol Kakiku

Kali ini kutemukan luka di jempol jari kakiku. Aku menderita itu sejak sehari yang lalu. Lalu, kutemukan pula nanah yang bermunculan dari daging kuku. Aku, kasihan melihat jempol kaki itu.

Memang, kuberi betadine yang mengandung bla-bla-bla bahan kimia aktif untuk menyembuhkan luka. Tapi, luka itu tak kunjung sembuh.

Opaku mencoba pengobatan tradisional. Beliau menggunakan kerosin yang merupakan anggota senyawa hidrokarbon yang mengandung alkana, alkena, alkuna, naftalena, dan senyawa aromatik lainnya. Kerosin, sih.. nama lainnya minyak tanah. Haha, kadang aku tertawa mengapa opa memberikan penyembuhan melalui minyak tanah ini. Rasanya tidak sakit, itu merupakan penyembuh yang menghilangkan ingatan rasa sakitku saat aku bermain gitar. Bermain gitar untuk melupakan segala luka. Emosiku sedikit terbuang dari suara cempreng dan menekan grip di senar kawat gitar agak karatan.

Hanya jemari kiri yang menjadi korban kepedihan senar kawat. Hatiku tidak, tapi.

Namun, ketika malam kini, kerosin itu tidaklah berguna lagi... Ia memang membekukan darah dan nanah yang akan mengalir nanti. Kotoran agak menghilang dari sana. Dan sekarang, luka itu muncul sebagai luka kedua yang perih, amat perih... Hingga tisu dari pohon kertas meninggalkan jejak darah dan nanah...

Ah.. Aku sih nggak peduli amat.

Walaupun rasa sakit jempol kakiku ini terasa berdenyut, namun hatiku.. Entah berbunga-bunga. Aku merasakan sakit dan bahagia sekaligus.

Aku tidak tahu, bagaimana lagi menendang dengan teknik ushiro geri kaki kiri untuk menendang lawan hatiku dari belakang. Tendangan memutar itu akan membuatnya melayang dan terjerembab ke tanah.

Saking senangnya... Aku sampai hati tak ingin menendang lawan hatiku bila aku akan bertemu dengannya. Karena ia yang membuat hatiku berbunga-bunga. Disaat aku terluka bersama dengan jempol kaki yang penuh kotoran dan bernanah. Ialah penyembuh disaat aku berada dalam transisi. Tetapi aku 'memang' bukan logam transisi, begitu kata di tabel periodik kimia.

Minggu, Juli 10

Sang Pengganggu Malam

Malam ini, aku benar-benar tak bisa tidur. Aku tau, sekarang pukul setengah 12 malam. Dimana, banyak orang mengira ini adalah jam tidur yang tidak baik untuk remaja seusiaku, dan mungkin kalian yang masih asyik nongkrong sambil menatap layar digital ini. Kau tahu, akhir-akhir ini, muncul setengah lingkaran hitam dibawah mataku. Sebagai pertanda, aku kurang tidur.


Daann.. malam ini... Malam begitu sunyi.. Oma dan opa sudah tertidur lelap dan menjelajahi mimpi mereka. Sedangkan adikku, sudah tertidur pulas 3 jam yang lalu. Mungkin, ia sangat letih menghadapi hari yang penuh tantangan dan kebosanan akan liburan. Dan mungkin juga, ia akan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes di sebuah sekolah. Oleh karena itu, adikku tidur untuk bermimpi, mimpi bagaimana ia harus menghadapi tes dan teman baru di sekolah barunya. Meskipun mereka bertiga tertidur lelap, ada satu hal yang mereka lupakan selama beberapa jam hingga pagi menjelang. Yakni, nyamuk. Hanya seekor nyamuk yang mengelilingi tubuh 'wangi' manusia tertidur lelap. Mendengung ke telinga, katanya manusia ketika bangun.


Nyamuk itulah yang membuatku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Pembunuh nyamuk ramah lingkungan, tanpa DDT. Tanpa bahan kimia yang terkandung di Baygon, ini-itu-segala macam pestisida pembunuh nyamuk. Menjelang tidur, pelototan mataku memantul-mantul sinar kebencian penuh terhadap makhluk pecinta daerah tropis. Memiliki jarum, punya pompa, mungkin untuk menukar darah yang baru dihisapnya dengan darah orang lain yang sudah dihisap berjam-jam yang lalu.


