Cari

Thursday, September 21

Kreatif dengan Adobe AE dan Adobe Animate

Rujukan: Youtube

Pertama kali kenal Adobe After Effects, atau AE itu ketika saya mendadak membuat animasi video teaser acara jurusan. Kebetulan bagian pekerjaan ini termasuk di divisi dokumentasi. Awalnya saya menolak menjadi salah satu team leader di divisi ini, karena saya ingin keluar dari aktivitas organisasi dalam kampus. Tapi karena dipaksa berjemaah nih, hmm yaudah deh saya terima.

Selang setahun kemudian, saya memiliki partner dekat, Cordova yang ternyata jago banget ngedesain, videografi, animasi, dan fotografi. Wih gila, sepaket banget. Menghasilkan pundi-pundi rupiah banget itu ya ampun. Saya cerita kepadanya, saya sempat tertekan karena nyesel nggak matang belajar desain. Setengah-setengah gitu, karena dipaksa tuntutan organisasi. Kemudian, saya bilang juga kalau video teaser acara jurusan ini berbentuk animasi, which is butuh keahlian menggambar banget. Cordova ini responnya luar biasa, guys. Ternyata dia menyanggupi dan secara sukarela mengajari saya membuat animasi via AE. Gils!

Langkah-langkah menuju animator amatir pun dimulai. Pertama, saya download AE dulu dong. Masih gratisan sih. Alhamdulillah banget waktu itu dapet crack dan serial number. Setelah di-install, gak bisa dibuka. Hellow nunggu seharian :’)

Oke, coba lagi. Saya coba download dari situs Adobe, yang jadul banget versi-versi aplikasinya. Oke, bisa. Akhirnya saya mulai coba-coba membuat shape, membuat titik awal dan titik akhir (supaya shape-nya bisa gerak), dan melakukan hal gokil lainnya: render atau convert ke bentuk file yang diinginkan.

Hari kedua belajar, tetap coba lagi. Terus sampai bisa hapal dan paham apa bedanya T0 - T1 (titik untuk menentukan arah gerak), titik vertikal dan horizontal, bounce (objek yang memantul), menyisipkan (insert) picture dan audio. Semua itu butuh 2 minggu lebih untuk menguasai hal-hal dasar, lalu belajar ke yang lebih expert, yaitu menggabungkan semua objek sekaligus dalam satu garis waktu (timeline). Jadi lebih ruwet karena akan banyak gambar, suara, dan tiitk-titik dalam satu timeline.

Begitu sampai deadline, saya sempat jadi ansos (anti sosial) selama seminggu. Masuk kuliah sih, tapi cuma masuk mata kuliah wajib aja. Di kelas pun, tetep mengerjakan animasi. Bayangin stresnya kayak apa, nggak bisa cerita ke siapa-siapa karena MAKE ANIMATION NEEDS A HIGH SKILL. Orang biasa kayak temen-temen di kelas ga bakal ngerti, kecuali ada yang pernah terjun menjadi desainer atau videografer. Akhirnya, video animasi pun selesai dengan sempurna.

Tidak ada yang sempurna di dunia kreatif. Pasti ada kritik (bahkan nggak solutif sekalipun) dan apresiasi. Cukup seru juga menjadi pengamat saat itu. Saya jadi mengerti kalau dunia visual kreatif betul-betul berjuang dari jalan yang terjal #eaa.

***

Kalau berbicara Adobe After Effects, sangat erat kaitannya dengan Adobe Animate. Ya, karena sama-sama nama depan “Adobe”. Bercanda.

Adobe Animate awalnya adalah Adobe Flash. Aplikasi ini merupakan aplikasi yang berkembang dan sangat membantu animator. Keunggulan Adobe Animate, atau Animate adalah fitur free draw seperti Adobe Illustrator, sehingga karakter yang diciptakan di Animate adalah orisinal. Dibanding dengan After Effects, pergerakan atau motion antar objek lebih alami dan fluid. Tetapi, kedua aplikasi pembuat animasi ini tetap bisa dikombinasikan, tergantung kebutuhan.

Membuat animasi dengan Animate akan menambah jam terbang dan pengalaman menggambar readers. Lumayan kan belajar membuat kartun cihuy dan animasi wow abis. Penasaran kan gimana cara membuatnya? Sabar, usaha takkan mengkhianati hasil. Tips-tips membuat animasi sederhana bisa dimulai di tutorial video ini.


Selamat mencoba ^^. 

