Cari

Wednesday, June 30

Agar Ilmu lebih berguna (Let's post together)

Kemarin sore, aku latihan karate di GOR Panglengur Sumenep. Aku berangkat dari rumah jam setengah 4, padahal latihannya jam setengah 4 juga. Ah, sampai di dojo (tempat latihan), untung nggak telat. Sukurlah..

Pas sampe sana, aku langsung ganti baju, menggunakan dogi (baju karate) putih dan juga sabuk biru yang lumayan panjang. Tapi, kalo dipake, jadi pendek. Ribet masangnya.

O ya, langsung aja lah.. Sempai Cung berkata, agar kita tidak terlalu sok dengan gelar atau jabatan kita. Agar, ilmu karate yang didapat nggak asal doang. Percuma dong, sabuk setinggi langit (maksudnya sabuk hitam DAN 8, contoh ya) nggak bisa mengaplikasikan ilmu karatenya pada saat darurat. Misalnya, ada pencuri bawa pistol, tapi si master karate itu melongo, nggak bisa apa-apa. Karena, walaupun dia jago karate dan sabuknya setinggi langit, dia nggak bisa mikir (bahkan mikir) apa yang harus dia lakukan saat pencuri berpistol datang. Dia hanya berteriak mintol!! mintol! Minta tolong maksudnya.

Itu kata Sempai Cung, bukan kataku!

Intinya, jangan bangga sama jabatan atau titel kita.. Apapun pekerjaannya! Apapun hobinya. Karena, kalo kita terlalu bangga, mungkin ilmu yang ada di otakmu hilang seketika. Nggak percaya? Silahkan coba kamu nyombongin diri ke orang lain. Lihat hasilnya, nilai sekolah atau kepercayaan orang kepadamu akan anjlok.

Nah, kalo yang buat karate, sabuk putih (ihh.. tu newbie banget!) sampe sabuk coklat itu belum ada apa-apanya bila dibandingkan sabuk hitam. Itu kata Sempai Cung lagi, hehe.. Karena, pengertian kita pada karate masih dikit daripada sabuk hitam. Kalo sabuk hitam, itu namanya asli karate, karena kita udah mempelajari dari jurus-jurus yang awal atau mudah, sampe ke jurus-jurus atau teknik yang expert, yang mungkin ada campuran teknik olahraga beladiri lain. Udah gitu, sabuk hitam juga menjadi teladan bagi yang berlainan sabuk. Kalo tingkahnya jelek mah, mungkin dia juga kurang pengertian.

Ada lagi! Kalo mau berantem, jangan sok-sokan yak! Itu kata Sempaiku lagi.

Ada cerita.. Tentang aku dan dia.. (hehe, lagu Peterpan). Gini. Saat Sempai Cung masih muda (sabuk coklat), dia sedang berjualan di depan sebuah SMA. Pada saat itu, Sempai melihat anak-anak muda yang berkelahi, dua orang ya. Saat Sempai datang menuju lokasi mereka berkelahi, Sempai melerai mereka dengan melebarkan dua tangan. Tangan mereka melayangkan tinju diatas kepala si Sempai. Nah, Sempai ini kesel, ya udah dibiarin orang yang berkelahi itu melanjutkan berkelahinya.

"Ayo lanjutkan!," ketus Sempai.

Mereka berdua yang berkelahi itu cuma diam doang. Kayaknya ini mikir nih..

"Kalian nggak takut sakit, eeaa??," tanya si Sempai.

Mereka dua juga tetap diam. Napa nih anak?

So, kalo mau berkelahi, mikir sakitnya ya! Kalo yang mau ngelerai orang berkelahi, jangan ikutan berkelahi.. Ntar mati tu, eh babak belur tuh orang...

*Ide dadakan, pasti kembali

namun, kalo ide gokil, datang setahun sekali!!!

Ada sangkut-pautnya pada moral.. Kamu bisa nangkap hikmahnya disini....

5 comments:

  1. kesombongan membuat orang mudah menggunakan kekerasan untuk nyelesain masalah. budaya kekerasan yah...

    ps: terima kasih partisipasinya, judul dan url postingan ini telah saya backlink di blogku 2 juli
    urutan 32 yaaaa

    ReplyDelete
  2. Semakin berisi semakin merunduk, ilmu padi!

    ReplyDelete
  3. yupz.... setuju ma postingan ini... ^^

    ReplyDelete
  4. Aduh...daripada sakit karena berantem, mending damai aja, itung-itung menghemat energi untuk hal yang lebih bermanfaat.

    ReplyDelete

Go comment! Langsung ketik idemu di komen ini!! ^^

Kalo mau komen, terutama anonymus, kasih namanya ya.. Atau yang punya akun Google, silakan diaktifkan.