Senin, Juli 15

Mulesnya perut...

Kenapa kalo lebaran itu mesti pake mules-mulesan kayak kemaren? Hmmm... mungkin, waktu perjalanan liburan ke Bromo de el el itu nggak tidur kali ya? Sibuuuukkk aja mikirin atau ngayal ga jelas. Apalagi, berangkat malam dari Sumenep Madura ke Surabaya itu memakan waktu hampir 3 jam. Udah gitu, aku duduk sendirian, paling belakang lagi! Penuh deh ama barang bawaan. Kebetulan juga sih, naik mobil Innova. Pantesan mules!

Udahlah, nggak usah dipikirin, itu terjadi hari Sabtu setelah maghrib, ketika aku dan keluargaku pergi liburan dan basecamp sementara di Surabaya, sendik BRI Surabaya. Disitulah basecamp kami. Hmm.. hari Minggu nya itu ke Bromo (siiihhhh, naik ke kawahnya dong!!).

Ceritanya gini, kenapa aku bisa mules perut di mobil. Sabtu itu kan lebaran kedua, lebaran pertama hari Jum'at kan? Pada hari Sabtu, aku dan keluargaku gantian berkunjung kerumah orang. Tapi, waktu itu kami hanya berkunjung ke rumah guru adikku, Pak Ismail. Beliau guru SD Pajagalan 2 Sumenep. Kebetulan juga, adikku lebih hapal rumah Pak Ismail lantaran les disana juga (guru favorit juga loh, hehe).

Berlama-lama disana, cerita apaaaa aja, sampe kenyang perutku. Bukan makan angin, tapi ditawarin makan kue toples buatan istri Pak Ismail. Ueeenaaak ee! Asli, dan lembut pastinya. *Duh, kok nggak nyambung ya?

Setelah beberapa lama bersilaturahmi dengan Pak Ismail, kami pulang ke rumah dengan hati yang lega. Kalo aku nggak, lemes dan aku mulai pening-pening kepala dimobil. Karena, sambil diperjalanan, kami membahas rencana jalan-jalan ke Bromo. APalagi, aku malah makin ngayal sesudah baca novel 5cm. Cerita tentang 6 orang anak manusia (emang manusia kan?) yang susah payah naik gunung Semeru untuk mencapai puncak tertinggi di Jawa Timur yakni Mahameru. Hmm.. nggak kebayang deh sama aku setelah membahas rencana ke Bromo. Sampe rumah, makan lalu beresin baju yang mau dibawa.

Awalnya aku stres karena bingung apa yang mau dilakukan. Ya beresin baju! Pake stres pula lagi. Ga cuma itu, perutku yang mules ini hanya gara-gara nggak tidur siang. Udahlah bingung ngeberesin baju apa yang mau dibawa, eh malah ditambah kurang tidur. Seharusnya jam 2 siang aku tidur lelap, lantaran capek rasanya gimana suntuknya nunggu lama dirumah Pak Ismail. Lalu, setelah ngeberesin baju selesai, aku siap-siap mandi. Waktu itu menunjukkan jam setengah 5. Nggak ada waktu untuk tidur-tiduran.


Ya Allah, udahlah mules, kurang tidur, selsai mandinya hampir mendekati waktu maghrib. Untungnya masih jam 5, tapi kayaknya aku udah terlalu lama. Pasti aku pilek selesai mandi. Ternyata iya benar. Aku pilek selesai mandi sampai aku mengambil wudhu sholat Maghrib. Setelah itu, aku nggak pilek lagi. Perut yang tadinya mules, udah terobati karena makan malam.

Jadilah kami semua pergi ke Surabaya jam setengah 7 malam. Waktu yang pas karena sampai di Sendik BRI Surabaya Guest House, kami tinggal tidur aja. Pertama-tama, mobil Innova nongkrong sebentar dirumah untuk ngangkut barang yang dibawa. Kemudian, pindah lagi ke BRI cab. Sumenep untuk titip kunci rumah dan titip mobil ibu. Tentu aja menunggu, aku memanfaatkan waktu yang sebentar itu menulis diary dan membaca cerpen majalah Story.

Perjalanan menuju Surabaya pun dimulai. Dari BRI ca. Sumenep, belok kanan menuju keluar kota. Lampu-lampu malam terang benderang, menambah rasa penasaranku terhadap Bromo "itu kayak gimana seh?". Ditambah lagi dengan berkilaunya satu bintang yang terlihat jelas dari jendela kaca mobil. Indah.. Diakah yang kupikirkan? Eh... dia-dia-dia? Dia Bromo kali... Kegiatan menulis diary segera kuhentikan saat mobil mulai melaju kencang dari pintu gerbang keluar kota. Aku takut pusing.

Unrung aja, bawa bantal! Dengan bantal, aku bisa tidur sejenak dengan puas. Eh, ternyata enggak cuy. Perutku mulai kambuh lagi. Dan ini tambah parah! Perjalanan masih di Kab. Sumenep, jalannya mulus memang, tapi perutku malah mengocok-ngocok semua isi didalamnya. Lalu, terasa kram karena mungkin posisi tidurku salah. Aduhh.. air liur kayaknya udah ngegantung ditenggorokan, pengen muntah tapi ga bisa! Aku paksakan memejamkan mata alias tidur. Bisa sih.. tapi sambil sms-an sama teman juga. *Sama aja neng...

Perut masih terasa mules. Nggak juga sih, mual. Jadi bukan mules ya.

Kira-kira, yang kurasakan itu mobil mulai berguncang kuat. Aduuhh, apalagi ini, kayaknya selama tinggal di Madura jalan oke-oke aja tuh. Tapi ini kok... Perutku tambah kram dan mual lagi! Rasanya ingin muntah tapi nggak bisa! Bener-bener nggak bisa!!!! Aku cepet-cepet bangun dan duduk selonjor. Capek aku kalo perutku gini terus. Mau digimanain lagi ini...

Aku masih duduk selonjor seolah lemas tidur terus. Stres kali ya? Mungkin... Setelah minum air Aqua, aku ngelanjutin tidur. Sebelumnya sih, minta minyak kayu putih biar ga sakit perut lagi. Emang melelahkan perjalanan malam ini buat (perut)ku.

Nggak terasa, aku dan keluarga udah nyampe dijembatan Suramadu yang indah! Indahnya itu loh, lampu warna-warninya *
urang udiak bikin penasaran. Sampai di jembatan Suramadu, aku nggak melanjutkan tidur lagi. Nggak perlu, perutku dan aku udah terlalu tersiksa sama jalannya. Nggak mulus. Dan paginya, siap-siap ngebayangin eh pergi ke Probolinggo untuk ke Bromo. Akses ke Bromo bisa dari Probolinggo. Banyak jalan yang mampu menembus Bromo lah!

Intinya, bagi para pemudik atau mbak/mas yang hobi jalan-jalan, jangan sungkan-sungkan muntah dijalanan! Karena itu perlu, mengeluarkan angin dan stres yang ada diperut dan dikepala. Tahan rasa gengsi muntahmu, kalo nggak kayak aku, sampe kram perutnya.

Kayaknya perjalanan ke Bromo tahun ini bakal menyenangkan banget. Terinspirasi oleh novel 5cm. Dan terganggu oleh mulesnya perut, hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.