Sunday, September 17

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Pertama kali kenal ZAP itu ketika adik saya ikut treatment underarm laser setahun lalu. Dia ikut ini pun karena awalnya browsing di Google. Pas ketemu, dia mencoba-coba karena klinik ini terlihat meyakinkan dan bukan proses instan.

Ketika sudah mencoba 2-3 kali treatment, dia cerita ke ibu dan saya kalau treatment di klinik ZAP betul-betul bekerja. Jadi, prosesnya dimulai dari memberikan sinar laser yang ditembak ke daerah underarm. Rasanya cekit-cekit gitu sih, karena sinar laser ini “mencabut dan memotong” sampai ke akar rambut. Setelah dilaser, dibiarkan sampai 1-1,5 bulan untuk melihat perkembangan rambut yang tumbuh. Pertumbuhan rambut tergantung dengan seberapa kuat hormon dalam tubuh masing-masing. Ketika sudah mencapai 1-1,5 bulan, adik saya kembali treatment sampai 8 kali. Kebetulan, dokter kulit di klinik itu memberitahu kalau adik saya hormonnya kuat. Sering keringat, pertumbuhan rambut juga lumayan cepat. Jadi, jumlah treatment mungkin lebih dari 8 kali. Lokasi pertama treatment adalah di klinik ZAP Rawamangun di Jalan Alu-alu.

Akhirnya, kami sering pergi bareng untuk treatment ke klinik ZAP Rawamangun. Tempatnya bersih, tenang, dan privat. Jadi kalau deg-degan mau treatment, rasa gugup bisa sedikit berkurang. Ditambah lagi, AC lumayan dingin. Sebelum treatment, kami berdua mengusahakan supaya nggak terlalu berkeringat. Karena bakal agak perih walaupun sudah diberi gel dingin untuk mengurangi rasa panas sinar laser. Setelah treatment pun sama seperti sebelumnya, tidak boleh terlalu berkeringat. Juga, tidak boleh memakai deodoran, mandi air panas, berolahraga, berenang, sampai 3 hari pasca treatment, untuk mengurangi perih dari gesekan kulit. Pokoknya, kulit harus dalam kondisi kering deh. Setelah lewat dari 3 hari, boleh melakukan aktivitas seperti biasa.

Selang setahun, kami berdua menjadi pelanggan tetap di klinik ZAP Rawamangun. Terapis dan resepsionis di sana udah cukup tau dengan kami berdua. Karena sudah dimasukkan ke dalam database klinik. Untuk kuitansi pembayaran, informasi penting, sampai promosi bisa dikirim via e-mail loh. Praktis banget dan nggak terlalu spam. Biaya treatment pun cukup terjangkau Rp. 250.000,00, tapi khusus treatment underarm aja.

Dari rumah ke klinik ZAP Rawamangun juga dekat. Kalo dari Stasiun Bekasi, turun di Stasiun Jatinegara. Setelah itu, bisa naik transportasi online atau angkutan umum. Selain di Rawamangun, juga tersedia di lokasi lain seperti di Tangerang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bali, Medan, dan Manado. Untuk lebih lengkap, silakan lihat di sini.


Tapi, sejak 13 September 2017 lalu, saya nggak sengaja cek e-mail di kotak spam. Nggak tahunya ada pemberitahuan dari Care Manager ZAP kalau klinik ZAP Rawamangun akan tutup dan pindah ke klinik ZAP AEON Jakarta Garden City. Klinik baru ini akan mulai beroperasi mulai 30 September 2017. Jadi, untuk readers yang pengen tau dan coba-coba treatment, terakhir sampai tanggal 29 September pukul 17.00 WIB.
 
Untungnya juga sih di Bekasi udah ada klinik ZAP di Summarecon Mall Bekasi. Wow, jadi makin deket deh dari rumah.

Semenjak mulai pindah ke klinik ZAP di Summarecon Mall Bekasi, saya makin bisa ngirit ongkos perjalanan haha. Selain itu, setelah treatment kali ke empat di klinik ZAP tersebut, proses pertumbuhan rambut melambat dan jarang. Tapi sekali lagi, tergantung hormon tubuh masing-masing ya. Mungkin bulan depan, akan rutin treatment lagi di klinik ZAP tersebut, atau bisa ke klinik ZAP Kota Kasablanka Mall Jakarta Selatan.

Well, selamat mencoba! ^^

***

Artikel ini ditulis dengan kesadaran sendiri. Jadi, nggak promosi-promosi banget hihi. 

