Selasa, Juni 15

Zaman dan Media di Negeri Kita

Inilah zaman... Selalu saja ada bencana-bencana moral dan alam yang selalu dilimpahkan ke kita, para manusia yang stay in the earth. Saat banyak media-media yang membicarakan asusila, kita tetap saja membiarkan kuping kita mendengarnya, membiarkan mata kita melihatnya, membiarkan kaki kita ke tempatnya. Mungkin, tidak semua media mengajarkan begitu. Hanya beberapa media saja, yang hanya untuk mengeruk keuntungan semu. Satu untung, satu rugi.. Hufhh...

Tahu kan? Soal bencana moral, yang makin lama menggurita saja. Korbannya, tentu saja kita yang mengonsumsi media. Baik itu remaja, anak-anak, ataupun orang dewasa. Namun, yang paling berpengaruh terhadap media tersebut adalah remaja. Yang mungkin, bisa aja jadi korban media.

Kalo sekarang sih, yang video mesum yang sudah tersebar dimana-mana. Itulah topik pembicaraan media sekarang. Ada juga sih, yang memberitakan berita lebih penting selain berita video tersebut. Banyak orang mengira, berita video mesum yang sudah tersebar dimana-mana ini, hanyalah untuk mengaburkan pandangan kita ke pandangan lain. Misalnya, kasus penembakan wartawan sebuah TV swasta yang masih belum selesai diusut secara tegas. Eh, malah dihadapin lagi sama berita video yang membuat moral kita gugur. Sedih banget deh.

Untungnya, masih ada yang cuek tentang berita tersebut. Masih banyak anak-anak bangsa menorehkan tinta prestasinya, tanpa halangan apapun, ia bebas berprestasi. Tentunya, berprestasi yang baik dan dikenang orang. Karena, yang dibutuhkan negeri ini, hanyalah generasi muda yang dapat menggantikan dan merombak aturan di negeri ini. Bukan cuma generasi muda yang manja gitu... Sayanglah, kalo negara kita yang beragam sukunya, digantikan oleh generasi yang malah berfilosofi saya untung, kamu biarin aja?

Dan untungnya lagi, masih banyak generasi negara kita, yang berani melawan semua kesemuan dunia. Yap, kalo menurutku, para wartawan TV dan majalah yang ke Palestina itu. Mereka adalah orang-orang yang berani menanggung tanggung jawabnya, walaupun itu terpaksa. Karena, mereka orang media, orang yang paling sering mengeluarkan berita up to date tiap hari. Nggak cuma itu, mereka cukup berani hanya untuk menjadi relawan misi perdamaian. Itu hal nyata, namun gagal saat tentara Israel menghancurkan misi perdamaian. Padahal, kalo dipikir-pikir, para relawan kemanusiaan yang berdiam di kapal Mavi Marmara tersebut, tidak bawa senjata apa-apa. Yang ada di kapal Mavi Marmara hanyalah bantuan dari seluruh dunia.

Mereka juga mencari berita dan fakta, agar mata kita yang masih diselimuti kabut tebal segala bencana moral dan alam, terbuka. Bisa aja kan? Dengan mata dan hati yang terbuka, kita bisa leluasa menolong orang, walaupun kita dalam keadaan susah. Para wartawan dan jurnalis itu juga mendapatkan keuntungan spiritual setelah kejadian tersebut.

Namun, apa yang terjadi? Inilah zaman. Belum tentu semua orang peduli terhadap hal-hal tersebut. Boleh dibilang, sibuk lah... (sibuk apa sibuk?). Di zaman yang serba individualis, hanya sedikit orang yang peduli hal itu. Dan juga, cuma sedikit orang-orang yang memikirkan generasi bangsa. Media juga kadang hanya memikirkan menghibur orang yang stres dan susah, tanpa menyisipkan "sedikit aja" unsur pendidikan dan moral. Zaman dan media, berkaitan. Kalo zaman sekarang, yang penuh dengan pemikiran individualis dkk, maka media mendukung juga.


Yah, inilah zaman. Media juga ikut berpengaruh.

Artikel ini cuma buat ikutan lomba blog competition Ma Chung. pengen ikutan sih, cuma daftarnya susah! Hihihi...

needed your comment

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.