Pembunuh nyamuk itu, adalah raket yang mirip raket tenis. Namun, senar raket itu berubah menjadi sekumpulan kawat besi campur aluminium rumit yang mengandung aliran listrik bertegangan agak tinggi bagi nyamuk. Kontan saja, bagi pemakai raket itu memukul nyamuk beterbangan tanpa teknik memukul bola tenis, atau mungkin bulutangkis. Ketika nyamuk mulai mendekat, aku saja tidak mendapatkan nyamuk yang lincah terbangnya! Melainkan, Opa mendapatkannya dengan mudah, dan raket bersuara mercon karena adanya gesekan antara nyamuk dan raket... Sehingga muncullah sedikit kilat listrik yang membuat nyamuk terkapar pingsan, atau mati ditempat.


Ah.. nyamuk itu mengejar darahku... Malam ini terlalu cepat. Nyamuk itu akan membuatku mati sesaat karena insomniaku. Nyamuk itu akan menghisap darahku dengan darah yang tak jelas. Ah... kematian pada malam ini dekat. Walaupun hanya seekor nyamuk. Begitulah kata seseorang didunia ini yang masih nongkrong membuka laptopnya. Bukan aku! Mungkin kamu, kamu, atau mereka...

Sabtu, Juli 9

Otakku

Kini malam semakin larut
aku berlarut-larut terhadap kepedihan
memakan waktu yang hanya satu jam
aku membuang waktu,
menunggu jam 12 malam tepat


Aku tak bisa memejam mata
kata hati telah di rajam pedang


Lingkar hitam mata hanya menumpang dimataku
bila lama, menempel,
otakku akan bagaikan mesin soak,
lama kelamaan akan panas,
rusak,
pedih karena kekuatannya sendiri,
dan, terkadang,
otak memang bagaikan mesin komputer yang standby
kemudian mati sesaat,
untuk mencapai peristirahatan terakhir

Lonely Night

Tonight, is so spooky.
No wind, no cloud.
Just the darkness...
Although, peoples out there just go out from their home and walk away between dark of night and light of town lamps....
They have big laugh, big laugh between sadness of the life
Then they have fun together,
forgetting someone their love...

The mistakes of them,
We have too
The bored of them,
We have too,
Sometimes, we can't sleep because of it

But,
Why peoples so happy among the complex problems?
When the world in future year become older, then the oldest

And why,
Something problem, they won't talk about it?
No one cares...

So, this feel about lonely in the crowded?
For teens?
For you, too?

Selasa, Juli 5

Copas dari Mbak Fanny "Jangan... Jangan.."

Siang ini, aku lagi semangatnya buka blog orang. Nah... pada saat aku membuka blog mbak Fanny, http://just-fatamorgana.blogspot.com/ , aku menemukan sebuah artikel ehh postingan menarik judulnya.... "JANGAN...JANGAN..." Wah... postingan apa ini, pikirku.

Setelah dilihat dan dibaca, ternyata menarik juga yaahh... Banyak banget kalimat umum yang sering kita dengar. Misalnyaa.... Menuntut ilmu... Kamu pasti mikir apanya yang salah dengan kata ini? Yuukk... Lihat aja copas disini:

Sumber: http://just-fatamorgana.blogspot.com/2011/07/janganjangan.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+SangCerpenisBercerita+(SANG+CERPENIS+BERCERITA)

JANGAN...JANGAN...

Janganlah engkau MENUNTUT ILMU, karena pada dasarnya ILMU itu tidak bersalah.

• Janganlah pula engkau MENIMBA ILMU, karena di dalam sumur tidak ada ILMU.

• Janganlah engkau MEMBALAS BUDI, karena belum tentu BUDI yg melakukannya.‎

• Janganlah engkau MENYUMBANGKAN LAGU, karena lagu yang SUMBANG tidak enak untuk didengar

• Janganlah engkau MENGURUSI TEMAN, karena belum tentu temanmu ingin berbadan KURUS

• Janganlah engkau MEMBANGUNKAN RUMAH untuk keluargamu, karena rumah memang tidak pernah TIDUR

• Janganlah engkau MEMBERI TAHU orang yang bertanya, karena orang itu mungkin tidak suka makan TAHU

• Janganlah engkau MENGARUNGI LAUTAN, karena KARUNG memang lebih cocok untuk beras.

Sumber : BB seorang teman