Artikel ini juga bagian dari tips merawat diri. Lumayan banget untuk merawat tubuh, sesekali dan worth it

Wednesday, September 13

Cegah Bila Sakit Menyerang

Entah sekarang lagi musim pancaroba, atau memang tingkat polusi udara yang tinggi. Beberapa hari ini, saya dan teman saya sama-sama nggak masuk kelas karena sakit. Padahal baru beberapa minggu kuliah, terhitung masih baru mulai perkuliahan lah.

Teman saya satu ini, dia nggak nyebutin sakit apa. Dia udah izin ke dosen untuk izin nggak menghadiri kelas. Walaupun kelas tersebut lumayan killer sih mata kuliahnya. Dan saya sendiri juga udah minta izin ke dosen tersebut. Tapi izin dua hari karena memang nggak bisa terpapar udara luar yang bercampur debu, panas, berkeringat.



Well, ternyata dokter pun bersabda. Awalnya, dipancing pertanyaan begini.

“Kamu kuliah naik ojek online atau bawa sendiri?”
“Saya bawa sendiri, dok.”
“Sering pake masker nggak?”
“Sering banget dok. Biasanya pake.”
“Soalnya kalau batuk karena makanan berminyak, amandelnya bengkak. Tapi ini nggak bengkak. Pas saya periksa, bagian dinding dekat amandelnya yang merah.”
“Oh jadi bukan karena makanan berminyak ya?”
“Bukan, karena polusi udara. Jadi sering-sering pake masker aja.”

Setelah tau saya sakit karena polusi udara, jadi bergidik ngebayangin gimana kondisi paru-paru beberapa tahun ini, apalagi pengendara motor. Memakai masker setidaknya udah mengurangi masuknya debu, asap, dan racun yang beterbangan dimana-mana. Tapi bukan mengisolasi diri tanpa keluar rumah juga sih.

“Sama jangan terlalu kecapekan ya mbak.”

Oh iya, itu juga. Kecapekan saat batuk dan pilek yang disertai radang ini, malah akan memperburuk kekebalan tubuh. Istirahat sangat dianjurkan. Untuk tugas atau kerjaan yang belum kelar, mungkin bisa dicicil sedikit-sedikit supaya nggak meledak jadi deadline.

***

Rasanya sakit, satu sisi seneng karena nggak masuk kuliah atau kerja, terhindar dari stres mata kuliah atau kerjaan “killer”. Tapi, menyesal juga karena kehilangan momen berharga yang terus bikin berani menghadapi masalah setiap hari, setiap saat.

Menjaga kesehatan itu perlu banget. Ujaran “jagalah kesehatan” benar-benar manjur pengaruhnya ketika sakit menyerang. 

Tuesday, September 12

Hai Readers, Gunakan Waktu Luang untuk Menghindari Stres


Waktu luang dalam rutinitas sehari-hari sangat diperlukan. Dari hari Senin sampai Jum’at, pasti kerjaan menumpuk, tugas nggak berhenti, deadline sampai laper, sampai rela nggak tidur untuk menyelesaikan itu semua. Akhirnya, stres kambuh dan membuat mood semakin buruk. Menjadi cepat marah, bete, ngeluh, bahkan klakson kendaraan pribadi dibunyikan sekencang-kencangnya sebagai wadah pelampiasan.

Wah, nggak gitu juga sih.

Di satu sisi, memang enak sih memiliki waktu luang. Bisa bersantai, merenung, bermain, atau melakukan hal-hal relaks tanpa keberatan tiap hari. Tapi tetep aja, perlu jeda di antara kegiatan-kegiatan itu. Meskipun mereka akan selalu membentuk sebuah rutinitas, suatu saat mereka akan menjadi surprise di tengah kejenuhan.

Untuk yang sibuk banget setiap hari, kalo ada libur mendadak pasti rasanya seneng banget. Sebaliknya, kalau yang santai banget, sampai nyantainya itu bikin mager, kalo ada kerjaan mendadak datang pasti seneng banget (you know what I mean). Surpise inilah yang membuat orang berbeda-beda meresponnya.

***

Salah satu yang membuat bahagia bagi saya, pembaca seumuran saya, mahasiswa, atau pelajar penjuru negeri ini adala libur nggak sengaja. Misalnya, dosen pergi ke suatu tempat, entah ada acara, atau bimbingan sama profesor, atau keluarga beliau sedang sakit. Misalnya lagi nih, guru ada rapat mendadak dengan kepala sekolah. Woah, pasti seneng banget.

Tapi, yang libur-libur mendadak ini bakal bikin bosen. Satu hal lagi, kadang-kadang suka mempertanyakan kehadiran mereka di sekolah atau kampus.

