Cari

Sunday, June 13

Unforgettable think

Yeahh, pikiran usang ini memang agak susah dilupakan. Sampai sekarang, masih lengket di otak. Lucu kali dan konyol. Serta rasis sedikitlah.

Kejadian itu kira-kira sudah 8 tahun yang lalu, saat aku masih kecil. Waktu itu, keluargaku jalan-jalan pulang kampung ke Pariaman, lalu singgah sebentar ke Bukittinggi. Wah, waktu di Bukittinggi, pemandangannya kalah dengan Bukittinggi sekarang, panas (nggak juga sih). Semua keluarga ayahku, ngumpul di Bukittinggi semua, tepatnya disebuah hotel yang homy.

Nah, keluargaku yang terdiri atas ayah, ibu, dan adik jalan-jalan sekalian silaturahmi ke rumah saudara dekat di sekitar kota Bukittinggi. Waktu itu, cuaca bagus, mendung iya tapi hujan tidak turun-turun. Kebetulan, saat itu sedang makan siang.

Aku dan adikku yang nggak tahu apa-apa soal Yahudi Israel, Produk Yahudi, ataupun Merek-merek yang membiayai senjata Zionis (yahudi tepatnya) itu langsung sikat abis!! Maksudku, kami makan di sebuah restoran fast food di Bukittinggi. Boleh lah, dibilang KFC, mungkin juga McDonald. Saat itu, aku dan adikku kelaparan banget (ayah dan ibu juga).

Saat kami sudah berada diruangan restoran tersebut, Ibu memesan menu ayam dan nasi serta kentang goreng khas restoran itu. Aku, ayah, dan adikku duduk disebelah nomor tiga depan kiri. Nggak dipojok, ditengah-tengah. Nah! Itu dia yang kutunggu-tunggu!

Aku paling suka ngeliat bule, cowok atau cewek, karena mereka punya rambut aneh dan warna-warni. Kulitnya putih kayak tembok (duuuhh... I'm sorrty Mr, Miss.... that was very funny coz I was still childhood). Lalu, hidung mereka suka merah dan mancung. Apa suka bohong ya makanya mancung, begitu pikiranku. Hahah, ya sudah, lupain. Kebetulan, bulenya cowok, tinggi besar, badannya atletis (begitulah) dan.... Masya allah

"Dia cangok sekaleee!!!! Cangok is rakus!!!
Masa satu kotak ayam goreng nan gadang itu bisa habis dalam waktu
yang (bisa dibilang) cepat?? Duuhh..."


Duhh... aku ngeliatnya ampe bengong! Ni manusia atau manusia? AKu nggak
henti-hentinya mengucapkan kata "bule" sampe ngos-ngosan karena tertawa
dengan ayah dan adikku. Ngapa? Kami cuma ngeliatin bule yang kelaperan itu,
dan ngucapin "bule" sampe beberapa kali, lalu, muncullah kata "bulek" yang artinya
bulat. (bahasa Padang). Wah apa maksudnya?


Karena hanya kami saja yang tertawa, orang-orang yang ada di restoran itu pasti keheranan. Nggak cuma pengunjung yang ngantri, bule itupun didengarnya perkataan kami. Waduh!

Dia datang dengan sok-nya. Petantang-petenteng bawa tas ransel, lalu bilang ke aku
"Hei kamu! Kamu jangan mengejek saya ya!," katanya dengan berbahasa Indonesia yang masih kental bulenya.
"Walaupun saya bule, tapi saya sehat! Daripada ayahmu yang gendut tidak bisa apa-apa!," katanya dengan nada agak marah. Dan mengejek ayahku pastinya. Rasis banget ni orang, mentang-mentang bule badan atletis, ngejek bokap awak lagi! Hhh...

Aku sih awalnya bengong aja. Dan tawa konyol tadi berhenti gara-gara bule tadi datang. Ayam goreng yang masih dipesan ibu, masih aja belum selesai-selesai. Dan hujan pun turun. Ayahku jadi minder gara-gara dibilang gendut. Oh ya? Mentang-mentang gendut, ayahku jago karate loohh!! Sok atuh, sok amat jadi manusia! Seluruh manusia yang ada di restoran fast food itu, terdiam seribu bahasa, melihat anak kecil sepertiku dan adikku ditegur habis-habisan oleh bule yang udah dewasa. Kesannya mendidik, tapi, kalo aku buat lucu-lucuan seru juga.

Akhirnya, bule itu pergi. Orang-orang menatapku cuek, ngurusin makanan lezat mereka. Ayam goreng yang dipesan ibu pun datang, aku juga jadi nggak selera makan. Pernyataan bule tadi, yang gendut ituu!!! Itu sangat rasis! Karena, didunia ini badannya nggak cuma kayak dia! Malah ada yang gemuk abis! Tapi berprestasi kok! Ibu yang datang ke meja yang kami duduki itu, senyam-senyum ngeliat aku menderita. Memang, suaraku paling besar saat mengucapkan kata "bule". Hmmm, contoh yang baik sekali.

Itulah, yang nggak aku lupakan. Mungkin itu rasis bagi ayah dan orang gendut sedunia. Karena, mereka kadang nggak mau dibilang gendut, atau malah dibilang overweight. Bagi orang gendut juga sepertiku dulu, cukup membuatku sakit hati! (halah...). Itulah masa sakit hati pertamaku. Ditegur bule.

Sebenernya, niatku bukan mengejek bule. Hanya pengen kenalan sama bule dan pengen nanya kok makannya cangok sekali. Itu aja, lantaran nggak bisa cas-cis-cus bahasa Inggris. Itupun yang bisa ngomong bahasa Inggris cuma ayah. Selebihnya, tunggu generasi ayah yang lain. Hehehe.... Akibatnya, sudah berimbas ke aku, gara-gara lucu-lucuan yang mungkin dianggap orang kurang kerjaan.

Hmm... anak kecil-anak kecil....

2 comments:

  1. wah, lucu juga ya pengalamannya
    (pemilik blog ngomentar dengan sudut pandang netral)

    ReplyDelete

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.