“Ngapain ke sekolah kalo ga ada pelajaran?”
“Kan ada rapat?”
“Ya nongkrong dong. Curhat kek, tanding futsal, atau apa gitu.”

Atau...

“Eh ga ada dosen! Kelas diliburin!”
“Ah masa?”
“Serius” jeda seseorang. “Tapi dikasih tugas. Dikumpulin via e-mail. Satu minggu lagi presentasi plus tes.”
“Gila helow. Mati aja di kelas. Ga usah masuk deh. Eh absen masih banyak banget. Eh pas gue liat SAP*, syarat ikut UAS itu harus hadir 80% di kelas.”

Ya beda dong kalo libur mendadak di sekolah dengan kuliah :3

Waktu luang yang dewa dan mukjizat dari surga ini, kelak akan berbuah petaka. Waktu kosong ini dipake libur. Enak sih, bisa nunda tugas untuk mengerjakan hal-hal di luar yang kita wajib kerjakan. Entah itu menyelesaikan episode curhat, rapat-rapat, mengurus startup, dan sebagainya.

Di sekolah, belajar mandiri adalah kesadaran tidak sadar yang dilakukan bersama. Diajak dulu, baru belajar mandiri. Tapi kalo di kuliah, belajar mandiri (sebenernya sih sama temen kelompok belajarnya) ini, merupakan tantangan besar dalam memahami sesuatu. Kalo misalnya satu kelompok belajar nggak paham, bisa repot dan bubar. Minimal sotoy dikit yang disertai riset yang dipercaya. Salah di kelas, bisa dipandu. Tetap butuh dosen atau guru, sekaligus menambah keintiman.

Meskipun beberapa guru dan mayoritas dosen menekankan untuk belajar dan cari tahu sendiri, diskusi hidup di kelas tetap dibutuhkan untuk meluruskan pemahaman sementara. Tanpa mereka, waktu senggang di sekolah atau kampus akan meledak menjadi deadline atau.... tugas mengumpulkan topik skripsi (no!).

Dengan menggunakan waktu senggang / luang / kosong, dipastikan rasa bosan akan menghilang sedikit demi sedikit. Asal, dilakukan dengan rasa nikmat mendapatkan pendidikan yang tidak dapat didustakan. Tetap semangat!

***

Kiat mengisi waktu luang. Silakan mencoba.

- Menyicil tugas untuk menghindari deadline.
- Membaca buku untuk merelaksasi pikiran.
- Berolahraga ringan selama 5, 10, atau 15 menit.
- Jogging di sore hari. Tidak perlu lama-lama agar badan tidak kaget karena jarang berolahraga.
- Tidur sejenak. Bisa dengan mode power nap atau tidur beberapa menit untuk memulihkan kesegaran tubuh.
- Melihat tanaman berdaun hijau untuk mengurangi ketegangan otot mata.
- Mencari kesempatan dengan berselancar di internet. Misalnya info lomba startup, membuat website, belajar hal baru di kursus online, dan sebagainya.

Tentu ada banyak kiat-kita mengisi waktu luang, baik di waktu sibuk maupun waktu mager. Karena dengan memanfaatkan waktu, kegiatan sehari penuh yang dilakukan akan terasa bermanfaat bagi diri sendiri.


Catatan:
- SAP adalah Satuan Acara Perkuliahan. Bisa disebut silabus perkuliahan. Dalam SAP, biasanya tertera deskripsi mata kuliah yang disertai dengan aturan perkuliahan. Misalnya, syarat mengikuti UAS adalah mengikuti perkuliahan dengan maksimal absen tiga kali. 

Thursday, September 7

Perempuan dan Ilmu

Perempuan yang berilmu memiliki dua kemungkinan.
Pertama, ia bersyukur bahwa pendidikan adalah nikmat terbesar untuk memahami ciptaan Tuhan beserta dinamikanya.
Kedua, ia malah angkuh dengan ilmu yang dimiliki. Dan, mencari pembenaran-pembenaran semu untuk memuaskan benaknya.
----

Awalnya, saya tidak sengaja menemukan suatu pos artikel di beranda akun LINE. Artikel ini bercerita tentang komentar dan kritik tajam dari perempuan terhadap orang-orang yang mendiskreditkan perempuan berpendidikan tinggi.
Sepertinya terpotong. Mungkin tampilan di LINE PC terdapat kesalahan sistem.



Orang-orang tersebut menganggap bahwa perempuan berpendidikan tinggi dikhawatirkan akan meninggalkan keluarga (tidak bisa mengurus anak, sering keluar rumah dan bercampur baur). Maka dari itu, orang-orang tersebut menginginkan bahwa perempuan-- yang akan menjadi istri atau ibu-- "harus" tinggal di rumah, sabar, telaten, "patuh", dan mau berjuang dari bawah. 

Setelah membaca sekilas artikel tersebut, saya pusing. Kemudian membacanya lagi, apakah ada sesat pikir, atau justifikasi tanpa membaca lebih banyak lagi? Mungkin ada. Setelah saya renungkan, saya sebetulnya agak terganggu dengan tulisan semacam ini. Bukan bermaksud ini dan itu, tetapi, perempuan dan laki-laki pada prinsipnya berhak mendapatkan pendidikan. Entah itu untuk kemajuan negara, mendukung bonus demografi, dan sebagainya. Agak aneh bila masih ada saja orang yang mempermasalahkan tingginya tingkat pendidikan. Karena pendidikan saat ini tidak hanya diakses dari sekolah saja, tapi bisa dari kursus online kredibel seperti MIT Open Course Ware, EdX, Coursera, Udacity, IndonesiaX, dan sebagainya

Tapi konteksnya berbeda. Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah bentuk kecemburuan sosial dalam menjalani hubungan asmara. Ah, basi sih. Jika pada prinsipnya pendidikan adalah hak segala bangsa, mengapa harus diperdebatkan, bahkan dikait-kaitkan dengan ideologi tertentu? Jika pendidikan membuat seseorang maju, berpikiran terbuka atau berkontribusi pada negeri, kenapa sih  harus ada salah satu yang gengsi? 

Cerita lama semacam ini seharusnya diabaikan saja, daripada diperdebatkan dan akan makin memperumit masalah. Karena, begitu banyak tokoh-tokoh perempuan yang melakukan kontribusi di masyarakat dan dunia. Perempuan ini akan menginspirasi anak-anaknya, ibunya, neneknya, tantenya, bahkan sahabat-sahabatnya. Perempuan ini memberi manfaat besar dan luas. 

Mungkin saya, dia, dan kita kurang membaca. Mungkin, masih ada yang berpikiran sempit dan ingin kekuasaan tertentu.

Salah satu sebab artikel di beranda LINE itulah yang membuat saya gemas. Memang sih, perempuan pada dasarnya akan menjadi ibu dan akan berkolaborasi bersama pasangannya. 
Tetapi, tidak semua pasangan mau diajak berkolaborasi dalam skala besar dan expert kan?

Saya pun teringat oleh kutipan Ibu Michelle Obama di bawah ini. 

Adanya postingan semacam ini di beranda LINE saya ternyata tidak hanya sekali dua kali. Beberapa orang yang membahas masalah ini cukup keras koarnya. Cukup membuat urat leher tegang, karena ada beberapa hal yang harus diarahkan lagi, atau bahasa kasarnya, banyak baca lagi. Namun, karena saya juga melihat betapa banyaknya komentar postingan tersebut, saya mengamati saja.

Kalau diingat-ingat sih, beberapa waktu terakhir ini sedang "panas" isu pendidikan untuk perempuan. Satu hal yang saya ingat adalah, bila sudah mengedukasi perempuan, maka negara akan maju. Dan partisipasi perempuan dalam pendidikan betul-betul dibutuhkan untuk mendidik generasi berikutnya. Seperti biasa, mengingatkan generasi berikutnya tentang suatu hal luar biasa di masa depan. Tentu, para perempuan ini butuh ilmu yang valid, kredibel, dan objektif. Bukan sekedar gosip. 

Jika mas dan mbak pembaca menemukan artikel di beranda media sosial, amati saja. Lalu renungkan, sudah sejauh apa sih pengetahuan kita terhadap sesuatu? Apakah itu membuat merasa lebih, atau merasa lain-lain (ya apa gitu)? Mengomentarinya pun sebenarnya nggak bakal menyelesaikan masalah, mengingat ada kata-kata tertentu yang memancing sumbu pendek. 

---

Kalau perempuan (dan laki-laki) bersyukur pada ilmu yang dimilikinya, mungkin dunia ini jadi bijak, kali ya. 

Tuesday, September 5

Menulis dan Uang

Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan-tulisan blog tentang menulis dan uang. Apa hubungan keduanya?

Awalnya, saya membaca dari blog Pak Anton Ardyanto (tulizmaniac.blogspot.co.id). Blog ini bercerita tentang “sindiran” menulis karena uang. Kalau memang menulis (ngeblog) karena uang, jadilah internet marketer. Meskipun tidak salah juga. Namun effort yang dibutuhkan lebih besar untuk mengatasi kebuntuan tersedianya konten unik dan kreatif.

Di blog lain, saya membaca tulisan dari blog mbak Inuel (jombloku.com). Blog mbak Inuel berfokus pada blog pribadi, konten bersifat cerita-cerita pribadi, tetapi bisa menghasilkan uang. Mbak Inuel yang bilang sendiri loh. Mbak Inuel membocorkan rahasianya. Dia bilang, terus menulis dengan rasa passionate tanpa terlalu memikirkan uang. Karena, tulisan tersebut akan murni keluar sendirinya dan enjoy. Uang didapat dari klien yang meminta mbak Inuel menulis. Memang sih, tetap belajar monetisasi dan optimasi blog. Tapi kalau terasa mumet, terus latihan lagi.

Dua pendapat kontras ini membuat saya berpikir lagi. Apa sih tujuan ngeblog? Mengapa mendaftarkan blog pribadi ke AdSense? Bagaimana kalau penghasilan AdSense malah nol atau tidak seberapa? Semakin dipikir rupanya semakin pusing. Jadinya, saya, atau mungkin mas dan mbak pembaca yang ingin ngeblog, berpikir gajinya saja. Tetapi sekali lagi, tidak salah juga sih.

Sudah banyak tips-tips menaikkan pengunjung blog supaya bisa menambah gaji AdSense. Sudah banyak tips-tips memiliki backlink, bahkan backlink dari domain .edu dari forum-forum. Sudah beberapa kali mas atau mbak pembaca mendaftarkan blog ke mesin pencari non-Google. Sebut saja Y, atau sebentar lagi BDU. Pasti sudah banyak yang mencoba, atau setengah mencoba. Meskipun resiko privasi terhadap tulisan yang dihasilkan selalu ada.

Menulis dan uang juga memiliki resiko yang harus ditanggung sendiri. Menulis juga butuh kreatifitas supaya tetap hidup, tetapi ya bukan salin-tempel juga. Menulis juga harus tekun, tapi bukan rajin update pos sih. Rasa tulisan pasti beda, kalau dibaca rasanya seperti membaca tulisan robot.

----

Blog saya diterima Google untuk AdSense. Awalnya seneng banget. Tapi ternyata, hello, usahanya gede banget supaya bisa digaji kayak blog-blog lain. 


Terus masih gak percaya gitu wkwk. 


Sunday, September 3

Tips foto malam di Maze Market

Bisa disimpulkan bahwa mengunjungi Maze Market di malam hari ada beberapa kiat:
- Usahakan berangkat lebih sore untuk menghindari macet dan kereta padat penumpang. Baik ketika sudah sampai di Tangerang menggunakan sepeda portable, jalan kaki, naik transportasi online, atau kendaraan umum.

- Pastikan ketika sudah terjebak di dalam kereta padat penumpang, cek barang di tas. Hati-hati dengan barang yang diletakkan di kantung luar tas, seperti botol minum, masker, kartu kereta, kartu tanda parkir di penitipan motor, dan sebagainya.

- Membawa persediaan camilan, kalau-kalau perut keroncongan atau asam lambung naik tiba-tiba. Juga, mengurangi rasa lapar dan kantuk ketika perjalanan.

- Ingat waktu sholat bagi pejalan Muslim. Penting banget nih. Agak nyesel sebenarnya kalau meninggalkan sholat begitu saja hanya karena dalih perjalanan jauh. Padahal ada syarat dan ketentuan yang berlaku agar bisa melakukan jama’ atau qashar.

- Perhitungan waktu. Jelas, bagi mas dan mbak pembaca pasti mengerti akan hal ini. Terlambat sedikit, semua rencana berubah.

Kiat-kiat berfoto di Maze Market:
- Praktis memotret dengan mode auto tanpa flash
Sebenarnya agak beresiko noise sih. Tapi kalau mau coba manual (atur ISO, bukaan, dan rana sendiri) bisa mengurangi hal tersebut. Sekali lagi, mode manual tersebut hanya bisa dilakukan jika sudah biasa dan memiliki sense dalam memotret malam.



- Praktis memotret dengan kamera gawai pintar. 
Terlebih, menggunakan kamera iPhone 5s, iPhone 7, atau iPhone 7s, karena hasil warna foto yang mendekati objek nyata dan noise yang tidak begitu kentara. Selain itu, foto menggunakan kamera gawai pintar bisa diatur sesuai keinginan dan konsep.

 (a)

Foto-foto menggunakan kamera iPhone 5s. Foto (a) sudah mengalami pengeditan kontras. 

- Atur waktu potret objek untuk menghemat waktu. Misalnya, waktu untuk memotret lampion adalah 5 menit, memotret lampion naga 9 menit, dan sebagainya. Jadi, seluruh objek dalam satu tempat yang luas di Maze Market bisa dipotret semua. Nggak stuck di satu objek aja. 

- Berikan tantangan
Tantangan di sini berhubungan dengan pengaturan waktu potret. Misal, dalam waktu 1 jam harus dapet banyak foto. Wah, berarti harus benar-benar fokus nyari objek foto supaya sepadan dengan energi yang dikeluarkan.Efeknya adalah merasa puas dengan hasil foto dan nggak menyesal mengunjungi tempat tersebut, meskipun badan bakal terasa capek dan pegel banget. 

Masih banyak cara lain yang bisa dicoba. Cara-cara di atas ini merupakan salah satu cara yang mudah untuk dilakukan. 

Selamat mencoba! 

---

Kunjungi situs portofolio di 
 Nadia K. Putri


Nadia K. Putri

Perjalanan Malam ke Maze Market

Tiga hari lalu, sahabat saya, Cordova, bercerita bahwa ada tempat foto yang seru dan objeknya layak dimasukan ke portofolio. Awalnya, dia menonton vlog Raditya Dika tentang Maze Market di Jalan MH Thamrin, Cikokol Tangerang. Tempat ini dipenuhi dengan lampion-lampion ala-ala negeri seribu bambu gitu. Ketika sahabat saya menonton vlog ini, dia terkagum-kagum sampai rasanya pengen banget ke tempat itu. Dan promosi kalo mengunjungi tempat tersebut nggak bakal nyesel. Beneran. Akhirnya, dia mengajak saya pergi ke tempat itu.



Sebagai sesama pekerja serabutan fotografi (untuk stok foto), ternyata benar tempat ini keren banget banget! Nggak disangka, perjalanan ke tempat ini pun luar biasa dan cukup terbayar dengan pemandangan yang disuguhkan. Tapi, kita mulai dari rute perjalanan dulu deh.

Rute kami diawali dari titik poin Stasiun Pondok Cina pukul 5 sore. Ya iya dong, berangkat dari kosan  ini harus selalu membiasakan diri hemat bensin: cari jalur ke stasiun terdekat. Saking iritnya, kami yakin kalo paling deket itu ke Stasiun Pondok Cina. Padahal Stasiun UI juga bisa loh. 

Inilah alasannya:
- Menuju Stasiun Pondok Cina dari dalam komplek UI, hanya menyeberang rel. Kemudian parkir di tempat penitipan sepeda motor. Alternatlif lain, bisa parkir di dalam area parkir stasiun Pondok Cina.
- Tidak putar jauh pake banget via Jalan Margonda. Nggak disangka ketika lewat sana, bisa kena macet. Bahaya sih, apalagi kalo berangkat sore.

Oke, setelah sampai di Stasiun Pondok Cina kami naik kereta arah Jakarta Kota. Tapi, nanti transit di Stasiun Manggarai untuk ganti kereta ke arah Stasiun Sudirman, Tanah Abang, atau Duri (Bisa pilih salah satu. Biasanya kereta arah ini satu paket dengan jalurnya) yang ada di jalur 5. Sampai di Stasiun Manggarai, kami turun dan pindah ke jalur 5.

Ketika kereta Tanah Abang-Duri ini sampai di jalur 5, oh man, gila, seperti biasa ya jam-jam sesak-padat-zombie-brutal, yaitu jam 6.15 malam. Kereta ini penuh. Kami berdua masuk ke gerbong campur. Cordova awalnya masuk duluan dan saya bingung kalo masuk masih muat atau nggak (ya muat sih, tapi agak gimana gitu kan). Saya pun masuk dengan memaksakan diri. Ketika melangkah masuk, ada sesuatu yang jatuh, entah hape orang atau benda warna hitam yang jatuh ke bawah rel. Mungkin jatuh di selokannya. Saya masuk dengan rasa yang bikin bad mood. Kalo bukan karena kerja untuk stok foto, gue ga bakal gini. Oke well, kami menikmati perjalanan di jam-jam padat penumpang tersebut.

Kami baru berasa lega plong ketika sampai di Stasiun Duri. Itu lumayan banget buat napas dan AC jadi dingin. Nah, di stasiun ini kami turun dan berganti kereta di jalur 3 ke arah Tangerang. Durasi tunggu kereta ini berangkat sekitar... ya... 10 menitan lah. Masih di gerbong campur, saya melihat wajah-wajah yang asing. Maklum, pergi ke daerah yang baru banget dikunjungi, malam pula. Terlihat wajah-wajah lelah sehabis pulang kerja. Wajah-wajah yang mirip dengan sahabat saya, maksud saya, keturunan Cina, yang juga ternyata sering saya temui di stasiun sebelumnya. Bukan bermaksud gimana, ternyata masuk ke daerah yang agak ke barat, seperti Jakarta Kota, Tanah Abang, Duri, dan seterusnya banyak ditemukan wajah-wajah yang mirip dengan sahabat saya ini. Dan saya teringat saat membaca artikel-artikel sejarah Cina, ternyata daerah-daerah inilah yang dahulu menjadi pusat peninggalan kebudayaan dan persebaran penduduk keturunan Cina. Malam yang cukup menarik, karena wajah-wajah inilah juga ikut membaur seiring dengan bertambahnya umur negara kita, bahkan lebih.

Oke lanjut.

Naik kereta ke Stasiun Tangerang sebenarnya agak creepy. Mengapa? Pertama, mungkin karena malam hari dan takut nggak keburu sampai di lokasi. Kedua, karena jarak antar stasiun memakan waktu 3 menit lebih. Ah, mungkin karena baru pertama ke Tangerang via kereta kali ya. Tapi bener loh, coba deh iseng ke Tangerang. Saya sangat menyarankan kok. 

Waktu tempuh dari Stasiun Duri ke Tangerang sekitar setengah jam lebih. Setelah sampai di Stasiun Tangerang, yang pertama banget dicari adalah warung nasi. Kami butuh makan malam. Jelas, ini energi dasar supaya nggak pusing saat hunting.

Dari Stasiun Tangerang ke Maze Market, ada beberapa alternatif cara tempuh. Kami menggunakan aplikasi transportasi online dengan pertimbangan jarak tempuh sudah dihitung otomatis beserta ongkos, sehingga dapat menghemat biaya perjalanan. Jarak tempuh adalah 6,7 km. Bisa juga sih jalan kaki, naik sepeda portable, dan transportasi lainnya. Tapi kalo untuk di malam hari, lebih baik berangkat 2-3 jam sebelum waktu buka Maze Market (jam 19.00 sudah buka) untuk menghindari macet, kereta padat, dan sebagainya.

Sampailah kami di Maze Market. Maze Market berada di Jl MH Thamrin Cikokol Tangerang. Maze Market ini awalnya semacam food court, berdasarkan hasil browsing di Google. Di akun Instagram Maze Market, food court ini disulap menjadi lahan untuk Festival Lampion Indonesia (Indonesia Lantern Festival). Festival ini dimulai dari 18 Agustus 2017 yang dimeriahkan oleh penduduk setempat yang disertai dengan acara-acara hiburan dan artis ibukota.

Di festival ini, saya mengamati bahwa ada mata acara tertentu yang mengenalkan kebudayaan-kebudayaan Cina. Seperti aksi tukar wajah (face change, menggunakan topeng yang disertai dengan aksi tarian maupun jurus-jurus beladiri), dan lampion yang menampilkan pesona Asia Tengah (Btw, sepengetahuan saya Cina juga melakukan sebuah kerja sama dengan negara-negara di Asia Tengah).


Selain itu, terdapat unsur warna merah yang menjadi identitas budaya negara Cina



Kumpulan lampion yang hampir membentuk patung-patung

Simbol ayam

Simbol panjang umur

Sampai simbol keberuntungan dalam karakter Han   福 (dibaca fu). 

Di malam hari, semua lampion terlihat indah dan megah, saya sangat menyarankan mengunjungi tempat ini di malam hari. 

Hampir 1 jam berkeliling, kami kehausan. Saya cepat banget haus. Pas mau ambil botol minum, eh nggak ada. Duh, mati. Saya bawa botol minum sebesar 800 ml untuk perjalanan jauh, untuk menghemat juga sih hehe. Saya rasa sih terjatuh saat di Stasiun Manggarai, tapi... Hm, ikhlasin aja deh. Biasanya kalo kehilangan botol minum begitu, nggak bakal ketemu walaupun udah melapor ke pusat informasi di Stasiun Manggarai. Meski ada yang ketemu, tapi kondisinya tidak sebagus seperti pada awalnya.

Nggak apa-apa lah, yang penting apa yang diekspektasikan sesuai, bahkan lebih. Efektif banget untuk berfoto di tempat ini. Selamat berkeliling!

---

Lanjut ke posting berikutnya.